
Bab 20
Elvan pun mengantar Elma dan bunda turun, karena Elvan gak bisa nganter pulang setidaknya Elvan mengantar sampai bunda mendapatkan taksi dan pulang dengan selamat.
" Hati-hati di jalan Bun " ujar Elvan menyalami tangan bunda nya.
" Dek ingat pesan kakak, kalau sampai kamu pulang ke rumah lama awas aja " ancam Elvan
Elma pun cuek dan mengangkat bahu nya acuh, Elvan yang geram menarik hidung adik nya tersebut sampai merah.
" Iss lepasin sakit tau " ujar Elma kesal
" Makanya itu kalau kakak nya ngomong itu dengerin bukan cuek emang enak, mampos merah tu hidung " ujar Elvan terkekeh.
" Udah sana pulang bareng bunda kakak bentar lagi juga pulang " sambil mengacak rambut Elma
Elma pun kesal dan merapikan rambutnya,Elvan terkekeh melihat tingkah laku adik nya tersebut.
Di dalam mobil Elma bingung mau ngomong apa sang bunda.
" Bun Elma mau nanya boleh ?" Tanya Elma memecahkan keheningan
" Boleh sayang mau nanya apa " ujar bunda
" Kalau memang iya Elma anak kandung bunda apa bunda gak malu punya anak seperti Elma, yah bunda tau lah Elma udah kek gini bahkan di bilang cewe separoh gila " ucap Elma sambil tersenyum masam.
" Sayang, kenapa punya pikiran seperti itu, gini yah sebanyak apapun orng berbuat salah di masa lalu kalau dirinya mau bertobat Allah akan mengampuni nya, dan jangan pernah berbuat hal seperti itu lagi, dan kalau di bilang malu, ngapain bunda harus malu malahan bunda sangat bersyukur sebab sudah di pertemukan dengan anak bunda lagi, bunda gak akan pernah tau gimana kamu bertahan hidup Seorang diri dari cobaan yang kamu alami ini " ujar bunda menjelaskan
" Jadi kamu harus bangkit jangan mengingat apa yang membuat mu sakit, dunia ini luas kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau kalau itu masih di jalan yang benar " ucap bunda lagi menasehati
Elma pun terharu mendengar ucapan bunda nya tersebut.
" Apa boleh Elma meluk bunda " ujar Elma sambil menundukkan wajah nya
" Boleh dong sayang, kamu itu anak bunda kasih sayang bunda " cup bunda mencium kening anak nya
__ADS_1
Elma pun langsung memeluk sang bunda.
Nyaman kata itulah yang Elma rasakan, lama di pelukan bunda akhirnya Elma malah tertidur pulas di pelukan bunda nya tersebut.
Sesampai nya di rumah bunda pun tak tega mau membangunkan elma,bunda pun meminta tolong kepada Dimas untuk mengendong Elma masuk.
" Mas tolongin bunda, kamu gendong Elma ke kamar nya yah biarin Elma istirahat dulu " ucap bunda sambil turun dari taxi
" Baik Bun " ujar Dimas.
Dimas pun mengendong Elma masuk ke dalam kamar nya, kamar nya ini adalah kamar yang di siapkan untuk Alice waktu kecil namun baru 2 tahun elma di cilik hilang entah kemana.
Dimas menatap adik nya dengan tatapan sayang, rindu kepada sang adik sudah pulih.
" Selamat tidur dedek " cup mengecup kening sang adik.
Dimas menyelimuti sang adik. Setelah selesai Dimas pun menghampiri bunda dan dini yang sedang duduk-duduk di ruang tamu.
" Emang dokter udah izinin Alice buat pulang ?" Tanya Dimas ke bunda nya
" Oh gitu yah Bun " ucap Dimas
Bunda pun mengangguk mengiyakan.
Hari-hari yang di lewati Elma selama di rumah keluarga baru nya cukup membuat dia nyaman.
Elma hari ini izin ke rumah lama nya sebab dia kangen ke sana awal nya Elvan gak mau mengizinkan takutnya nanti Elma malah berbuat yang enggak-enggak, tapi berkat alasan Elma yang banyak akhirnya Elvan mengizinkan Elma pergi.
" Makasih kakak " ujar Elma tersenyum tipis
Elma masih sama tetap irit bicara masih sering melamun namun bunda selalu waspada terhadap Elma, takutnya nanti Elma malah berbuat di luar kendali nya.
" Bunda gak usah khawatir Elvan yakin Alice gak akan berbuat aneh-aneh" ujar Elvan menenangkan sang bunda.
Bunda melarang Elma untuk balik lagi ke rumah itu, bunda nya cemas tapi Elvan berhasil membuat sang bunda sedikit lega.
__ADS_1
" Aku Elma bukan Alice, aku gak suka di panggil Alice " ujar Elma jutek
Elma selalu membantah ketika ada orng di rumah memanggil nya dengan nama dia sewaktu kecil.
" Ya udah ayok berangkat sama kakak biar kakak yang antar kamu ke sana " ujar Elvan menarik tangan Elma mengalihkan pembicaraan tadi mengenai nama panggilan.
Mau tak mau Elma pun harus nurut kalau engga dia akan di kurung di rumah dan gak boleh keluar lagi oleh kakak nya.
Ternyata perjalanan ke rumah Elma cukup jauh dari tempat tinggal dia sekarang. Elvan pun berdecak sebal sebab dia harus putar balik lagi setelah mengantar Elma.
Setelah Elvan mengantar Elma sampai ke rumah lama nya Elvan pun harus ke rumah sakit sebab dia ada pasien untuk hari ini, mau tak .aku Elvan harus ke rumah sakit sekarang.
Elma masuk ke dalam rumah nya sepi, itulah yang di rasakan Elma.
" Ayah, ibu Elma rindu " ujar Elma mengusap foto almarhum orang tua nya.
" Kalian pasti bahagia dia sana kan, kalian gak mau ngajak aku " hiks hiks hiks
Elma pun menangis sebab rindu dengan almarhum orang tuanya. Elma pun masuk ke dalam kamar orang tuanya, Elma harus mencari bukti apakah dia anak angkat atau engga.
Elm mencari berkas-berkas data orang tuanya Elma pun membaca nya satu persatu.
Deg,,,,
" Ja,,jadi benar aku anak angkat tapi kenapa ayah sama ibu gak bilang sama aku " Elma merasa nyeri bagian dada nya dia baru percaya kalau Elma adalah anak bunda Eva.
" Tapi kata bunda dan kakak aku hilang jadi siapa yang menculik aku atau ibu sama ayah, tali rasanya gak mungkin mereka kek gitu " pikir Elma, Elma gak mah menuduh orang tuanya yang bukan-bukan. Sebab orang tuanya tidak pernah berlaku kasar sama Elma, mereka selalu membuat elma bahagia.
Elma pun mencari sesuatu untuk meyakini dirinya di culik atau gimana.
Elma pun melihat satu kertas yang terselip seperti nya memang sengaja di sembunyikan, Elma pun mengambil kertas tersebut dan membaca nya.
" Surat adopsi " ujar Elma membacanya.
Elma pun membaca nya surat adopsi tersebut dengan perlahan.
__ADS_1
" Jadi ayah sama ibu adopsi aku dari orang tua yang namanya ibu Farah dan bapak Herman, apa mereka yah yang menculik aku terus mereka menyerahkan aku untuk di adopsi sama ayah ibuk " gumam Elma sendirian.