
" tapi ga kan Elma bilang bukan dia yang beli itu nanas, tapi Lo yang ngirimin buah itu buat dia " Dion mencoba menjelaskan apa yang di ucap oleh Elma sewaktu di rumah sakit.
" Lo mikir dong kapan coba gua sempat beli-beli begituan lagian gua juga tau kalau ibu hamil gak boleh makan itu " ujar Arga
" jadi kalau bukan Lo, bukan juga Elma berarti ada orang yang berniat jahat sama istri Lo " ucap Dion
tapi Arga malah tetap menyalahkan Elma
" emang wanita itu yang gak suka sama gua dari awal, Lo tau kan gimana dia sama gua, dia gak pernah nganggap gua selama ini, mungkin dia mau menjauh sama gua makanya dia buat cara kek gitu " ucap Arga
Dion merasa sangat janggal, kalau bukan Arga atau Elma terus siapa yang melakukan ini, apa mami Alda, sebab mami Alda awal nya gak suka sama wanita pilihan Arga, Dion bermonolog sendirian.
" nah bener tu nak apa yang dibilang sama Dion kalau memang bukan kamu atau Elma pasti ada orang yang gak suka sama kalian terus dia buat rencana seperti itu " ujar mami Alda mencoba menenangkan Arga.
" nah lah, aku gak tau kek mana Sekarang yang intinya aku gak akan pulang ke apartemen dulu aku bakalan tinggal disini aku males liat muka dia, kalau aku ketemu dia bawaan pengen marah aja " ujar Arga.
Arga pun meninggalkan Dion dan mami nya berdua.
Arga masuk ke kamar nya, merebahkan tubuh nya di kasur pikirannya menerawang jauh dan masih kepikiran dengan Elma, Arga masih tidak menyangka kalau Elma berbuat seperti itu.
" mi Dion pamit ke kantor lagi yah, gak enak tadi klien di tinggalin begitu aja " ujar Dion pamit ke mami Alda
" Iyah nak hati-hati kamu yah " ucap mami.
Elma pun masih sendirian di rumah sakit, sebenarnya Elvan pengen dekat adik nya tapi karena Elma berbuat salah Elvan merasa kecewa dan dia menahan hati supaya tidak ke ruangan adik nya.
Elma pun menangis seorang diri di dalam ruangannya, entah kenapa rasa takut nya yang dulu datang lagi.
" bukan aku hiks hiks hiks, bukan aku yang lakuin itu please percaya sama aku, bukan aku yang lakuin itu hiks hiks " gumam Elma terus-menerus
__ADS_1
Elma di hantui rasa bersalah nya dan juga orang-orang menuduh nya.
suster yang datang mengantar makan siang untuk Elma. susternya kaget melihat Elma meringkuk ketakutan di bawah balik selimut, tubuh nya gemetaran.
" buk anda gak papa, apa yang terjadi ?" tanya suster tersebut.
" bukan saya, bukan saya please percaya sama saya, saya gak mungkin membunuh anak saya hiks hiks hiks " Elma terus-menerus menangis seperti itu, suster yang bingung akhirnya memanggil dokter dinda untuk di periksa lebih lanjut.
setibanya dokter Dinda di ruangan Elma, dokter Dinda langsung melihat keadaan Elma
" Elma ini mbak hey, kamu kenapa kok jadi kek gini " ucap dokter Dinda mencoba membujuk
namun Elma malah tambah takut, Dinda pun khawatir nanti Elma berbuat yang enggak-enggak sebab dia mempunyai riwayat depresi.
Dinda pun menyuntikkan obat penenang ke Elma supaya Elma bisa tenang.
" baik dok " ucap pasien melakukan apa yang di suruh Dinda tadi
Dinda pun segera keluar dia berniat mencari Elvan sebab Dinda rasa sakit Elma datang lagi.dinda mencari-cari Elvan dan bertanya ke semua orang yang ada tapi gak ada yang melihat Elvan.
Dinda tak sengaja me taman rumah sakit ternyata Elvan disana sedang duduk-duduk, entah apa yang sedang di pikir kan nya.
" hey, boleh duduk ?" tanya dokter Dinda
" eh dok, iya silahkan " ucap Elvan bergeser sedikit memberikan tempat duduk untuk dokternya Dinda.
" aku mau ngomong sesuatu sama kamu tentang Elma " ujar Dinda ketika dia sudah duduk di samping Elvan
" kenapa lagi dengan dia ?" tanya Elvan dengan nada tidak suka mungkin masih kecewa.
__ADS_1
" kau menurut aku , seperti nya memang bukan Elma deh yang punya niatan kek gitu " ujar dokter Dinda
" gak punya gimana maksud kamu udah jelas-jelas dia yang makan nanas itu, dan lebih parahnya lagi dini ngomong tadi ketika mereka mau nikah kemaren Elma udah meminum pel tapi gak ada reaksi apa-apa " ucap Elvan dengan sedikit meninggi kan nada suaranya.
" Iyah awal nya memang iya dia melakukan itu tapi kalau untuk usia kehamilan nya yang sekarang menurut aku Elma gak akan tega melakukan itu, apalagi Elma mengandung anak kembar menurut aku Elma gak akan tega " ujar dokter Dinda menjelaskan apa yang dia ketahui
" kamu gak tau gimana Elma dulu makanya kamu bilang kek gitu, aku mohon jangan terlalu ikut campur dalam masalah ini, kalau semua orang marah sama dia itu sudah resiko nya " ucap elvan
" yah kalau memang dia yang melakukan itu gak mungkin Sekarang Elma ketakutan terus mengingau dia terus ngomong, bukan aku please percaya sama aku, aku gak mungkin mau membunuh anak aku sendiri, kek gitu dia ngomong, yang perlu kamu tau tadi suster antar makanan ke Elma Elma ketakutan, dia menangis dan terus ngomong kalau bukan dia yang lakuin itu, makanya aku ambil jalan pintas aku kasih dia obat penenang supaya dia tenang, aku cuma takut depresi nya balik lagi apa kamu gak ingat adik kamu punya riwayat " dokter Dinda lun mengingatkan bagaimana sang adik
" apa Elma nangis-nangis Seperti itu ?" tanya Elvan memastikan .
dokternya Dinda pun mengangguk mengiyakan.
Elvan pun bangkit dan bergegas menuju ke ruangan Elma.
KLEK ,,,
Arga melihat Elma sedang tertidur tangannya sudah di ikat sebelah kiri sebab sebelah tangannya ada infus. seketika Arga teringat dengan adik nya beberapa waktu yang lalu .
Arga mendekati sang adik dan segera memeluknya.
" dek hey maafin kakak , kakak emosi liat kamu kek gitu, kamu jangan sakit yah kakak gak mau kamu sakit kek dulu lagi, maafin kakak " ujar Elvan memeluk adik nya .
Elma yang di kasih obat penenang tidak mendengarkan ucapan sang kakak.
" Van, biarin Elma tidur dulu aku yakin pikiran nya masih kacau, nanti kalau Elma sudah bangun kamu tanya baik-baik apa tujuannya memakan buah tadi, untuk sekarang biarin Elma istirahat dulu " ujar Dinda yang menyusul Elvan tadi.
Elvan pun terduduk lemas melihat sang adik, tangan dan kaki nya sudah di ikat. Dinda yang gak tega melihat Elvan seperti itu membantunya berdiri dan membawanya duduk ke sofa.
__ADS_1