
Bab 27
Rama mengerutkan keningnya apa maksud dari ucapan Dion pikir nya
" Maksud Lo apa gak ngerti gua " ujar Rama bingung.
" Itu Arga sama mami lagi akur, lagi peluk-pelukan tuh di dalam " ucap Dion.
" Serius Lo mami sama Arga udah baikan " ujar Rama tak percaya
" Iyah kak gua serius, tadi Arga minta restu sama mami eh mami langsung iyain aja yah jadilah adegan drama yang mengandung bawang, karena gua gak mau kena perih nya bawang makanya gua keluar " ujar Dion sambil bercanda.
Dion sebenarnya sengaja keluar sebab dia sesak melihat orang tua yang akur sama anak nya.
Rama pun langsung masuk ke rumah nya dan melihat apakah mereka beneran lagi akur atau engga.tapi ucapan Dion benar ternyata Arga dan mami sedang akur dan mereka tengah berpelukan.
" Ehem " ujar Rama mengganggu momen mereka berdua .
" Kok jadi sedih sih kan ini hari bahagia Lo ga ngapain sedih-sedih " ucap Rama
Arga pun langsung menghapus air matanya, tak mau terlihat cengeng oleh sang kakak.
" Dah yok siap-siap, Lo udah siapin mahar nya kan ?" Tanya Rama menanyakan apakah sudah di siapin atau belum
" Udah kok Lo tenang aja itu udah siap semua " ujar Arga senyum sumringah.
Sebelum berangkat ke kediaman mempelai wanitanya Arga singgah dulu ke makam papi nya untuk meminta restu atas pernikahan nya.
setiba nya di pemakaman tersebut Arga tak kuasa menahan tangis kerinduan kepada sang papi, begitu juga dengan Alda setelah kepergian suami nya Alda tak pernah berkunjung ke sini lagi sebab selalu di larang oleh Arga, Rama yang melihat adegan tersebut cuma bisa menguatkan mami beserta adik nya tersebut.
Dion pun ikut terharu melihat keluarga temannya telah akur kembali.
" mi, ga udah yok kita berangkat bentar lagi secara nya udah mau mulai ini, Lo gak mau kan nanti telah di acara penting Lo " ujar Rama mengajak sang adik segera beranjak dari makam papi nya .
" Iyah nak, yok kita berangkat " ucap mami Alda
Arga pun menurut saja apa yang di ucapan oleh kakak dan mami nya.
__ADS_1
setelah sampai di kediaman Elvan, Arga merasa deg-degan, Rama yang melihat hal itu mencoba menguatkan sang adik
" gua juga waktu mau ijab qobul kek Lo juga nervous, keringatan, detak jantung kek lari di kerja anjin* gua udah rasain, gua minta sama Lo Lo harus fokus biar semuanya nanti berjalan dengan lancar " ucap Rama memberi arahan kepada sang adik.
Arga pun merasakan hal seperti yang di sebutkan oleh sang kakak tadi.
Arga mencoba menarik nafas lalu membuang nya kembali seperti itu terus.
Elma yang sedang di make up di kagetkan dengan kedatangan sang kakak
" wihh adek kakak cantik bener " ujar Elvan ketika melihat sang adik.
Elma pun berusaha tersenyum untuk menutupi kegundahan hati nya.
" apa sih kak " kesal Elma namun dia tersenyum.
" jadi kalau kamu nikah tinggal kakak sendiri dong yang masih jomblo " ucap Elvan malah menjelaskan status jomblonya itu.
" kakak kenapa belom nikah, umur kakak udah 30 tahun, kakak juga sudah mapan dan mampu ?" tanya Elma penasaran kenapa sang kakak belum menikah sampai saat sekarang ini.
" kamu mau tau alasan kakak belum nikah sampai saat sekarang ini " ujar Elvan membalikkan pertanyaan Elma tadi dan di angguki oleh Elma
" kenapa Elma kak, ini hidung Elma jangan di gituin sakit tau " kesal Elma memukul tangan kakak nya.
"iyah dulu kakak pernah janji sama diri kakak sendiri kalau kakak harus menemukan kamu tapi kalau tidak di temukan sampai umur kakak 35 tahun baru deh kakak nikah, tapi Allah sayang sama kakak di umur kakak 30 tahun ini ternyata kita ketemu " ucap Elvan tersenyum
" nak kan aku udah ketemu ya udah kakak nikah lah lagi, ngapain lama-lama?" ujar Elma menyuruh kakak nya untuk menikah
" kamu tenang aja sayang, kalau kamu sudah bahagia kakak bisa mencari kebahagiaan kakak sendiri yang penting kamu Sekarang dulu bahagia nya " Elvan menggenggam tangan sang adik.
Elma yang mendengar pengorbanan kakak nya tak kuasa menahan tangis nya, lalu Elma memeluk sang kakak.
" kak makasih yah, aku sayang kakak " ujar Elma menangis di pelukan kakak nya.
" Iyah sayang sama-sama, apapun itu pasti kakak lakukan untuk adik kakak ini " cup
Elvan mencium kening sang adik
__ADS_1
" udah jangan nangis lagi, kamu tunggu di dalam ini yah sampai di panggil gak boleh ke mana-mana, ingat pesan kakak " ucap Elvan
Elma pun menuruti apa yang di ucapan oleh kakak nya tersebut.setelah kepergian Elvan, Elma pun mengambil sesuatu di dalam laci dan segera membawanya ke kamar mandi gak lupa juga Elma membawa air minum.
Elvan yang baru turun dan melihat sudah banyak tamu yang datang Elvan pun tersenyum.
" woi bro ketemu lagi kita " ujar Dion tersenyum sumringah
" Yoi bro, btw cewek Lo mana ya kali Lo datang nya sendirian doang ?" tanya Elvan ke Dion
" Lo tau gua kan Van " ucap Dion sambil tersenyum
" ya ya ya gua paham, Arga mana ?" tanya Elvan lagi sebab dia tidak melihat Arga datang bersama dengan Dion
" dia laki hafalin bacaan untuk ijab nanti, Lo gak liat kan gimana gemetaran nya seorang Arga hahahaha " tawa Dion pecah ketika mengingat Arga yang menghafal bacaan untuk ijab qobul tersebut.
" Lo ngejek, emang Lo gak pengen ngerasain kek gitu juga " ucap Elvan sontak membuat Dion terdiam
" cih Lo ngingetin gua, emang nya Lo udah pernah nyoba juga, belom kan,. ya udah Lo diem aja kita sama-sama belum pernah " kekeh Dion
tak lama dari itu acara pun di mulai tamu mulai berdatangan, ternyata orang yang di kantor Arga juga di undang ketika mereka tau Elma anak orang kaya, dan yang menikahi Elma adalah bos mereka, mereka tak bisa banyak bicara lagi.
acara lun di mulai, Arga bertambah gugup keringatan nya banyak banget.
" saudara Arga putra saya nikahkan engkau dengan adik kandung saya dengan mahar seperangkat alat sholat kalung berlian satu set di bayar tuuuuunnnaaiii "
" saya terima nikah dan kawinnya Elma Yanti dengan mahar tersebut tunnnaai "
sah
sah
sah
ujar para undangan yang hadir. Arga pun tak kuasa menahan harus nya dia menangis di pelukan sang kakak nya.
Rama pun cuma bisa mengelus bahu sang adik...
__ADS_1
Elma pun di jemput oleh bunda Eva dan dini, Elma memakai gaun pengantin yang tertutup dan Elma menggunakan hijab, sebab itu amanat dari mendiang ibu nya dulu, dan Elma melakukan ny tepat di hari pernikahan nya.
pikiran Elma terus terfokus kepada perut nya apakah ada reaksi atau engga. namun nihil gak ada reaksi apa-apa.