
Meskpiun bintang-bintang di langit tertutup mendung, tapi tidak di hati kedua orang tua itu. Sepanjang perjalanan pulang mereka sibuk berceloteh tentang keperluan bayi yang bahkan tidak ada di dalam perut Acha. Menjelaskannya pun percuma, telinga kedua orang tuanya seakan tertutup dengan fakta bahwa tidak ada bayi di dalam perut Acha.
“Pi, nanti kalau anaknya lahir kita beli aja Disney Land di Episentrum. Terus pajang fotonya dedek di sana-sini. Gimana Pi?” celoteh sang ibu.
Acha memijit keningnya mendengar percakapan kedua orang tuanya. Bukannya marah karena anaknya pergi ke hotel dengan seorang lelaki, mereka justru bersuka ria merayakannya.
“Masak cuma Disney Land sih Mi. Nggak level buat cucunya keluarga Ardhana.” Papi mengelak.
“Hm.. terus apa dong Pi?”
Belum sempat menjawab, pandangan Papi tepaku pada sebuah Koenigsegg CCX yang terpakir tepat di depan pintu gerbang rumahnya. Seorang lelaki dengan balutan kemeja Caneli yang lengannya digulung ke atas bersandar di mobil mewah itu. Kedua tangannya dia masukkan ke dalam kantong celana. Wajahnya yang dibalut bosan terangkat melihat mobil orang tua Acha berhenti di depannya.
__ADS_1
“Eh, siapa itu Mi di depan rumah?” Papi berkata lirih pada istrinya.
Sang istri menyipitkan matanya. Usia membuatnya sedikit kewalahan melihat dalam remang-remang cahaya lampu pinggir jalan, “Pih.. Pih.. itu Karel Pi! Karel! Ya ampun ngapain calon mantu Mami berdiri di situ? Ayok Pi buruan keluar.”
Mendengar nama lelaki yang menjadi topik pembicaraan hari ini disebut, Acha langsung bangkit dari kursi sandarannya dan mengengok keluar. Benar sekali. Yang berdiri di depan pagar rumahnya adalah Karel. Untuk apa laki-laki itu datang ke sini?
Karel membungkukkan badan sesopan mungkin setelah kedua orang tua Acha keluar dari mobil dan menghampirinya. Sementara Acha diam-diam mengekor di belakang orang tuanya.
“Aduh nak Karel. Udah lama di sini? Ayok masuk!” sang ibu tergopoh-gopoh meminta lelaki itu masuk ke dalam rumahnya.
“Terima kasih Tante. Maaf sebelumnya, Om, Tante. Berkaitan dnegan hal yang saya lakukan tadi..” lelaki itu mengusap tenguknya, “Saya tau saya sudah kurang ajar. Saya belum sempat memperkenalkan diri tapi malah langsung meminang Acha seperti itu. Sekali lagi saya minta maaf.”
__ADS_1
Kali ini Papi yang menanggapi. Dia menepuk bahu Karel dan mengeluarkan senyum seramah mungkin, “Nggak papa nak. Ya meskipun saya agak kaget tapi saya acungi keberanian kamu meminta Acha di depan banyak orang seperti tadi.”
Karel tersenyum kecil sementara Acha memaki lelaki itu dalam hati. Jika bukan karena ide gilanya, mungkin kehidupannya masih tenang saat ini. Tapi apa? Wajahnya terlanjur menghiasi setiap portal berita di Nusantara.
“Maaf Om, tapi bolehkan saya mengajak Acha keluar sebentar. Ada yang perlu saya bicarakan dengan Acha” pinta Karel dengan sangat sopan. Cuih, sandiwara apa yang Karel mainkan, seorang playboy mancam dia bisa berakting menjadi calon menantu idaman.
“Iya.. iya silahkan nak.” Papi Acha menyetuji begitu saja, diikuti tindakan ibunya menyeret Acha ke sisi lelaki itu.
Acha ingin protes, tapi tidak jadi karena tatapan ibunya yang seolah-olah mengijinkan anaknya untuk tidak perlu pulang malam ini.
“Terimakasih Om, Tante. Nanti saya antar Acha pulang lagi sebelum larut malam” pamit Karel yang diangguki lawan bicaranya. Bahkan mereka dengan suka cita mengantar Acha untuk duduk di mobil Karel dan berpesan, “Adek nggak usah pulang malam ini juga nggak papa” bisik ibunya membuat Acha membulatkan mata tidak percaya.
__ADS_1