
"Dimana pakaianku?" Acha kelimpungan mencari pakaian dalamnya. Beberapa saat lalu dia masih melihat benda rahasianya itu tersampir cantik di pucuk sofa tapi sekarang sudah raib begitu saja. Yang tersisa hanyalah Sheath Dress warna krem mahalnya.
"Kamu terlihat lebih cantik pakai memakai bathrobe ku, tidak usah ganti," usul Karel meletakkan kepalanya di atas meja sambil mengangumi pantat Acha yang menyembul ketika gadis itu menunduk mencari-cari keberadaan pakaian dalamnya.
"Enak saja. Aku mau pulang!" seru wanita itu tidak terima.
"Tunggulah sebentar lagi. Orang tuaku akan segera pulang. Kita makan malam bersama" pinta Karel tak menyerah.
"Cepat berikan pakaian dalamku sebelum orang tuamu menemukanku di kamar anaknya hanya berbusana seperti ini" Acha menunjuk bathrobe yang bahkan terlalu besar untuk dipakai di badannya.
__ADS_1
"Tidak mau! Aku menyembunyikannya untuk kenang-kenangan," ucal Karel tak tau malu.
"Dasar sinting! Kau mau aku keluar dari kamarmu tanpa mengenakan dalaman?" mata Acha membulat tak percaya.
"Hei! Itu ide bagus!" Karel menjentikkan jarinya dengan penuh semangat.
"Oh.. ayolah!" Acha memutar bola mata jengah. Bisa-bisanya dia terjebak dengan lelaki mesum seperti ini.
"Cepat pakai dress mu. Aku tunggu di meja makan. Kamu pasti sangat lapar," cicit Karel seraya melangkah santai keluar dari kamar.
__ADS_1
"Hei! Kembalikan dulu pakaian dalamku!" teriak Acha yang dibalas dengan suara pintu tertutup. "Brengsek!" Acha mendengus. Dia tidak punya pilihan lain. Tidak mungkin kan dia memijam ****** Karel dan memakainya.
Acha menuruni tangga hanya dengan balutan dress selutut itu. Tapi dia tidak cukup bodoh keluar dengan ****** yang terlihat menjiplak di kain sutera itu. Acha mengambil satu long coat Karel dan memakainya, memastikan bagian payudaranya tidak terlihat. Untuk celana dalam, well.. bukankah seseorang tidak akan menyadari dia memakai celana dalam atau tidak? Toh, dia hanya akan turun dari kamar Karel, berjalan ke mobil, lalu pulang ke rumah. Bukan sesuatu untuk di pusingkan.
Tapi perhitungan Acha kali ini salah. Karena ketika turun, dia disambut oleh orang tua Karel yang saat itu sedang bersiap makan malam. Nathan dan Tita juga ada di situ. Wow.. Kenapa tiba-tiba keluarga Karel jadi sangat komplit seperti ini?
"Acha.." ibu Karel tersenyum dengan tulus, "Sini duduk sini sayang," wanita itu menunjuk bangku kosong di sebelahnya.
"Eh Tante, Om, selamat malam," Acha menyapa dengan canggungnya. "Tapi sepertinya Acha harus pamit dulu-"
__ADS_1
Ucapan gadis belia itu dipotong, "Loh, kok buru-buru. Tante sama Om bela-belain pulang cepet ini karena Karel bilang kamu main ke rumah. Yuk makan bareng dulu!" ibu Karel bangkit dari kursinya dan membawa Acha menempati bangku kosong.
"Apa mau duduk pangku-pangkuan sama aku nih Cha?" goda Karel membuat seisi ruangan tertawa kecil. Acha memelototi Karel karena sudah membuat pipinya merah merona. Bisa-bisanya lelaki ini berakting layaknya pasangan kekasih yang dimadu asmara.