Erstwhile

Erstwhile
17. Malu


__ADS_3

Malu. Satu kata yang mendeskripsikan perasaan Acha saat ini. Bagaimana tidak? Sebegitu gampangnya dia terjatuh dalam pelukan lelaki bersurai cokelat itu untuk yang kesekian kalinya. Padahal, dia bukan tipe wanita yang gampang tergoda. Tetapi kenapa seorang Karrel Ardhana begitu sulit untuk ditolak?


Sepanjang perjalanan pulang Acha hanya diam membisu. Bahkan dia tidak berani bertemu pandang dengan mata lelaki itu. Ingatan demi ingatan saat dia ditelanjangi di kamar mandi membuat pipinya memerah seperti tomat. Jika saja bisa membuat lubang di tanah, pasti Acha akan sembunyi di dalamnya sekarang juga.


"Udah sampai ini" Karel menghentikan mobil di depan gerbang pintu rumah Acha.


Tanpa membuang-buang waktu, Acha segera meraih tasnya dan membuka pintu mobil. "Bye.." hanya itu yang terucap dari mulut kecil perempuan itu sebelum dia berlari meninggalkan Karel.


"Gue nggak disuruh mampir dulu?" suara teriakan Karel dari belakang.


"Awas kalau berani!" tanpa memperlambat langkah kakinya Acha mengancam.


"Kalau gitu cukup satu ucapan makasih lah?" Karel tak menyerah.


"Jangan berharap!" sahutan Acha diakhiri oleh suara pintu pagar yang ditutupnya dengan kasar.


Karel terkekeh. Bahkan gadis itu menghindari bertatapan mata dengannya. Ini akan menyenangkan, dia membatin.


"Loh dek, kamu udah pulang?" suara ibu Acha dari arah dapur ketika mendengar suara derap kaki anak perempuannya menaiki tangga.

__ADS_1


Papinya yang sedang berada di tuang tengah pun menengok ke atas, "Kok buru-buru pulangnya?  Karel mana?"


"Masuk jurang!" Acha masuk lalu mengunci pintu kamarnya.


Buru-buru gadis itu berlari ke jendela kamarnya. Disibaknya tirai manik yang menutup kaca transparan itu sebelum melengok ke arah jalanan. Mobil Karel masih di situ. Sialan!  Tentu saja dia akan masuk dan berbasa-basi sebentar dengan kedua orang tuanya. Terbukti dari suara kekehan ayahnya di lantai bawah menyambut kedatangan seorang pemuda.


Tidak berapa lama, terdengar pintu kamarnya diketuk, "Dek, itu Karel ada di bawah. Nggak kamu bikinin teh dulu?" ibunya menawarkan.


"Acha ngantuk. Mau bobok!" Acha bohong sebelum menenggelamkan kepala di bawah bantal. Kenapa lelaki itu harus mampir segala sih? Acha kan masih malu! 


***


Ada yang canggung dalam acara makan siang keluaraga Abimana kali ini. Semua mata tertuju pada Acha yang sedari tadi hanya membolak-balikkan telur dadarnya.


"Eh, enggak" buru-buru gadis belia itu memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.


"Atau kamu pengen makan apa gitu? Kalau-kalau ngidam" ayahnya menimpali.


"Uhuk.. Uhuk.." Aldrich yang mendengar kata ngidam terbatuk-batuk. "Ngidam? Dek, kamu.. " mata lelaki itu melebar.

__ADS_1


Acha menggerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan, "Enggak-enggak bukan itu!" nadanya afirmatif.


"Adek kan nggak pulang semalem" ucap sang ayahnya menambahi.


Aldrich histeris "Acha nggak pulang?"


"Pulang-pulang bilangnya ngantuk mau tidur. Emang semalem nggak tidur?" tambah ibunya.


"Hah? Semalem nggak tidur?" sekali lagi Aldrich heboh.


"Mam.." sang ayah berbalik bicara pada wanita yang telah melahirkan anaknya itu, "Kayaknya gendongan bayi yang biru itu lebih lucu deh. Pesen yang itu aja Mam."


"Papi, bagusan yang kuning ah."


"Masak sih?" pria itu mangut-mangut.


Aldrich menggelengkan kepala tak percaya, "Kakak bakalan dapet ponakan?"


Yang jadi topik pembicaraan menggeram kesal, "Acha tuh nggak hamil!  Yang bilang hamil siapa?" amarahnya sebelum meninggalkan meja makan.

__ADS_1


Melihat tingkah Acha, tiga orang yang tersisa di meja makan hanya bisa diam mematung.


"Acha malu kali ya?" komentar sang ibu membuat semua orang berkedip tanpa ekspresi.


__ADS_2