
Acha berjalan menuruni tangga hendak mengambil air minum. Tapi langkahnya terhenti begitu indera pendengarannya menangkap suara bisik-bisik dari ruang tengah.
"Tuh kan apa kakak bilang! Pasti Acha yang godain Karel duluan" Aldrich berucap penuh percaya diri.
"Papi masih nggak habis pikir. Kurang cantik apa coba putri Papi. Kenapa bukan Karel yang ngejar-ngejar Acha. Kenapa malah sebaliknya?" pria tua itu memijit jidat.
"Tapi juga kan akhirnya Karel kesengsem" sang ibu membela. Apa yang beberapa waktu lalu dilihatnya di dalam kamar Acha membuat ibunya berkesimpulan seperti itu.
"Siapa juga yang nggak bakal kesengsem sama anak Papi yang cantik jelita. Bunga aja malu, saking kalah cantiknya dari Acha" Papi membusungkan dada.
"Nurun siapa dulu dong, Pi?" ibunya senyam-senyum.
"Ya Maminya lah" jawab Papi tanpa ragu.
Aldrich berdecak sebal, "Mih.. Pih.. konsentrasi dong. Kita kan sedang membicarakan strategi perang!"
"O iya, ya. Ayo Pi, fokus!" wanita tua itu mengingatkan.
"Kalau benar Acha yang godain duluan.. " sang kakak laki-laki mulai berspekulasi, "Berarti perasaannya Acha lebih besar dong dibanding Karel. Bahaya ini!"
"Tul.." Maminya setuju, "Perempuan itu tidak boleh punya perasaan lebih besar dibandingkan laki-lakinya. Harusnya laki-laki yang lebih tergila-gila, biar rumah tangga aman damai sejahtera sentausa."
"Terus gimana dong, Mi?" suami wanita itu bertanya.
__ADS_1
Sang ibu memberi isyarat agar dua lelaki di sampingnya mendekat. Setelah kepala mereka hampir bersentuhan, wanita itu lalu menjelaskan strateginya. "Laki-laki itu takluk pada tiga hal. Apa aja kak?"
Yang disebut menjawab, "Harta, tahta, dan wanita."
"Salah" sela ayahnya. "Harta, tahta, dan Acha." Pria itu menyeringai.
"Iya. Mami tau Papi sesayang itu sama Acha. Tapi serius dulu dong Pi, ini lagi membicarakan masa depan anak bontot Papi" tegur sang istri.
Lelaki tambun di seberang meja itu pun mengangguk dan menutup mulut.
"Jadi.." sang ibu meneruskan. "Kalau masalah harta dan tahta, keluarga kita tidak diragukan lagi. Toh keluarga Ardhana juga nggak kekurangan harta dan tahta."
Semuanya mengangguk-angguk.
"Yang jadi permasalahannya adalah wanita" ibu dua anak itu menekan kosa kata terakhirnya. "Selain Acha, siapa wanita yang dekat dengan Karel? Pokoknya kita harus bantu Acha biar nggak ada wanita-wanita penggoda di sekitar Karel. Dengan begitu rumah tangga Acha nanti bakalan bahagia sejahtera."
"Ya jelas lah sekelas Karel pasti banyak yang nemplok. Tapi jangan langsung dipercaya. Perempuan jaman sekarang banyak yang pengen tenar pake jalur ekspres. Makanya sok-sokan deket sama tambang emas" perempuan paruh baya itu mengarahkan.
"Bener banget tuh Mam. Ini nih contohnya. Artis yang lagi naik daun, Rubina. Ngotot banget mau digosipin sama Karel." Aldrich menunjukkan sebuah foto perempuan yang hampir tanpa busana.
"Ewh" ekspresi jijik jelas terlihat di raut wajah perempuan tua itu. "Bentukan kayak gini nggak sekelas sama Acha. Jauuh.."
"Iya Mom. Sugar daddynya diancem aja beres!" Aldrich menimpali. "Tapi ini ada yang lain Mom. Rumornya kenceng banget."
__ADS_1
"Siapa? Siapa?" sang ibu penasaran.
"Teman Karel dari kecil. Anaknya Pak menteri itu loh, namanya Rena." jelas Aldrich.
"Oh, mantan Miss Indonesia itu ya?"
"Iya Mom. Katanya sih cuma temen. Tapi tapi banyak rumor yang bilang mereka ada sesuatu."
Sang ibu menghembuskan nafas, "Cantik sih, tapi Acha nggak kalah cantik."
"Tapi kan Acha galak, Mi. Moody-an lagi." Aldrich kurang setuju. "Mana si Rena-Rena ini temenan sejak kecil gitu sama Karel" lanjutnya pesimis.
"Satu kosong" sang ibu menilai.
"Terus lulusan cumlaude dari Oxford" sambung Aldrich.
"Dua kosong" sekali lagi ibunya menghitung skor.
"Digadang-gadang bakalan terjun ke politik gantiin bapaknya. Ortu mereka juga deket" Aldrich semakin mengkompori membuat ibunya mendesah berat, "Acha kalah tiga kosong."
Mendengar hal itu tentu saja Acha emosi. Tiba-tiba dia muncul dari balik dinding membuat ketiga anggota keluarganya terkejut, "Siapa bilang Acha kosong!" omelnya langsung balik badan dan kembali ke kamar.
Eh tapi tunggu, kenapa Acha harus marah dibanding-bandingkan dengan Rena? Padahal kan dia tidak punya perasaan apa-apa dengan Karel?
__ADS_1
"Mami sih keras-keras. Kedengeran Acha kan?" sang ayah tidak terima.
"Yee.. siapa yang nyangka Acha bakalan nguping" istrinya membela diri.