Erstwhile

Erstwhile
29. Bos yang Cemburu


__ADS_3

Ruangan bernuansa putih gading tepat berada di sebelah kanan kantor direktur utama itu sekarang sudah diakuisisi Acha. Berbagai dokumen persiapan silver anniversary stasiun TVnya berserakan di atas meja. Bahkan papan transparan tempat Acha mencoret-coret ide kreatif dari kepalanya sudah penuh dengan rancangan dari A sampai Z. Gelas-gelas kopi yang kini hanya tersisa separuh tergeletak di sana-sini. Acha sedang membriefing tim kreatifnya untuk persiapan acara.


"Berikan daftar pengisi acaranya!" dari kursi paling depan Acha meminta lembaran berisi publik figure yang akan datang mengisi acara.


"Kami masih harus mengkonfirmasi beberapa artis. Ini baru list kasarnya" perempuan yang umurnya lebih tua sepuluh tahun itu memberikan dokumen yang diminta Acha.


"Pastikan semuanya clear minimal dua minggu sebelum acara." Acha membuka lembar demi lembarnya.


"Baik."


"Tunggu!" tatapan Acha terpaku pada satu nama di daftar pembawa acara. "Rubina?" matanya membelalak tidak percaya. "Siapa yang memilih artis penuh skandal dan selalu mencari sensasi itu sebagai pembawa acara kita?"

__ADS_1


Semua orang terdiam. Belum pernah mereka melihat putri bungsu sang direktur setegas ini. "Seorang MC itu adalah wajah dari sebuah acara! Bagaimana bisa kalian memilih seseorang yang menjual sensasi demi ketenaran semata sebagai wajah dari perusahaan kita! Sudah saya bilang kan, pilih artis yang berkelas, berbobot, berprestasi! Tidak hanya mengumbar sensasi semata. Siapa yang akan bertanggung jawab kalau acara kita rusak karena orang ini? Jawab!"


Tidak ada yang berani mengangkat kepala. Mereka saling bisik-bisik dan menyenggol satu sama lain. Seolah-olah melempar tanggung jawab untuk menjelaskan kepada bosnya.


"Maaf Bu, sebenarnya yang memasukkan Rubina di daftar MC bukan dari kami, tapi Pak Yoga dari sub divisi advertising yang ngotot agar Rubina menjadi pembawa acaranya," salah satu dari mereka menjelaskan.


Acha menarik nafas berat, "Ah, jadi begitu cara mainnya. Lobying?" ucapnya pada diri sendiri. "Oke, saya akan urus hal ini."


"Selamat siang bapak Aldrich yang terhormat," ucapnya begitu formal membuat seseorang di ujung telepon menahan tawa.


"Apa adikku sedang bermain peran menjadi wanita kantoran yang sangat profesional?" Aldrich meledek. "Ah, kakak tau, pasti tidak mau kalah dari Rena ya? Dia kan sangat-"

__ADS_1


"Shut up your fucking mouth Aldrich!" Acha menurunkan suaranya agar tidak terdengar karyawan lain, namun tetap dengan nada yang tegas dan tajam.


"Wow.. apakah adikku baru saja memanggil kakaknya dengan sangat sopan?" sindir lelaki itu sekali lagi.


Acha memutar bola matanya, "Terserah! Ada yang lebih urgent untuk diurus."


"Apa?"


"Pak Yoga dari subdivisi advertising, pastikan kakak menertibkan karyawan kakak yang hampir saja mencoreng arang di muka kita itu. O iya, dan jauhkan Rubina dari segala macam acara yang berkaitan dengan stasiun TV kita!" bagai seorang bos, Acha mendikte apa yang harus dilakukan kakaknya.


"Oh.. adikku sedang cemburu rupanya. Tapi, apa juga yang harus dicemburui dari seorang Rubina? Jelas-jelas kamu menang telak," celoteh Aldrich tak henti-henti menggoda sang adik.

__ADS_1


"Aish.. kakak bisa serius enggak sekarang? Siapa juga yang cemburu!" Acha berteriak tanpa sadar. Dia mematikan teleponnya sepihak dan mendengus kasar. Tanpa dia sadari, kalimat terakhirnya membuat para karyawan yang masih berkerumun di kantor Acha saling berbisik. Sudah tentu mereka menggosipkan sang calon istri putra bungsu Ardhana Group yang mencoret nama artis dari daftar acara stasiun TVnya hanya karena pernah dirumorkan dengan calon suaminya. Wow.. gosip ini akan menjadi trending topik minggu ini di kantor, menggantikan gossip susu ibu hamil.


__ADS_2