
"Kek, udah dong!" rengek Karel begitu melepas alat bantu selamnya dan mengambil nafas dalam-dalam. Mencari kerang diantara terumbu karang yang terhampar di sepanjang pantai bukanlah hal yang mudah. Hukuman dari sang kakek sungguh tidak pernah main-main.
"Ini baru berapa? Tiga? Anak muda kok gitu aja loyo! Cepet cari lagi!" Kakek mengacung-acungkan tongkatnya ke hamparan samudra.
"Susah Kek nahan nafas lama-lama di dalem air!" Karel masih merengek.
Pasalnya, sang Kakek merasa geram mendapati laporan jet pribadi cucunya itu mengudara tanpa Acha.
"Susah mana sama Acha yang kamu tinggal sendirian malem-malem? Hah?" sang Kakek menggebrakkan tongkatnya ke pasir.
Bibir Karel langsung mengerucut. Kakeknya bukanlah tipe yang mudah dibantah.
"Tapi kan Karel udah minta maaf," kilahnya.
"Enak aja cuma minta maaf. Kamu itu harus dihukum!" gertak sang Kakek.
Dengan mulut masih mengerucut Karel memakai kembali kaca mata selamnya dan menyelam turun ke bawah air.
Sementara itu di sebuah gazebo di kejauhan, Nenek Karel dengan lepasnya menertawakan kelucuan cucu kesayangan. Dari tadi Karel hanya megap-megap setiap kali muncul ke permukaan dengan tangan kosong. Matahari sudah hampir naik tetapi pemuda itu masih belum juga menyelesaikan hukuman dari Kakek.
__ADS_1
Acha yang duduk di samping nenek Karel merasa tidak enak hati. Pasangan tua itu sungguh menganggap dia dan Karel seperti pasangan kekasih sungguhan. Lihat saja bagaimana sang Kakek menghukum cucu bungsunya itu karena dianggap sudah melukai hati Acha dengan meninggalkannya sendirian tadi malam.
"Nek, udah ya. Itu Karel kasian," gadis cantik itu memohon dengan sopan.
Sang nenek mengusap gemas kepala Acha, "Kamu ini, sayang banget sama calon suami. Masih aja dibelain. Makasih ya sayang sudah segitunya sama cucu Nenek. Tapi biarin aja itu Karel, dia emang harus membayar perbuatannya sendiri. Biar kapok!"
"Tapi Nek.."
"Udah nggak papa. Biar Karel tau rasa!"
Dua jam lamanya Karel menghabiskan waktu berkecimpung dengan air laut yang asin demi menjalani hukuman Kakek. Setelah berhasil mengumpulkan seember kerang, Karel menjatuhkan dirinya di karpet pantai sementara neneknya tengah sibuk mengolah hasil tangkapan sang cucu dibantu oleh Acha.
"Kamu siapin lalapannya aja sayang. Nanti biar nenek yang bikin sambal," wanita tua itu menghentikan kegiatan Acha.
"Udah sini Nenek aja. Tangan kamu nanti pedes. Nih kamu cuci seladanya aja," Nenek Karel mengambil cobek dari hadapan Acha dan menggantinya dengan baskom berisi lalapan.
"Maaf ya Nek, Acha emang nggak pinter masak," ucap gadis itu penuh sesal.
"Kenapa harus minta maaf? Karel duitnya banyak. Mau makan tinggal bayarin chef buat masak. Toh dulu Nenek juga nggak bisa masak waktu awal-awal jadi istri Kakeknya Karel. Lama-lama juga bisa. Cuma masalah waktu aja, sayang," hibur perempuan beruban itu. "Karel! Kamu siapin meja sama piringnya. Ini sebentar lagi jadi!" teriak nenek memerintah cucu bungsunya itu.
__ADS_1
"Nek, Karel kan baru istirahat!" keluh Karel dengan tubuh masih telentang. Rambutnya bahkan belum kering akibat menghabiskan dua jam menyelam.
Tapi begitu Kakeknya mengangkat tongkat hendak memukul Karel, lelaki itu langsung bangun dengan sigap, "Iya iya.. ini udah siap-siap!" gerutunya sebelum melaksanakan perintah.
Sore itu mereka habiskan dengan bersendau gurau bersama layaknya sebuah keluarga yang sedang berpiknik. Masakan nenek menjadi menu utamanya. Karel dengan rakus menyerutup kuah panas untuk menghangatkan tubuhnya, sementara sang nenek sibuk memanjakan calon istri cucunya.
"Ini gizinya banyak. Acha makan yang lahap ya!" Nenek mengambilkan satu sendok sayur ke piring Acha.
Melihat kehangatan nenek bersama Acha, Karel merasa cemburu, "Acha terus yang diurusin. Karel kapan?" gerutunya.
"Kamu kan udah puluhan tahun Nenek manjain. Sekarang gantian!" sang nenek kembali berfokus pada Acha. "Aduh kamu belum disiapin minum ya. Karel! Itu kelapanya buruan dibuka. Acha kan mau minum air kelapa!"
Karel yang baru saja mau memasukkan satu suap nasi ke dalam mulutnya berhenti. "Karel kan mau makan, Nek!"
"Ekhem.." deheman sang Kakek seolah mengingatkan Karel agar segera menuruti perintah neneknya.
"Iya.. Iya" Karel tidak punya pilihan lain.
"Yang ikhlas dong! Pake senyum! Kan buat calon istri!" Neneknya belum puas.
__ADS_1
Karel langsung menjereng giginya lebar-lebar, "Tunggu sebentar ya sayang. Air kelapa paling segar segera datang," satu kedipan genit pun dia hadiahkan untuk Acha.
Gadis itu menahan tawanya. Sungguh lucu melihat tuan pemaksa dibully seperti ini.