Erstwhile

Erstwhile
36. Jacuzzi


__ADS_3


Hanya satu kata untuk mendeskripsikan villa ini. Mewah.


Ketika alam dan seni arsitekstur bangunan bertemu, lahirlah sebuah tempat pelepas lelah yang serasa menyatu di alam tapi masih dengan fasilitas mutakhirnya. Dinding yang didominasi kaca membuat penghuninya bersenggama langsung dengan buaian senandung bumi. Kumpulan air biru sejauh mata memandang tepat di depan jendela kamar mereka. Dan udara yang bersih tanpa polusi serta minimnya orang berlalu lalang membuat waktu serasa berhenti bagi Acha. Inilah definisi liburan yang sesungguhnya.


Kegiatan Acha mengagumi keindahan ciptaan Tuhan diinterupsi sensasi panas bibir Karel yang menyentuh permukaan kuit di bahunya. "Aku tunggu di jacuzzi," lirihnya di dekat telinga sebelum melangkah pergi meninggalkan Acha yang terhipnotis karena dada telanjangnya.


Setelah perjalanan yang panjang, aktivitas **** di atas pesawat, dan berbasa-basi dengan kakek nenek Karel, berendam di jacuzzi adalah ide yang bagus. Tanpa membuang waktu, Acha mengekor Karel dari belakang dan ikut mencelupka diri di genangan air hangat itu. Rasanya benar-benar rileks. Seluruh otot-ototnya yang menegang serasa direnggangkan kembali. Acha membuang bathrobe yang melilit tubuhnya. Dia memejamkan mata menikmati sensasi ini.


"Kamu terlalu jauh. Mendekatlah!" suara Karel membuat Acha terganggu dari diamnya.


"Aku tidak mau!" dia menggerutu. Baru saja pikirannya akan damai, Karel sudah merecokinya lagi.


"Baiklah kalau kau tidak mau mendekat. Aku yang akan mendekat." Karel memajukan badannya hingga dada telanjangnya menghimpit Acha. Kedua tangannya berada di kanan kiri leher Acha, membuat gadis itu terkungkung di bawah kuasa Karel.

__ADS_1


"Kau tau. Kau terlihat sangat menggemaskan saat pipimu merona," Karel menggoda.


"Siapa yang merona? Aku tidak!" Acha membuang muka mengingkari.


"Oh ya?" Karel memajukan bibirnya untuk mengecup sekilas bibir Acha. "Lihat, itu tambah merona!"


"Jangan menciumku tanpa permisi!" hardik gadis itu tak terima.


"Baik. Akan aku kembalikan." Karel kembali mengencup sekilas bibir Acha.


Karel terkekeh. Dia melepaskan kungkungannya dan ikut bersandar di samping Acha. Tubuh mereka sangat dekat. Karel meletakkan lehernya di bahu Acha dan mengalungkan lengannya di pinggang Acha, menarik gadis itu semakin menempel ke tubuh polosnya.


"Besok fotografer dan penata rias datang. Kita akan mengambil foto prewed di beberapa titik lokasi sekitar ini. Jangan khawatir, aku akan meastikan kau menjadi pengantin paling cantik. Siapa pun yang melihat foto pernikahan kita pasti akan iri," tutur lelaki itu.


"Wow, kau sangat totalitas sekali dengan pernikahan ini," Acha balik menyindir.

__ADS_1


"Siapa bilang aku melakukan ini untukmu. Aku melakukan ini untukku sendiri. Dimana aku akan menaruh muka jika memperlakukan tuan putri satu ini biasa saja?"


"Baiklah. Agar tidak mengecewakan si bungsu yang manja, aku harus tidur cepat malam ini."


"Kau mau tidur dengan cepat? Baik. Jadi bagaimana kau ingin ditiduri? Dengan gaya spooning? Doggystyle? Enam sembilan?" Karel mengangkat alisnya.


"Enak saja. Aku bilang tidur yang sesungguhnya. Bukan tidur yang itu!" Acha mengelak.


Namun Karel tak menyerah, "Kita belum pernah mencoba enam sembilan bukan? Ayo kita ke tempat tidur sekarang!" ajaknya antusias.


"Sudah aku bilang aku tidak suka memasukkan barangmu ke mulutku!" Acha bersikeras.


"Kenapa? Punyaku sangat higienis. Kau tak perlu jijik!" lelaki di sampingnya meyakinkan.


"Tetap saja," Acha begidik ngeri.

__ADS_1


__ADS_2