
Acha memasuki caffee dengan senandung riang di bibir mungilnya. Perasaannya jauh terasa lebih ringan. Tak henti-hentinya dia menebar senyum menyebabkan beberapa waitress laki-laki salah tingkah. Sudah dua puluh menit seseorang yang berjanji akan melakukan meeting dengannya hari ini terlambat. Tapi itu sama sekali tidak membuat moodnya turun. Aneh sekali.
"Selamat siang" sapa sosok yang berdiri di hadapannya. Ia memberi salam kemudian duduk dan memperkenalkan diri. "Mohon maaf atas keterlambatannya. Pak Hansen selaku art director tidak bisa hadir karena pesawatnya dari Surabaya delay. Saya akan menggantikan beliau untuk meeting hari ini."
Acha tak berkedip. Waktu terasa berhenti dan dunianya terjungkir seketika. Dari sekian banyak karyawan di bawah asuhan Pak Hansen, kenapa harus dia yang menemuinya saat ini. "Fariz.." ucapnya lirih.
Lelaki itu tersenyum tanpa beban. Tak peduli bagaimana masa lalu mereka, Fariz melakukan tugasnya untuk menggantikan Pak Hansen dengan sangat profesional. "Ini adalah konsep acara yang akan diusung Pak Hansen. Anda bisa memeriksanya lebih dahulu. Jika ada pertanyaan saya akan jawab sepengetahuan saya. Nanti akan saya sampaikan ke Pak Hansen misalkan ada pertanyaan yang tidak bisa saya jawab maupun jika ada usulan dari Anda." Lelaki itu menyerahkan tablet kerjanya ke hadapan Acha.
Sebuah video pengantar pun terputar. Tapi Acha sama sekali tidak bisa berkonsentrasi ke kontennya. Kepalanya sibuk memikirkan lelaki yang kini duduk dengan sangat tenang di hadapannya.
"Bagaimana? Ada pertanyaan?" tanya Fariz dengan sangat sopan.
"Ada" Acha menjawab singkat.
"Silahkan ditanyakan" Faris mempersilahkan.
"Kau mau minum apa?" pertanyaan yang sama sekali di luar ekspektasi Fariz.
Pria itu berjengit tidak paham, namun kembali profesional karena ini adalah masalah pekerjaan. "Terimakasih, tapi nanti saya akan pesan sendiri. Sekarang saya sedang bekerja" Fariz memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.
__ADS_1
"Kamu terlihat makin tirus. Apa tunanganmu terlalu sibuk sehingga kau tidak diurus?" kalimat yang sukses membuat suasana menjadi canggung dan sedikit tegang. Jelas kali ini mereka sudah tidak membicarakan tetang pekerjaan lagi. Acha membawa mereka membicarakan masalah pribadi.
"Kamu juga makin kurus. Apa tunanganmu terlalu sibuk sehingga kau tidak diurus?" Fariz membalikkan pertanyaan Acha.
Gadis itu berdehem, jelas pertanyaan Fariz membuatnya terpukul telak.
"Kami kaum wanita sangat bersahabat dengan yang namanya diet. Ah, ini bukan kurus. Tapi ramping. Wanita mana yang mau gaun pernikahannya tidak muat karena kelebihan berat badan?" kilahnya mencari-cari alasan.
Fariz menganggukan kepala. "Ah, ngomong-omong soal pernikahan, aku lupa memberikanmu ini." Lelaki itu mencari-cari sesuatu di dalam tasnya kemudian meletakkannya di meja depan Acha. "Karena kau yang memulai untuk tidak membicarakan masalah pekerjaan dan malah membicarakan masalah personal, aku kira ini waktu yang tepat untuk memberikanmu undangan pernikahanku."
Ada sesuatu yang teriris ketika kedua netra Acha membaca tulisan yang terpampang di selembar kertas berwarna tosca itu. Ayolah, itu hanya selembar kertas, tapi mengapa mengandung bawang?
"Terimakasih" Fariz menjawab. "Aku kira aku akan gantian mendapatkan undangan pernikahanmu. Apa kau tidak bermaksud mengundangku?"
Bahkan tanggal pernikahannya sendiri Acha tidak tau. Semua diurus oleh orang tuanya dan dia malas bertanya. "Aku akan memberikan padamu jika sudah selesai dicetak" elak Acha dengan senyum yang dipaksakan.
Fariz mengangguk. "Semoga aku bisa hadir" komentarnya.
"Apa kau terlalu sibuk? Sampai-sampai tidak bisa hadir?" sindir wanita di depannya.
__ADS_1
"Bukan begitu. Hanya saja..." kalimat lelaki itu terpotong.
"Hanya apa?" Acha menuntut jawaban.
"Ah sudahlah. Oh iya, aku dengar kantormu sempat geger karena Karel mengirimimu sebuah parcel?" Fariz mengalihkan topik pembicaraan.
Mata Acha membelalak. Apa jangan-jangan rumor tentang dirinya hamil sampai ke telinga mantan kekasihnya itu? Tapi tunggu, bagaimana bisa Fariz tau gossip yang beredar di kantornya.
"Dari mana kau tau tentang berita itu?" mata Acha menyipit.
Fariz salah tingkah. Dia berdehem untuk menyembunyikan gelagat anehnya. "Well, bukankah kita punya teknologi yang namanya sosial media?" kilah lelaki itu mencari pembelaan. "Anyway, selamat kalau berita itu benar" lelaki itu tersenyum kaku.
Acha menghirup nafas dalam-dalam. Kenapa semua orang mengira ada janin di dalam perutnya? Tapi tunggu, bukankah itu bagus? Dirinya tidak akan terlihat mengenaskan karena mantan kekasihnya sudah bersiap menikah sementara dirinya masih berjuang untuk move on.
"Thanks" Acha tersenyum singkat. Mungkin gadis itu akan membiarkan kesalahpahaman ini tetap terjadi untuk sementara waktu. "Aku harus pergi sekarang. Kirimkan detail konsepnya ke emailku. Aku akan menghubungi Pak Hansen nanti" pamit Acha memasukkan undangan itu ke dalam tasnya.
"Mau aku antar?" kalimat Fariz membuat Acha membeku sesaat. Tentu saja lisannya ingin berkata mau, tapi egonya terlalu tinggi untuk menyetujuinya.
"Terimakasih. Tapi Karel menjemputku" bohong Acha sebelum berlalu pergi.
__ADS_1
Karel.. kemana laki-laki itu? Pokoknya Acha mau melakukan pre-wedding secepatnya lalu mencetak undangan pernikahan. Lihat saja, Acha akan terlihat sangat cantik di kertas undangan itu nantinya.