
Acha terusik dari tidur malam karena gemuruh yang menderu di luar sana. Itu bukan deruan angin yang terkadang menelisik lewat celah-celah jendela. Bukan pula deruan ombak yang menghantam bibir pantai. Kamarnya tak pernah sedingin ini. Kemana sentuhan kulit Karel yang selalu jadi penghalang dinginnya?
Acha meraba sisi ranjangnya. Kosong? Dia pun membuka mata perlahan. Lampu redup di sisi tempat tidur masih menyala seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda Karel di kamar mandi. Tidak juga di ruang tengah maupun dapur. Acha memutuskan untuk mengecek keluar.
Malam masih berdamai dengan kesunyian. Ombak pun enggan tidur berseteru dengan batu karang. Namun langit, yang harusnya diam dan tenang, terganggu oleh deru mesin terbang yang mengudara. Acha membelalakkan mata. Tidak salah lagi, itu adalah milik Karel. Jet pribadi Karel. Dan sekarang mesin besar itu terbang menghilang di balik awan, bersama pemiliknya yang ikut menguap entah kemana.
Karel.. apakah dia benar-benar menaiki mesin raksasa itu? Meninggalkan Acha seorang diri di pulau terpencil ini? Tapi kenapa?
Apa pun jawabannya hanya membuat sakit di dada Acha. Gadis itu meringkuk dan menangis tanpa tahu alasannya.
***
Karel tergopoh memasuki sebuah apartemen mewah di pusat kota. Apartemen yang terkenal ditinggali para pemangku elit politik. Entah sudah berapa lama dia tak menapakkan kaki di bangunan sepuluh lantai ini. Namun masih jelas diingatannya di lantai berapa dia harus memberhentikan liftnya.
"Rel.." wanita itu berlari kecil lalu melempar dirinya di pelukan Karel. "Aku tahu kamu bakalan dateng. Aku tahu!" dia menenggelamkan wajahnya yang dibalur air mata.
"Rena?" dengan ragu-ragu Karel mengusap lembut kepala wanita itu.
__ADS_1
Rena menarik wajahnya menghadap ke atas, "Selalu saja. Aku lebih tua darimu! Panggil aku dengan sopan!" keluh wanita itu sembari mengusap sisa-sisa air mata di pipinya.
"Nathan aja nggak pernah aku panggil Kak," gerutu lelaki itu. Toh antara dirinya dan Rena hanya beda beberapa tahun, tidak cukup jauh. Dia tidak mau selalu dianggap seperti anak kecil jika memanggil Rena dengan embel-embel Kak. "Kamu kenapa telepon aku tiba-tiba? Nangisin Nathan lagi?"
Rena menghembuskan nafas kasar. Dia memalingkan wajah ke bawah, tau persis Karel akan menghakiminya lagi dan lagi.
"Nathan udah nikah. Ngapain masih galauin dia? Dia nggak pantes dapet itu dari kamu, Ren," tegas Karel tidak suka dengan tingkah Rena yang masih saja belum bisa menghapus Nathan dari hatinya. Padahal, Nathan sudah memulai hidup baru, tapi kenapa gadis itu masih hidup di masa lalu.
"Aku tau, tapi nggak semudah itu Rel!" sanggah Rena dengan tatapan memelasnya. "Kamu duduk dulu, aku bikinin minum!" gadis itu menarik tangan Karel ke sofa, akan tetapi Karel menolak.
"Aku nggak bisa lama-lama. Karena aku udah liat kamu baik-baik aja, aku harus segera pulang," ucapan Karel membuar Rena membeku. Baru kali ini Karel menolaknya. Biasanya Karel bersedia melakukan apa saja meskipun tidak diminta. Bahkan saat Rena dengan keras kepala mengusir Karel dari apartemennya, laki-laki itu akan tetap berdiam di sana hingga Rena merasa lebih baik. Tapi kenapa tiba-tiba saja Karel menjadi seperti ini?
Karel mengangguk, "Maaf."
"Kenapa?" Rena minta penjelasan.
"Aku nggak mau Acha nungguin aku," Karel sendiri kaget dengan alasan yang keluar dari mulutnya. Tapi jujur saja, walaupun raganya di sini tapi pikirannya tak pernah lepas dari Acha.
__ADS_1
"Acha? Tunangan kamu?" Rena memastikan.
Sekali lagi Karel mengangguk.
"Kamu beneran serius mau nikahin dia?" Rena seolah tak percaya. Karel memang nekat. Rena tentu saja sudah mendengar berita pernikahan dua anak konglomerat itu. Tapi dia pikir, itu hanya tindakan impulsif Karel saja karena telah dia tolak berkali-kali.
"Kenapa aku harus main-main dengan pernikahan? Tanggalnya udah ditentuin. Aku akan segera menikahi Acha."
Kalimat Karel membuat pusing kepala Rena. Yang selama ini dia yakini, Karel hanyalah seorang adik kecil baginya. Seorang teman sekaligus keluarga yang selalu ada di saat dia membutuhkan. Tapi disajikan kenyataan bahwa sebentar lagi lelaki itu akan menjadi suami orang membuat perasaannya bercampur aduk.
"Kamu.. kamu tega ninggalin aku kayak gini?" Rena meratap. "Rel, kamu kan tau aku nggak bisa sendirian kalau lagi kayak gini. Aku butuh temen."
"Makanya itu aku dateng. Tapi aku juga nggak bisa lama-lama ninggalin Acha."
Rena kecewa, "Kamu berubah, Karel."
Lelaki itu menghembuskan nafas berat, "Hidup itu memang selalu berubah Rena. Aku sekarang punya Acha. Nathan juga udah menjalani kehidupan baru sama istrinya. Jadi buat apa kamu masih saja nangisin Nathan? Jalani hidup kamu sendiri. Kamu berhak dapet yang lebih baik dari Nathan."
__ADS_1
Wanita itu menggeleng. Dia kembali memeluk Karel. "Aku nggak bisa Karel. Kalau kamu juga ngejauhin aku kayak gini, gimana aku nantinya?"