Erstwhile

Erstwhile
6. Little Piggy


__ADS_3

"Makanya kamu jangan bikin ulah mulu. Buruan kawin, biar Papi lebih enteng mikirnya" mulut Aldrich memang terkadang menyebalkan. Satu hal yang paling Acha ingin hindari, membahas tentang pernikahan. It's not beautiful subject to discuss. Karena yang akan mereka bahas bukan rencana indah pasangan pengantin pada umumnya, tapi lebih seperti menimbang-nimbang lelaki mana yang akan memberikan investasi bisnis paling baik.


"Oh God.. putri kecil Mami bakalan nikah sebentar lagi. Kayaknya baru kemarin Mami nina-boboin, sekarang kamu udah siap dipinang orang kayak gini" sang ibu mengeluarkan mode melankolisnya sembari menunggu koper-koper Acha dimasukkan ke dalam Aston Martin milik sang anak lelaki.


"No Mom, Acha itu masih kecil. Masak buru-buru dinikahin sih?" balas Acha penuh kegemasan, bak gadis lima tahun yang memaju-majukan bibirnya agar supaya terlihat lebih imut.


"Yuk masuk. Nanti keburu jalanan macet" sela Aldrich membukakan pintu mobil untuk kedua wanitanya itu.


"Thank's kakak" sang ibu menepuk bangga punggung anak tertuanya. Aldrich memang lelaki gentlemen. Lihat saja bagaimana dia memperlakukan sang ibu, wanita mana yang tidak akan luluh melihat itu. Tapi sayangnya, cincin pernikahan sudah menghias jari manisnya.


"Thank's piggy" kali ini sang adik yang seperti biasanya selalu menjahili kakaknya dengan berbagai cara. Sementara itu, sang kakak hanya membalasnya dengan cubitan kuat di pipi, "Awh! Mam.. kakak cubit adek" lapornya ke sang Mama.


"Enggak Mam, adek duluan yang manggil kakak piggy" satu juluran lidah dihadiahkan Aldrich ke adiknya sebelum lelaki itu menempatkan diri di kursi pengemudi.


"Kalian ini sudah gedhe-gedhe masih aja kayak anak kecil. Acha juga, udah mau nikah stop ledek-ledekan gitu sama kakaknya" sang Mama menasehati.

__ADS_1


"Mam.. Acha kan masih kecil. Nikah-nikah mulu yang dibahas" protes anak itu bersamaan dengan mobil yang mulai bergerak dan melenggang membelah jalan.


"Iya tuh Mam, kapan coba dewasanya. Mainnya barbie terus sih" tentu saja Aldrich tak akan melewatkan kesempatan meledek adik kecilnya.


"Kakak ih.." yang diledek semakin mengerucutkan bibir.


"Ngomong-ngomong soal pernikahan, adek udah punya pacar? Apa Mami yang cariin adek calon?" wanita yang lebih tua itu membuka topik pembicaraan.


Acha mendesah. Pacar atau calon suami definisi ibunya adalah anak laki-laki konglomerat yang bibit bobot bebetnya harus jelas, sederajat, dan tanpa cacat. Cowok famous kampus, anak karyawan biasa, dan artis-artis tampan yang lagi naik daun tidaklah masuk nominasi.


"Pacarnya adek bukannya yang waktu di SMA itu ya Mam.." celutuk sang kakak yang dengan kejamnya membangkitkan memori masa lalu terindah Acha. Huh, ingin sekali Acha memukul kepala saudara sedarahnya itu.


Andai saja sang ibu tahu, bagaimana kacaunya hati anak perempuannya karena lelaki itu.


"Kalau buat nikah ya harus yang bibit, bebet, bobotnya unggul. Adek kamu kan udah besar, jadi udah bisa memilah sendiri dong" jelas istri bos besar itu. "Yang waktu SMP itu loh dek, mantan kamu siapa namanya? Emm.. pokoknya yang punya Ardhana Group itu, denger-denger udah mau nikah ya? Sayang belum jodoh ya sama kamu, padahal dulu Mami Papi seneng banget pas kamu ngenalin dia pacar kamu"

__ADS_1


Acha memutar bola matanya. Tidak bisa kah topik pembicaraan ini disudahi? Baru beberapa menit pulang ke negaranya, kenapa sudah begini saja yang harus dia hadapi?


"Mam.. masak apa di rumah?" usaha Acha mengalihkan pembicaraan. Perjalanan Boston-Jakarta sangat melelahkan, ditambah kuliah singkat ibunya tentang pernikahan, membicarakan tentang makanan mungkin saja akan mengembalikan mood-nya.


"Bibi masak rendang favorit kamu lah dek"


"Hah? Rendang?" Benar kan.. wajah Acha yang tadinya masam kembali bersinar cerah. Entah sudah berapa lama lidahnya tidak merasakan perpaduan kaya rempah-rempah khas negara kelahirannya di satu masakan daging kesukaannya itu. Meskipun dia bisa menemukan rendang di beberapa restaurant di Boston, tapi tentu saja rasa masakan rumah sendiri tidak akan pernah terkalahkan.


"Ada juga sate, soto betawi, pokoknya semua favorit kamu dimasakin bibi" ibunya menambahi.


Meskipun berasal dari keluarga berada, tapi tetap saja jajanan lokal dan street food jadi favorit Acha. Masakan-masakan mahal di restaurant bintang lima, maupun hidangan kolaborasi beberapa chef ternama kadang terasa kurang memuaskan di lidahnya. Come on, it's Indonesia. Surganya kuliner dunia. Bahkan makanan pinggir jalan pun bisa seenak Michelin star. Bukannya melebih-lebihkan, tapi bukankah karena rempah-rempah dulu negara ini dijajah? Rempah-rempah yang memperkaya cita rasa setiap masakan khas Indonesia.


"Kyaaa... Thank's Mami. You are the best" teriak Acha penuh kegirangan. "Kakak cepetan dikit nyetirnya. Acha keburu laper ini!" dia menghentak-hentakknan kakinya tidak sabar.


"As you wish piggy" sahut kakaknya mempercepat laju kendaraan.

__ADS_1


"Mam..! Kakak panggil adek piggy!"


Dan perdebatan bak anak kecil pun dimulai kembali.


__ADS_2