
"O iya.." lanjut perempuan paruh baya itu, "Tita gimana? Udah ada tanda-tanda dapet momongan?"
Sebuah senyum kaku sangat kentara terlukis di bibir Tita, "Doakan saja Ma," jawabnya kurang memuaskan.
"Masih belum ya?" ekspresi sok peduli terlihat di raut wajah ibu mertuanya, "Kamu jada badan baik-baik, istirahat yang cukup, makan makanan yang bergizi. Bisa-bisa nanti keduluan Karel dapet momongannya. Ya kan Rel?"
Yang ditanya tersenyum lebar. Sementara perempuan di sebelahnya sedang mencengkeram erat ujung meja. Bibirnya terkatup rapat dan pipinya merona merah. Pasalnya, jari-jari Karel menelusup ke balik gaun Acha. Bermain-main di mahkotanya yang tidak tertutup kain apa pun. Dengan seenaknya, jari Karel keluar masuk di sana. Membuat dahi Acha penuh dengan keringat.
"Mama mau cucu laki-laki apa perempuan?" bisa-bisanya Karel menampakkan ekpresi biasa saja sementara Acha sedang menahan untuk tidak mendesah.
"Kamu ini bisa aja!" Mamanya tertawa lebar. "Loh Acha, kamu kok keringetan?"
"Kepedesan ya kamu Cha?" sahut Karel sebelum Acha bisa membalas.
"Kepedesan?" Mamanya menaikkan satu alis, "Tita, kamu ambilin susu di kulkas ya?"
Tapi sebelum ketika menantunya itu bangkit dari kursi hendak pergi ke kulkas, suami yang duduk di sampingnya juga ikut berdiri. Dia menggengam tangan Tita dan berkata dengan tegas, "Kami udah selesai makan, Mah, Pah. Selamat malam," ketus Nathan menarik istrinya pulang.
"Mah, ini udah malem. Sebaiknya Karel antar Acha pulang juga" ucap Karel begitu punggung kakaknya sudah tidak terlihat lagi. Lagi pula acara makan juga sudah selesai. Dan yang paling mendesak adalah, Acha sudah merasa tidak nyaman dengan sensaisi lengket di bawah sana.
"Oh.. baiklah" ibunya tersenyum. "Kalian hati-hati ya. Salam buat orang tua kamu, sayang" dia membelai rambut Acha dengan sangat lembut.
"Iya Tante, Om, makasih. Acha pamit dulu," gadis itu dengan santun memohon diri. Begitu lepas dari pengelihatan orang tua Karel, Acha buru-buru menaiki mobil Karel dan mengecek selangkangannya. Shit! Ujung gaunnya sampai basah oleh cairannya sendiri.
***
Mobil Karel terpakir di pinggir jalanan yang sepi. Mahkota Acha kepalang basah karena permainan jari-jari Karel di bawah meja makan kala itu. Mereka memutuskan untuk berhenti sejenak dan memberikan Acha pelepasannya.
__ADS_1
"Sudah selesai. Ayo kita lanjutkan perjalanan" Karel kembali ke kursi pengemudi dan mulai menjalankan mobilnya.
Acha yang masih berantakan mencoba merapikan diri. "Aku tak percaya baru saja membiarkanmu memakanku lagi" gerutunya sebal.
"Bukankah itu bukti kalau aku melakukannya dengan baik? Sampai-sampai kau tidak bisa menolakku" ucap Karel dengan sangat bangga.
"Lain kali aku harus melakukannya dengan orang lain agar bisa membandingkannya dengan kehalianmu" cicit Acha sekenanya.
Ciiiit..
Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak. Karel menginjak rem dengan tiba-tiba karena perkataan Acha.
"Hei! Hati-hati!" tegur perempuan itu.
"Maaf. Ada kucing," bohongnya. Padahal dia terganggu karena Acha bilang harus melakukannya dengan orang lain.
"Itu kan semasa kita menikah. Aku masih punya waktu sebelum pernikahan," cicitan gadis itu membuat Karel menggengam kemudinya lebih erat.
"Jadi kau akan diam-diam mencari laki-laki lain untuk ditiduri sebelum pernikahan kita?" Karel memastikan.
"Kenapa tidak?" Acha mengendikkan bahu.
Jawaban itu tentu saja membuat sesuatu di dalam diri Karel terbakar. Tanpa sengaja, dia mempercepat laju mobilnya.
"Oh iya, ngomong-omong apa ibumu selalu seperti itu?" tanya Acha tiba-tiba membuat Karel mengalihkan pandangannya sejenak ke wajah Acha.
"Maksudku memperlakukan Tita seperti itu?" jelas Acha kemudian.
__ADS_1
Karel menghirup nafas panjang, "Pernikahan bukan hanya sebatas antara dua individu, tapi berkaitan dengan dua keluarga besar. Jika di antara dua keluarga besar itu terdapat kesenjangan terlalu jauh, apa kau pikir akan mudah menyatukannya?"
Acha menekuk wajahnya, "Kasian Tita."
"Itu harga yang harus dia bayar karena telah memilih kakakku. Mereka hanya butuh waktu untuk saling beradaptasi. Meskipun itu tidak mudah," komentar Karel selanjutnya.
"Tapi bukankah mereka saling mencintai?"
"Cinta saja tidak cukup untuk melangsungkan sebuah pernikahan. Justru permasalahan di kehidupan rumah tangga merekalah yang akan menguji cinta mereka. Apakah mereka bisa melaluinya atau tidak" Karel membelokkan mobilnya di tikungan dekat rumah Acha.
"Pernikahan itu memang merepotkan. Untung kita menikah tanpa cinta" celutuknya.
"Memangnya kenapa kalau tanpa cinta?"
"Tidak perlu banyak drama."
Karel menghentikan mobilnya di depan rumah Acha. "Sudah sampai."
Acha menggeliat, "Akhirnya!" gadis itu bersiap melangkah keluar.
Tapi sebelum tangannya meraih gagang pintu, Karel tiba-tiba menariknya hingga bersandar kembali ke punggung kursi sebelum menempelkan bibirnya di bibir Acha. Tangannya menelusup di antara rambut Acha yang menjuntai di sekitaran leher. Acha menutup matanya menikmati setiap sesapan Karel. Kali ini mereka melakukannya tanpa nafsu. Sebuah ciuman yang hangat dan lembut.
Setelah beberapa detik, Karel menarik diri. Matanya bertemu pandang dengan manik kecoklatan milik Acha. "Selamat malam" kalimat itu terucap lirih namun manis dari bibirnya.
Ada sesuatu yang berdegub di dalam diri Acha. Sangat keras dan sangat kentara. Tak ingin Karel mendengarnya, Acha buru-buru membuka pintu mobil. "Selamat malam," jawab Acha sebelum berlari masuk ke dalam rumah.
Debaran hati sialan! Jangan sampai Acha tidak bisa tidur karena ada yang berdetak hebat di dada sebelah kirinya.
__ADS_1