Erstwhile

Erstwhile
41. Juliet Rose


__ADS_3

"Minggir sana! Kamu bikin sumpek," Acha mencoba mendorong tubuh Karel yang menindih tubuhnya. Tetapi kepala laki-laki itu sunggul bebal tak mau mendengarkan kata-kata Acha.


"Tidak mau. Aku suka menempel di kulitmu," Karel semakin menenggelamkan hidugnya di leher Acha menikmati wangi vanila gadis itu.


Pemotretan mereka seudah berakhir sejam yang lalu. Setelah membersihkan diri, Acha bersantai di hammock yang mengarah ke lepas pantai, menikmati matahari yang sebentar lagi akan tenggelam di genangan air tak berbatas itu. Dia hanya mengenakan sebuah kain pantai yang tipis dan menerawang, membuat Karel tak bisa menahan diri untuk menyentuh kulitnya.


"Aku ingin menikmati sunset dengan damai. Bukan dengan tanganmu yang menjamah kemana-mana. Awh.. pelan-pelan Karel!" Acha tak bisa menagan tangan Karel yang sudah bergerilya kemana-mana. Untung ini pulau pribadi. Mereka tak perlu memusingkan kemungkinan akan ketahuan orang. Toh, jika sial, hanya karyawan kakeknya yang akan memergoki. Itu pun tidak mungkin. Jika ada tamu yang sedang ingin menikmati waktu sendiri, biasanya mereka tidak akan mendekat ke spot-spot tertentu.


"Sudah aku bilangkan aku tidak tahan jika tidak menyentuh wanita? Salah sendiri kau begitu menggairahkan," Karel mengulum kuping Acha sementara tangannya meremas-remas gundukan Acha tanpa henti.


"Ahh.. Karel," wanita itu memegangi tangan Karel.


"Payudaramu sepertinya bertambah besar," komentar lelaki itu sebelum menurunkan tali strip Acha hingga payudaranya terespos. Acha dapat merasakan sediran angin pantai yang dingin sebelum putingnya di raup mulut Karel yang panas.


"Emph.. berkat siapa jadi seperti itu?" Acha meremas rambut Karel. Ini sesuatu yang benar-benar baru. Berayun di hammock dengan mulut Karel menyusu padanya. Menikmati matahari yang akan tenggelam tidak pernah senyaman ini. Apalagi sekarang jari Karel sudah mengelus masuk ke paha dalamnya.


Karel melepas pangutannya dari bukit kembar Acha dan beralih ke lehernya, "Tentu saja tanganku."


"Akh.. pelan-pelan Karel!" jerit Acha merasakan jari Karel masuk begitu saja ke lubang senggamanya.


"Maaf. Dinding-dindingmu begitu mengetat. Jariku serasa disedot masuk oleh liangmu," kata kotor lelaki itu justru membangkitkan sesuatu dari diri Acha di bawah sana.


"Eung.." Acha mengalungkan tangan di leher Karel, "Di sana, Karel!" dia mengigit bibir bawahnya menahan sensasi nikmat gerakan jari-jari Karel.


"Di sini?" Karel menekan tombol ekstasi Acha.


"Iyah..," jawabnya seraya menutup mata, "Di situ! Lagi! Ahh.."

__ADS_1


"Kau benar-benar partner seks yang luar biasa. Aku bisa keluar hanya dengan memandangi wajahmu yang horny seperti ini," Karel menikmati rona kemerahan di pipi Acha. Rambut berantakan, dahi berpeluh, mata terpejam, dan bibir bawah yang sedikit digigit cukup untuk membuat kejantanan Karel membesar ingin dipuaskan.


"Emph.. aku tahu aku memang sulit ditolak," susah payah Acha menanggapi kalimat Karel. Padahal kepalanya sudah memutih dan tubuhnya terasa terbang ke awang-awang.


"Apa jariku cukup membuatmu puas? Bagimana kalau dimasuki yang lebih besar?" tawar Karel menaikkan satu alisnya.


"Apa?" milik Acha sudah kepalang basah.


"Naiklah ke atasku, sayang!" Karel melepaskan jarinya yang berlumuran cairan kental Acha. Kemudian dia menarik tubuh Acha agar menindih tubunya dari atas. Sekarang mereka sudah saling berhadapan. Pantat Acha tepat di atas celana menggembung Karel.


"Buka restletingku!" Karel sangat menyukai menyuruh Acha melakukan ini itu saat mereka bergelung asmara.


Ini benar-benar surga dunia. Karel sampai lupa rasa sakit di punggungnya.


***


"Masih jauh?" Acha memiarkan tangan Karel memeluk pinggangya dan  menurunkan gadis itu dari atas batu besar.


"Sudah sampai!"


Mata Acha membelalak mendapati ratusan mawar yang tengah bermekaran merekah indah di tengah perkebunan itu.


"Woaah.. ini sangat cantik!" mulutnya tak berhenti mengagumi gradasi warna peach yang membungkus jutaan kelopak mawar itu. Belum pernah dia melihat bunga mawar dengan warna seindah ini.


Meninggalkan Karel, dia berlati ke arah sebuah bunga yang tengah merekah dengan indahnya. Dihirupnya wangi lembut menyegarkan yang pasti akan memabukkan setiap kumbang yang datang.


"Bunga ini dibudidayakan oleh nenekku." Karel mengekor Acha dari belakang. "Kau menyukainya?"

__ADS_1


Acha mengangguk. Dia memetik satu tangkainya tanpa permisi.


"Kau tau sesuatu?" tatapan Karel tak berpaling dari wajah ceria Acha, "Bunga yang baru saja kau petik itu namanya Juliet Rose. Hanya bisa berbunga setiap lima belas tahun sekali. Makanya harganya mencapai dua ratus milyar."


Mata Acha membelalak, "Dua ratus milyar?" dia menatap tak berkedip setangkai mawar yang sudah terpetik di tangannya. Sungguh bodoh, bagaimana bisa dia memetik bunga langka itu semaunya sendiri.


"Jadi, bagaimana kau akan ganti rugi karena sudah memetiknya sembarangan?" ucap Karel menggoda.


Bukannya Acha tidak mampu menebus dua ratus milyar, hanya saja pasti dia akan mendapat omelan tak berujung dari ibunya.


"Berikan nomor rekeningmu. Aku akan mentranfernya nanti," Acha serius menanggapi.


"Tapi aku tidak menerima uang. Bagaimana kalau satu malam yang hangat dan menggairahkan?" Karel menaik-turunkan alisnya.


"Mesum!" sahut Acha menyelipkan bunga yang dipetiknya di daun telinga Karel. Dia tertawa, "Kau sangat lucu dengan bunga di telinga seperti ini," ledek gadis itu.


Karel membiarkan gadis itu mendadaninya seperti badut. Senyum cerah yang diberikan gadis itu sudah terlanjur memikatnya.


"Sebentar lagi, bunga-bunga di sini akan siap di panen. Nenek akan memberikannya sebagai dekorasi pesta pernikahan kita," Karel memberi tahu.


Acha terkesiap, "Yang benar saja? Bunga semahal ini?" serunya tak percaya.


Karel menarik pinggang Acha mendekat, "Bukankah aku sudah bilang, aku akan memastikan orang-orang iri dengan pernikahan kita. Itu kan konsep yang kau minta?"


Wanita mana yang tidak tersentuh dengan perkataan seperti itu. Tanpa sadar Acha berjinjit dan menempelkan bibirnya sekilas di bibir Karel. "Terimakasih," cicitnya lembut.


Gerakan Acha yang tiba-tiba itu membuat Karel membulatkan mata. Dia berkedip beberapa kali sebelum mendapatkan kesadarannya kembali. Di tengah kebun bunga yang sedang merekah indah, dan bersitan cahaya keemasan matahari yang sebentar lagi turun ke peraduannya, Karel sedikit menunduk, menyejajarkan wajah mereka berdua. Bersamaan matahari yang tenggelam, dan burung-burung camar menari di kejauhan, Karel memangut bibir Acha membawanya terhipnotis dalam euforia suasana.

__ADS_1


__ADS_2