
Karel menghembuskan nafas kasar, "Wanita itu hanya makan makanan restauran atau hotel berbintang. Mana mau mencicip masakanku?"
Mendengar jawaban itu Acha sebisa mungkin mengulum senyumnya, "Bagaimana dengan Rubina?"
"Hah? Siapa?" telinga Karel serasa berdenging mendengar nama itu melintas di indera pendengarannya.
"Aku pikir kau pernah punya hubungan yang spesia dengan Rubina?" Acha menahan garpunya di mulut, menanti jawaban Karel.
"Aku? Dengan dia?" mata Karel melebar tak percaya, "Aku berani sunat dua kali kalau sampai itu terjadi," geramnya.
Acha mengangguk-angguk puas.
"Dari tadi kita hanya membicarakan tentang aku. Sekarang giliranmu!" Karel menaruh tangannya di atas meja sangat antusia ingin tau lebih banyak soal Acha.
"Apa yang kau ingin tau soal aku?" Acha menyelesaikan suapan terakhirnya.
Melihat Acha sudah selesai makan, tanpa disuruh Karel menuangkan air putih dari teko dan mengulurkannya pada Acha. "Em.. kau dan Nathan sudah berhubungan sejauh apa?" tanya Karel tak melepas pandangannya dari urat leher Acha yang bergerak naik turun menghabiskan air minum di gelasnya.
"Maksudmu?" Acha meletakkan gelasnya di atas meja.
Tangan Karel maju menyeka sisa-sisa air di bibir Acha, "Maksudku apa kalian sudah pernah berciuman? Petting? Necking? Atau.."
"Pikiranmu, selalu saja seperti itu. Aku dan Nathan hanya sekedar bergandengan tangan. Puas?" Acha menyalak.
"Wow.. kau sangat konservatif!" pujinya. "Bagaimana dengan mantanmu yang satunya, siapa namanya, Fariz?"
Acha sangat tidak suka nama lelaki itu disebut. Dia menjawab dengan emosi, "Dia ciuman pertamaku. Tapi ciumannya sangat payah. Aku bahkan tidak sudi mengingatnya!"
Karel terkikik, "Untung malam pertamamu layak diingat. Iya kan? Kautak salah memilih pria untuk mengambil perawanmu," dia menyombongkan diri.
__ADS_1
Pipi Acha memerah karena sekelibat memori itu kini membanjiri kepalanya. "Aku sudah selesai makan. Piringnya akan ku cuci," Acha turun dari kursinya.
Karel menahan, "Biar aku saja yang mencucinya. Kau baru saja mewarnai kukumu kan? Nanti rusak."
"Baiklah kalau kamu memasaksa. Dicuci yang bersih ya tuan pemaksa!" ledeknya menyerahkan piring bekas makannya. "Aku mau menonton TV saja di ruang tengah," Acha memunggungi Karel bersiap melangkah pergi.
Plak!
Tiba-tiba sebuah tangan besar menampar bongkahan pantat sintalnya.
"Karel!" teriak Acha menoleh ke belakang.
Karel hanya terkekeh di sana, "Siapa suruh punya pantat seksi?"
Alis Acha saling bertautan. Dia siap menerkam Karel kapan saja.
"Kenapa? Mau membalas? Nih!" dengan suka rela Karel menyodorkan bokongnya pada Acha.
***
Malam semakin larut, tapi sepertinya Karel tak pernah kehabisan ide untuk permainan-permainan panasnya.
"Em.. Bebek?" Acha menebak. Karel menggerakkan tangannya di atas perut rata Acha. Dia menuliskan sesuatu yang harus Acha tebak. Jika salah maka Acha akan mendapat hukumannya. Itu lah permainan yang sedang mereka lakukan,
"Ding dong! Salah!" Karel menepuk pahanya memberi isyarat untuk Acha menerima hukuman.
Gadis itu mengerucutkan bibir namun tetap menelungkupkan badan di atas kedua paha Karel. Dia hanya mengenakan bra dan celana dalam semetara Karel bertelanjang dada.
"Sepuluh kali kan?" sebelum melakukan ancanga-ancang, Karel mengelus dan sedikit meremas bokong Acha terlebih dahulu.
__ADS_1
"Buatlah jadi lima?" tawar gadis itu dengan muka merajuk.
Karel menggeleng. "Tenanglah, aku akan pelan-pelan. Kau yang berhitung!"
Plak!
Karel mulai menampar pantat seksi wanita itu.
"Satu.." Acha mulai berhitung. "Jangan keras-keras!" dia mengingatkan sekali lagi.
Plak!
Karel menampar sekali lagi, kali ini lebih lembut.
"Dua.." Acha melanjutkan menghitung.
Begitulah selanjutnya sampai hitungan kesepuluh. Acha memeriksa apakah bokongnya memerah sementara Karel tersenyum lebar sangat menyukai kekenyalan pantat Acha di tangannya.
"Sakit?" Karel tampak peduli.
Acha menggeleng, "Tidak terlalu. Hanya terasa panas," keluhnya.
Karel sedikit mengelus bongkahan pantat Acha untuk mengurangi sensasi panas yang dirasakan gadis itu.
"Sekarang gantian!" Acha berjingkat senang, dia lalu mulai menggerakkan jarinya di dada telanjang Karel. "Sudah, coba tebak apa yang aku tulis?"
"Aku mencintaimu?" jawaban Karel membuat Acha membeku untuk beberapa detik. Jika saja tidak ingat bahwa mereka sedang berada di tengah permainan, mungkin Acha akan merasa sangat kikuk karena Karel mengucapkannya dengan sanggat sungguh-sungguh.
"Salah!"teriakannya mencairkan suasana. "Berarti sekarang kau yang dihukum!" dia kegirangan.
__ADS_1
"Jangan terlalu brutal!" Karel mengingatkan sebelum terbaring pasrah di atas ranjang.
"Kau tak usah khawatir," Acha menduduki badan Karel, "Aku pastikan kau akan berteriak kencang!" gadis itu menakut-nakuti.