Erstwhile

Erstwhile
15. Brunch


__ADS_3

“Baju gue kapan sampainya?” Acha bertanya.


Karel menoleh, menatap wajah yang mendesah layu meneriakkan namanya itu tadi malam. “Nanti siang” jawabnya singkat.


“Lama banget?” protes Acha.


“Sengaja. Gue suka liat lo nggak pake baju”


“Karel..!”


Sekali lagi Karel terkikik mendapati reaksi marah yang menurutnya sangat lucu. Lihat saja bagaimana alis Acha bertautan dan bibirnya yang mengurucut ke depan. Sungguh gadis itu sangat menggemaskan.


“Ya udah nih” Karel menarik kemejanya ke atas.


“Eits, mau ngapain?” Acha was-was melihat pergerakan Karel membuka baju.


“Lo pake aja baju gue sampai baju lo dateng” Karel mendekat dan memakaian kemeja putih polos itu ke tubuh Acha. Meskipun tidak menutupi badannya dengan wajar, tapi itu yang justru membuat Acha semakin terlihat seksi. Pantatnya mengintip dari ujung bawah, dan putingnya tercetak jelas di balik kain polos itu. Sementara kerahnya sama sekali tidak bisa menyembunyikan maha karya Karel yang tersebar di lehernya. Sungguh, pemandangan pagi hari terindah yang pernah Karel lihat.


Acha menarik nafas panjang menatap menu sarapan yang dipesan Karel. Seekor Kepiting Alaska tersaji dengan asap yang masih mengepul dan garnish di sana-sini. Ukurannya yang tidak wajar membuat Acha tercengang. Tidak mungkin satu orang bisa menghabiskan itu semua.


“Lo mau bunuh gue?” lontar Acha tak suka.

__ADS_1


“Katanya pesenin yang paling mahal. Ya itu yang paling mahal”


Acha mengigit bibirnya sendiri. Jika dipikir-pikir, Karel memang tidak salah.


“Jangan gigit bibir” cicit Karel melihat ekpresi Acha.


“Huh?” gadis itu tidak mengerti.


“Gue kan jadi ketrigger pengen gigit bibir lo juga”


“Mesum!” Acha melepar potonga lime dari piring di depannya.


Tentu saja sangat mudah dihindari Karel. Laki-laki itu protes, “Makanan bukan buat dilempar-lempar. Nih makan” dengan sangat lihai, Karel memotongkan salah satu kaki kepiting itu dan mengambilkan dagingnya untuk Acha.


“Sekalian. Lo kan ngebo. Bangun-bangun udah mau siang” Karel tetap fokus pada kegiatannya memisahkan daging untuk Acha.


“Oh My God” Acha baru inget, “Gue nggak pulang dong semalam? Trus orang tua gue?” gadis itu kelabakan mencari ponselnya.


Karel menahan tangan Acha untuk tidak meninggalkan meja makan, “Lo tenang aja. Gue udah bilang sama orang tua lo.”


“Bilang apa?”

__ADS_1


“Tadi malem hujan lebat. Gue telepon bokap nyokap lo. Tapi katanya nggak usah dianter pulang nggak papa. Bahaya hujan-hujan gitu. Mana anginnya kenceng.”


“Sumpah? Orang tua gue bilang gitu?” Acha mengernyit. Bisa-bisanya ayah ibunya membiarkan anak bungsunya dibawa laki-laki semalaman.


Karel mengangguk. “Udah nih habisin dulu makannya. Lo butuh banyak energi”


“Energi buat apa?”


“Ronde ke dua”


“Hah?”


“Ayolah. Lo seksi banget pake baju gue kayak gitu. Adek gue yang dibawah udah nggak tenang nih”


“Mesum!”


“Emang. Lo minta banget dimesumin. Mana gue tahan.”


“Arrrghh..! Gue mau pulang”


“Ya sono pulang. Tapi balikin dulu baju gue”

__ADS_1


Hufh.. Acha mendesah kalah.


mana mungkin dia keluar dari ruangan ini tanpa sehelai benang pun. Di mana juga laki-laki itu menyembunyikan ponselnya. Kalau seperti ini kan Acha tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2