
Acha memandang simpati lelaki di pangkuannya. Entah mengapa, hatinya tergerak untuk menghibur Karel. "Bukankah setiap manusia lahir dengan perannya masing-masing? Ada yang menjadi entrepreneur, ada yang menjadi karyawan, bahkan ada yang menjadi tukang nasi goreng di pinggir jalan. Kita tidak bisa menilai satu pekerjaan lebih baik dari pada pekerjaan yang lain. Semuanya saling bersinergi. Seorang entrepreneur membutuhkan karyawan untuk mengelola perusahaan, karyawan dan entreprenur membutuhkan tukang nasi goreng untuk memasakkan makanan bagi mereka, dan tukang nasi goreng mungkin saja memakai produk yang diproduksi entrepreneur itu. Jadi, tidak masalah kau tidak pandai berbisnis. Selama kamu bisa menyumbangkan sesuatu yang positif untuk orang lain, jadi apapun tidak masalah kan?"
Karel mengambil nafas berat, "Kau benar, hanya saja, kau tidak tau bagaimana rasanya selalu hidup di bawah bayang-bayang kakakmu, dan selalu menjadi nomor dua. Beruntung sekali kau seorang wanita, orang tuamu tidak akan terlalu menuntutmu menjadi sesempurna kakakmu."
Acha tidak setuju, "Tapi menurutku, justru kau yang beruntung karena telah terlahir sebagai laki-laki. Orang di luar mungkin memandang kehidupanku sangat sempurna. Punya keluarga kaya, secara ekonomi tercukupi, tapi kami sebagai anak perempuan seorang konglomerat punya tugas yang sama. Kau tau apa?"
Karel mengerutkan dahinya, "Apa?"
"Menikahi anak konglomerat lain yang kaya dan super menyebalkan hanya demi memperkuat jalinan bisnis orang tuanya. Hanya sedikit dari kami yang bisa menikah atas dasar cinta seperti dongeng-dongen romantis di luar sana. Jadi janganbesar kepala jika aku keluargaku menerimamu sebagai calon menantu mereka. Yang mereka sambut adalah uangmu, bukan kamu."
"Sad but true." Karel bangkit dari pangkuan Acha. "Coba tebak siapa yang baru saja menghiburku ke awang-awang lalu menjatuhkanku ke dasar samudra? Nona cantik ini yang melakukannya." Karel mengalungkan tangannya di leger Acha dan wajahnya mendekat hingga hampir menempel di pipi Acha.
"Aku tau aku cantik. Awas, kau bisa terpesona nanti!" Acha bersedekap dada.
__ADS_1
"Tapi kau baru saja membuatku sedih. Bisa-bisanya mengatakan Ayah mertua hanya menginginkan uangku. Lihat saja, nanti aku akan membuat Ayah mertua benar-benar menyayangi anak menantunya," ucap Karel penuh percaya diri.
Acha memutar bola matanya, "Yang benar saja?"
"Tapi kau harus bertanggung jawab terlebih dahulu karena membuatku sedih," rajuk lelaki itu.
"Maksudmu?" Acha menoleh tak mengerti. Wajah mereka kini berhadap-hadapan dan hanya menyisakan jarak satu centimeter.
Paham apa yang diminta Karel, Acha menolak dengan tegas, "Dasar mesum! Jauhkan tanganmu dari badanku!" tegas gadis itu.
"Tidak mau!" Karel malah menubrukkan bibirnya di bibir Acha dan menciumnya kecil-kecil.
"Hei! Kau curang!" Acha berusaha menghindari serangan Karel, tapi tubuh besar itu segera menindih dan menghimpit tubuhnya ke sofa.
__ADS_1
"Ayolah Cha.. Bukankah aku bilang kau sangat seksi dilihat dari bawah?" lelaki itu mulai menggelitiki titik-titik sensitif di leher Acha, membuat sang gadis tertawa cekikikan.
"Menjauh dariku! Kau membuatku geli!" suara Acha diantara cekikikan tawanya.
"Atau bagaimana kalau mulutmu bermain-main dengan senjataku. Ayolah.. kau belum pernah merasakan sensasinya kan?"
"Itu menjijikkan Karel!"
"Cobalah dulu. Kau pasti akan suka!" Karel tidak menyerah. Kini tangannya sudah menelusup di balik blouse Acha dan meremas gundukkannya.
"Eungh.." Acha menggigit bibir menahan desahannya.
"Bermain-main denganku di ketinggian ribuan kaki dari atas bumi seperti ini, apa kau yakin tidak mau?" bisikan sensual Karel di dekat telinga membuat tubuh Acha langsung bereaksi.
__ADS_1