
Ini bukan pertama kalinya Acha menaiki jet pribadi. Tapi yang jelas Gulfstream G-5 buatan Amerika yang ternyata kepemilikannya atas nama Karel sendiri ini lebih canggih dari pada British Aerospace 146 milik ayahnya. Lihat saja bagaimana interiornya didesain senyaman mungkin, dengan bingkai jendela yang memendarkan cahaya redup kebiru-biruan membuat rileks suasana. Belum lagi sebuah meja bar dengan koleksi minuman-minuman mahal, LED Screen beserta perlengkapan home teather yang besarnya hampir memenuhi badan pesawat, dan tentu saja sofa-sofa empuk berwarna chiffon yang mengundang siapapun untuk bermalasan-malasan.
Karena ini adalah jet pribadi, tidak banyak tempat duduk yang disediakan. Mungkin hanya muat untuk dua puluh penumpang. Namun Karel mempunyai sebuah ruangan sendiri dengan sofa panjang dan besar yang menjadi favoritnya. Tunggu, ini tidak layak di sebut sofa. Ukurannya bahkan cukup luas untuk berbaring.
"Minggir! Kau pikir kaki ku bantal?" Acha tak terima pahanya dijadikan bantalan kepala Karel yang berat. Punggungnya bersandar pada ujung sofa dan kakinya menjuntai ke lantai. Dalam posisi santai seperti itu bisa-bisanya Karel bertingkah seperti bocah.
"Aku tidak mau! Aku mau tiduran seperti ini!" Karel memaksa.
__ADS_1
"Tapi kepalamu berat!" tangan Acha berusaha menggeser kepala Karel, tapi percuma, Karel tak bergeming dari posisinya.
"Sebentar saja! Nanti kita boleh bertukar posisi."
Acha memutar bola matanya, "Siapa juga yang mau bertukar posisi?"
"Aku memaksa," Karel tidak mau di debat.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, aku baru tau kalau kau punya jet pribadi. Maksudku, jet pribadi yang benar-benar di bawah namamu." Acha memandangi wajah lelaki itu dari atas. Jika dilihat dari posisi seperti ini entah mengapa naluri keibuan Acha menggelitik keluar. Karel benar-benar seperti bayi besar yang menggemaskan. Tanpa sadar tangan Acha terangkat dan mengusap rambut Karel pelan-pelan.
"Kau tau kan semasa sekolah aku tinggal di Jerman bersama kakek nenekku. Saat usiaku tujuh belas tahun aku mengikuti sebuah olimpiade robotik di sana. Ya meskipun aku hanya memenangkan juara harapan, tapi kakek nenekku sangat gembira. Mereka membelikan ini sebagai penghargaan untukku," dengan santai Karel mulau menceritakan kehidupan pribadinya.
"Ternyata selain sebagai bayi bungsu yang manja, otakmu boleh juga" sela Acha tak mau terang-terangan memuji.
"Bukan manja namanya. Tapi dimanjakan. Bukan kah kebanyakan anak bungsu seperti itu. Tak peduli seberapa dewasanya kamu tumbuh, mereka akan tetap mengangapmu anak kecil."
__ADS_1
Benar juga. Sebagai sesama anak bungsu Acha juga merasakannya. Apakah sudah menjadi kodrat alam jika seorang anak bungsu akan selalu dimanja?
Karel menatap balik manik mata Acha yang kini sedang berpusat padanya, "Kakek dan nenekku pernah bilang, aku ini anak yang berbakat. Aku bisa menjadi apa pun yang aku inginkan, tak perlu menuruti orang tuaku yang ingin anak-anaknya menjadi seorang pembisnis. Aku bisa membuat fitur-fitur canggih di smartphone, komputer, bahkan alat-alat penggabungan robotik dan sains komputer. Tapi ayahku belum puas selama aku tidak menguasai strategi bisnis. Dia bilang percuma punya otak cemerlang yang bisa menciptakan banyak hal jika tidak mampu memasarkannya. Orang-orang seperti Nathan, meskipun biasa saja, tapi sangat pintar memanfaatkan orang-orang dengan keahlian sepertiku untuk dijadikan tambang emasnya. Tapi, aku tidak pernah bisa menjadi seperti yang ayahku inginkan. Aku memang tidak berbakat menjadi seorang pembisnis."