
Ada yang berbeda dalam suasana makan malam keluarga Abimana hari ini. Kehadiran putri bungsu Bapak Harimurti Abimana yang telah lama merantau ke negeri orang untuk mengenyam pendidikan tentu saja mengisi kembali keceriaan yang sudah lama hilang. Bagi semua orang di keluarga itu, Acha selalu menjadi kesayangangan yang tak pernah tergantikan.
"Pelan-pelan makannya dek" sang Ibu memperingatkan. Sudah lama Acha tidak merasakan masakan kampung halamannya. Rasa rindu bertahun-tahun akhirnya dia balaskan hari ini.
"E-nuak ba-ngat Mam" ucapnya tidak jelas dengan mulut penuh makanan.
"Tuh kan Mam. Adek persis kek piggy" celoteh Aldrich tak mau kalah.
"Hush. Kakak itu, masak adek sendiri dibilang piggy. Terus Papi apa? Bapaknya piggy?" sahut sang kepala keluarga disambut kekehan tawa semua orang di meja makan.
"Marahin aja tuh Pi si kakak. Piggy kok teriak piggy. Dasar!" sembur Acha melemparkan lalapan kemangi ke muka Aldrich. Tapi dedaunan hijau itu malah mendarat tepat di atas piring Aldrich. Dengan ekspresi meledek, lelaki yang umurnya lebih tua dari Acha itu menyendok lalu mengunyahnya.
"Acha, nggak boleh lempar-lempar makanan!" omel sang ibu melihat kelakuan anak bungsunya.
"Ups.. sorry Mam" jawaban Acha mendapat juluran lidah dari sang kakak.
"Istri kamu kapan pulangnya, kak?" Papi merubah topik pembicaraan.
"Masih ada urusan di Taiwan, Pi. Kalau lancar lusa juga udah take off" sahut putra bungsunya sebelum kembali mengigit paha ayam kremes yang telah dicelupkan ke dalam sambel terasi.
"Gimana nilai saham kamu? Masih aman?" bahasan yang sangat biasa untuk kaum konglomerat seperti mereka di tengah meja makan.
Gara-gara skandal salah satu artis yang berada di bawah labelnya, anak perusahaan MegaTV harus mengalami kegoncangan saham di pasar modal. Akan tetapi, berkat reaksi gesit Aldrich menyikapi permasalahan, semua bisa dikendalikan. "Udah diberesin kok Pi permasalahannya. Sekarang udah stabil" tanggapnya bangga.
__ADS_1
"Bagus. Kalau ada masalah sekecil apa pun emang akar pemasalahannya harus segera dicabut. Jangan samapi nunggu makin gedhe dulu. Bisa game over nanti" nasihat pebisnis berpengalaman itu. "Adek gimana? Kapan mulai bantuin Papi di perusahaan?"
Yang ditanya hanya memutar matanya, "Come on, Pi. Adek baru pulang ini lho. Mau istirahat dulu" ucapnya manja.
"Dasar piggy! Malesan" ledek sang kakak dihadiahi pelototan tajam sang adik.
"Jangan samain adek sama kamu lah kak. Adek kan cewek. Kasian kalau harus ngurus bisnisnya Papi kayak kamu" bela Mami.
"Tul.." Acha mengacungkan jempolnya, "Mami emang the best deh" anak itu bergelayutan manja di lengan Maminya.
"Ya udah. Adek nikah aja kalau gitu" usul Papi.
Bola mata Acha membulat, "Nikah, Pi?"
"Nathan, Pi" Aldrich yang menjawab.
"Yup bener. Nathan. Yang minggu depan mau nikah kan?"
Mami ikut menimpali, "Tuh, mantan kamu aja udah mau nikah. Kamu kapan?"
Yang ditanya hanya mengerucutkan bibir. Sangat tidak menyukai topik pembahasan kali ini.
Aldrich yang melihat adik perempuannya terdiam malah meledek, "Makanya move on. Gagal move on sih kamu. Jadi nggak dapet yang baru."
__ADS_1
"Move on dari yang mana? Pacar adek waktu SMA itu? Adek belum move on dari dia?" Mami penasaran.
Acha gelagapan, "Eh enggak. Siapa bilang? Enak aja Acha belum move on. Enggak ya." Gadis itu bersikeras.
"Kalau udah move on nikah dong!" kalimat Aldrich disambut lemparan lalapan kemangi untuk kedua kalinya.
"Acha! Jangan lempar-lempar makanan!" ibunya mengomel. Kali ini lebih galak daripada sebelumnya.
"Eh iya Mam. Maaf.." lirih Acha sebal melihat kakaknya kembali menjulurkan lidah, meledeknya.
"Kamu udah punya pacar belum sih dek?" tanya Papi.
Acha tersedak.
"Ya belum lah, Pi. Dibilangin Acha tuh gagal move on" yang menjawab adalah kakaknya.
"Enggak ya. Pacar Acha udah banyak. Kakak aja yang nggak tau" sahut Acha penuh percaya diri.
"Coba sini kenalin ke Kakak satu" tantang Aldrich.
"Tauk ah.. Kakak nyebelin" sembur gadis itu.
"Tuh kan bener adek jomblo" ledek sang kakak sekeras mungkin.
__ADS_1
"Iiih... Kakak jelek kayak monyet!"