
Bintang di langit semakin tidak terlihat. Suhu udara pun turun drastis. Tampaknya malam ini hujan akan turun. Tapi restauran di salah satu hotel berbintang ini cukup hangat untuk bercengkerama dua insan manusia itu. Karel sengaja memesan private room agar tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. Terlebih lagi para wartawan dan mata elangnya yang seolah tidak membiarkan Karel dan Acha lepas dari bidikan kamera.
“Jadi, lo mau jelasin apa setelah berhasil bikin nama gue jadi trending topic?” keluh Acha sebal.
Wanita itu tambah kesal mendapati ekspresi di wajah Karel yang nampak biasa saja, seolah-olah tak terjadi sesuatu. Lelaki itu malah sibuk meuangkan Chateu Lafite ke dalam gelasnya sendiri, lalu melakukan hal yang sama ke dalam gelas Acha.
“Lo budek ya? Dengerin gue ngomong nggak sih?”
“Santai dong. Kayak macam bunting aja lo. Galak. Nih minum dulu” Karel menyodorkan segelas wine ke depan muka Acha.
Menahan amarah di dada, Acha langsung menegak minuman beralkohol itu hingga habis tak bersisa. Karel hanya tersenyum tipis melihat Acha mengelap sisa-sisa wine di bibirnya. Bibir merah merekah yang tak pernah puas dia cumbui.
“Nikah yuk!”
Acha cegukan. Laki-laki ini, ngajak nikah kayak ngajak main mobile legend.
“Nih minum lagi. Gitu aja cegukan” Karel mengisi lagi gelas Acha yang sudah kosong.
__ADS_1
Setelah menuntaskan cegukannya, Acha angkat bicara, “Lo mabok ya?”
“Enggak. Kalau gue mabok, gue nggak bakal ngajak nikah, tapi kawin”
Kalimat yang sukses membuat Acha mengernyit. Dasar otak ************.
“Ngapain lo ngajak-ajak gue nikah?” Acha penasaran. “Dan itu tadi apa? Main ngelamar gue di depan umum maksud lo apa, hah?” gadis itu meminta penjelasan.
“Ya maksud gue cuma satu. Ngajak lo nikah. Titik nggak pake koma” jawab Karel dengan segala kebrengsekannya.
“Iya” jawab Karel lugas. “Suka sama punya lo. Anget-anget sempit. Bikin gue ketagihan. Makanya nikah aja yuk” lelaki itu menaik-turunkan alisnya.
Acha mendesis, “Asshole!” umpatnya.
Karel hanya tersenyum santai. “Jadi nggak mau nih? Penawaran gue hanya berlaku hari ini lho” dia masih berusaha.
“Gue nggak sudi” Acha menekan tiap kata yang keluar dari mulutnya. “Lagian nggak ada apa cewek yang mau sama lo?” nadanya masih ketus. Acha mengisi sekali lagi gelas di tangannya lalu menegak habis minuman manis itu.
__ADS_1
“Banyak. Tapi nggak ada yang secocok lo buat jadi mantu putra bungsunya Pak Ardhana.” sombongnya.
Acha mengerutkan dahi, “Maksud lo?”
Karel membenahi posisi duduknya sebelum meletakkan kedua tangannya di atas meja, memangku dagunya, “Pertama, lo cantik, seksi, dan memuaskan di ranjang. Siapa yang mau bagi-bagi, iya nggak?” Karel memainkan kedua alisnya menggoda Acha. Sementara gadis itu mengeluarkan ekpresi jijik dibuatnya.
“Kedua, bokap nyokap gue udah kenal sama lo dan sembilan puluh sembilan persen kemungkinan mereka bakalan nerima lo tanpa pikir panjang. Bibit, bebet, bobot, semua lulus seleksi pake jalur undangan.”
Lelaki itu meyesap wine-nya sekali lagi sebelum melanjutkan, “Ketiga, lo nggak cinta sama gue. Jadi gue nggak perlu repot-repot ngurusin istri yang gila dibelai sama gue. Susah emang jadi orang cakep plus tajir. Banyak yang nemplok tapi modus” kekehannya sama sekali tidak digubris Acha.
“Keempat” lanjutnya, “Cuma lo orang yang bikin kakak gue alergi. Kan bakalan seru kalau lagi ribut, gue bisa jadiin lo tameng paling ampuh. Mana berani dia digalakin mantan” tawa Karel kali ini membuat Acha meremas ujung taplak meja di hadapannya.
“Pokoknya gue butuh nikah secepetnya dan cuma elo kandidat paling pas untuk meduduki posisi sebagai istri gue” tegas Karel menyimpulkan. “Jadi gimana? Janji deh gue nggak bakalan jajan di luar.”
Acha menegak sekali lagi minuman di gelasnya. Setelah cairan itu membasahi kerongkonannya, wanita itu berdiri dan mengumpat, “Brengsek. Nikah aja sana sama tiang listrik” ucapnya sebelum menghambur keluar.
__ADS_1