
Acha menggeliat dalam tidurnya. Bau khas asin pantai yang terbawa semilir angin masuk dari celah-celah ventilasi jendela mengusik tidur lelapnya. Ia menarik tangannya ke atas hendak meregangkan badan. Tapi gerakan tangannya menapik pipi seseorang yang kini sedang menopang dagu menikmati wajah syahdu Acha ketika tertidur.
Acha membuka mata perlahan, mengintip siapa gerangan yang sedang memandanginya lekat-lekat di sisi ranjang sebelahnya.
"Good morning," suara manis Karel menyapanya.
Acha tersenyum kecil. Dengan suara serak dia membalas, "Good morning. Kamu udah bangun?" tangan Acha yang mengenai pipi Karel karena menggeliat tadi kini bersandar di lehernya. Jari-jari Acha sedikit mengelus manja tenguk lelaki itu.
"Aku ingin tetap tidur, tapi harus menemui tamu dua jam yang lalu," keluh Karel.
"Tamu?" dahi Acha mengerut. "Siapa?"
" Kru fotografer dan stylistmu."
Mata Acha membelalak. Dia baru ingat kalau hari ini adalah jadwal mereka mengambil foto prewedding.
__ADS_1
"Mereka sudah di sini? Kenapa tidak membangunkanku dari tadi? Sudah berapa lama mereka menunggu?" cicit Acha tak percaya.
"Sekitar dua jam yang lalu. Ayolah, bayaran yang aku berikan pada mereka senilai dengan penghasilan mereka selama satu tahun. Apa masalahnya menunggu sang bintang utama dua jam? Lagipula, mana mungin aku membangunkanmu setelah melihatmu tidur pulas seperti itu."
"Tapi kan tetap saja, kau sewenang-wenang!" Acha bangkit setelah menapuk bahu lebar lelaki itu.
Ups.. selimut Acha merosot memperlihatkan dada telanjangnya. Bisa-bisanya Acha lupa tubuhnya masih telanjang bulat.
Karel menyeringai, "Yes! Vitamin S."
"Vitamin susu," Karel memperjelas lalu mengerlingkan satu matanya.
Gadis itu mendesis sebal sebelum turun dari ranjang dengan selimut tebal membalut tubuh mungilnya. "Katakan pada mereka untuk bersiap-siap. Aku akan turun setelah mandi," perintah Acha sebelum menutup pintu kamar mandi.
Acha membuang nafas berat ketika menemukan banyak sekali tanda kebiru-biruan hasil karya Karel tadi malam di tubuhnya. Apalagi bagian leher dan dada. Padahal dia harus mengenakan beberapa gaun yang sedikit terbuka nantinya. Untung saja penata riasnya cukup handal, hanya butuh beberapa pulasan concealer semua tanda kebiru-biruan itu bisa ditutupi.
"Padahal akan sangat bagus kalau di foto prewed kita ada bekas kissmark ku. Kemana coba hilangnya hasil kerja kerasku tadi malam?" Karel mengomel ketika berpose memeluk Acha dari belakang.
__ADS_1
"Kau membuatku malu tau! Penata riasku sampai tak habis pikir darimana datangnya semua tanda kebrutalanmu itu!" cicit Acha di sela-sela pose tersenyumnya di depan kamera.
"Dia pasti berpikir, wow.. Karel sungguh luar biasa," lelaki itu menyombongkan diri.
"Bukan, tapi, wow.. Karel sungguh mesum," Acha mengoreksi.
Pria itu terkekeh, "Bagaimana aku tidak mesum, kau cantik." Acha membeku dibuatnya. Dia sudah terbiasa dengan pujian cantik, karena dirinya memang secantik itu. Kecantikan alami yang datang tanpa harus bersusah payah. Tapi kenapa, pujian yang datang dari mulut Karel berefek berbeda padanya hari ini.
"Apalagi hari ini. Kau membuatku lupa caranya bernafas!" pandangan Karel mengunci netra kecoklatan Acha. "Kau harus bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab untuk apa?"
"Membuatku gila seperti ini." Tanpa aba-aba, Karel mendekaktkan bibirnya ke bibir Acha lalu mencuri satu kecupan kecil. Fotografer yang sedang mengambil gambar mereka terlihat antusias. Mereka tak membiarkan satu detikpun terlewat dan mengabadikan momen romantis ini.
"Awas, nanti kau bisa jatuh cinta padaku!" peringatan Acha hanya dibalas dengan senyum kecil di bibir Karel.
"Kau yang harusnya waspada. Aku sangat ahli membuat wanita jatuh cinta."
__ADS_1