Erstwhile

Erstwhile
27. Makan Malam


__ADS_3

"Gimana persiapan anniversary stasiun TV kamu Cha?" sang kepala keluarga memulai pembicaraan.


"Alhamdulillah Om, lancar. Terimakasih juga Om sudah mau menjadi donatur acara itu," jawab Acha santun.


"Kan sebentar lagi kita keluarga," Ayah Karel menyambut dengan senyum.


"Makan yang banyak sayang. Ini lauknya dipakai. Karel bilang kamu suka seafood. Ini tante pesankan khusus dari restaurant di hotel Tante. Semoga kamu suka ya" ibu Karel mendekatkan piring berisi lobster besar itu ke hadapan Acha.


"Sini biar aku kulitin" ucap Karel yang sangat totalitas berakting sebagai seorang kekasih. Lihat saja bagaimana telatennya lelaki itu memisahkan daging dengan kulit lalu memberikannya pada Acha. "Cobain pake saus yang ini, pasti lebih enak. SIni aku suapin. Aaaa.."


"Jangan bikin malu. Aku bisa makan sendiri" bisik Acha selirih mungkin tapi masih bisa didengar seisi ruangan. Kedua orang tua Karel hanya tersenyum melihat polah tingkah anak bungsu mereka. 


"Baru kali ini Mama lihat Karel seperti ini. Biasanya apa-apa minta diladenin, tapi ini malah ngeladenin. Hebat banget ya Acha bisa bikin anak Tante seperti itu" puji wanita tua itu.

__ADS_1


Baru saja mau tersenyum, Acha tersedak gara-gara sentuhan kaki Karel di bawah meja yang merambat dengan sensual di kakinya. 


"Aduh pelan-pelan sayang makannya. Tita coba ambilin air putih di dapur!" perintahnya pada istri anak sulungnya.


Wanita yang disebut itu pun menghentikan makannya dan bersiap-siap berdiri.


"Enggak Tante, Acha bisa ambil sendiri" jujur saja, Acha merasa tidak enak hati membuat gadis dihadapannya itu disuruh-suruh layaknya pelayan. Padahal sudah barang tentu mereka tidak kekurangan pelayan di rumah sebesar ini. Mengapa harus menyuruh-nyuruh Tita?


"Nggak papa. Biar Tita aja. Ya Tita ya?" ibu Karel mengalihkan pandangan ke menantunya itu.


"Makanya itu kamu hati-hati dong sayang" Karel menuangkan teko berisi air putih yang diambilkan Tita di gelas kosong Acha. "Nih minum dulu!" 


Acha menerima gelas itu dengan ekspresi ingin mengumpat ke arah Karel. Tapi dengan cepat dia merubah ekspresi itu karena kedua orang tua Karel memandang ke arahnya.

__ADS_1


"Tita, tolong kamu ambilkan tissue ya?" baru saja calon kakak ipar Acha itu mau meneruskan makannya, ibu Karel sudah menyuruh lagi. Sepertinya wanita itu sengaja melakukan hal ini. Bukankah sejak awal pernikahan mereka kurang direstui dengan alasan kesenjanagan sosial?


Tita sudah bersiap berdiri, namun dihentikan oleh suaminya. "Biar aku saja!" Nathan bangkit dari kursina.


"Nathan, duduk! Biar Tita saja!" ultimatum wanita yang telah melahirkannya. Namun lelaki itu malah melengos tanpa memperdulikan perintah ibunya. Dia kembali dengan sebuah kotak tissue. 


"Hadap sini, biar aku lapin!" Karel masih saja bertingkah seperti kekasih sungguhan. Siapapun yang melihat pasti menyangak mereka adalah pasangan yang romantis, padahal sama sekali tidak.


"Acha cantik banget ya? Pantesan Karel sampai kesengsem segitunya. Udah cantik, pinter lagi. Heran, kenapa dulu Nathan ngelepasin kamu?" ibu Karel membuka topik pembicaraan yang cukup sensitif. Pasalnya kalimat itu membuat Tita meneguk jus jeruk di gelasnya.


"Kalau Nathan lepasin, artinya ada yang lebih baik," anak sulung itu berusaha membuat hati istrinya tidak tersakiti. Jelas-jelas ibunya sedang membanding-bandingkan istrinya dengan calon istri adiknya.


"Untung Nathan lepasin, kan jadi sama Karel, Ma" cengir anak bungsu itu mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


"Hu'um. Karel emang pinter cari cewek. Cantik, baik, pinter, terpelajar, pokoknya semua bibit bebet bobotnya grade A plus plus" pujian ibu Karel itu tentu saja membuat Tita semakin menundukkan kepala.


__ADS_2