Erstwhile

Erstwhile
37. Truth or Dare


__ADS_3

"Kau hanya belum pernah. Nanti kalau sudah mencoba kau pasti suka." Karel semakin merayu, "Bayangkan milikku bertambah besar di mulutmu, mengetuk-ngetuk ujung kerongkonganmu, dan akhirnya muntah di dalam mulutmu."


"Itu menjijikkan. Bagimana bisa aku menelan cairanmu?" Acha menampilkan ekspresi jijik.


"Aku bahkan juga memakan cairanmu. Kenapa kau tidak bisa?"


"Aku tidak pernah meminta kau memakannya! Kau yang berinisiatif sendiri."


Karel mengerang frustasi. Sepertinya dia harus bersabar untuk merasakan mulut manis Acha meghisap miliknya.


"Hei, ayo bermain truth or dare!" usul Karel dengan mata berbinar-binar.


"Untuk apa? Kau seperti anak muda yang kelebihan hormon testosteron."


"Biar seru! Ayolah! Aku mulai dulu."


"Hei, aku belum mengatakan iya." Acha menyela.


"Aku memaksa. Oke, aku yang akan bertanya dulu. Jika kamu tidak mau menjawab maka harus melakukan dare."


"Kalau aku tetap tidak ingin berpartisipasi?"

__ADS_1


"Aku tidak akan membawa kau pulang ke rumah," ancamannya serius.


Acha mendesis, "Dasar tuan pemaksa!"


"Oke, pertanyaan pertama, apa bagian tubuhku yang paling kau sukai?"


Acha terdiam sebentar, dia mengamati Karel dari ujung ke ujung yang tidak terendam air. "Emm.. tidak ada." jawabnya sadis.


"Yang benar saja." Karel memutar bola matanya. "Bagaimana dengan ini?" Lelaki itu menarik tangan Acha agar menggengam kejantanannya di bawah air.


Acha terkesiap, "Karel!"


"Ini hukumanmu karena menjawab seperti itu. Sudah aturannya. Sekarang kau dihukum mengurut kejantananku selama permainan ini," ucap Karel puas sembari merentangkan tangannya di dinding jacuzzi, menikmati sentuhan Acha di bawah sana. "Lakukan terus atau aku akan meninggalkanmu di sini!" godanya.


"Seseorang dari sekolah menengah atas di Jerman. Tapi jangan cemburu, dia hanya one night stand pada party acara kelulusan," jawab lelaki itu jujur.


"Jadi yang pertaman bukan Rena?" Acha mencari tahu.


"Hanya satu pertanyaan tiap sesi Acha. Sekarang gilrikanku. Ahh.. pelan-pelan jangan mengurutnya terlalu kasar," protes Karel.


"Iya.. iya.. aku akan  memelankannya."

__ADS_1


"Mainkan juga bola-bola ku. Di sini!" Karel menarik tangan Acha sedikit ke atas. Dia membimbing tangan mungil itu untuk meremas sesuatu di sana. "Ahh benar..  eungh... seperti itu.. kau benar-benar luar biasa emmph..." Karel mendesis mengigit bibirnya.


"Jadi bertanya apa tidak?"


"Aaah... benar. Siapah eungh.. cinta pertamamu?" tanya Karel sembari menahan desahannya. Sensasi dari pijatan Acha benar-benar memabukkan. Ini baru tangannya, belum mulutnya.


"Nathan," jawaban yang sangat singkat namun menohok. "Tapi untuk perempuan cinta pertama tidak begitu istimewa. Tidak seperti kalian para lelaki. Ngomong-ngomong siapa cinta pertamamu?"


"Apa itu pertanyaan berikutnya?" ucap Karel susah payah menahan desahan.


"Iya."


"Rena." Jawaban enteng Karel membuat suasa hati Acha sedikit berubah, "Sekarang giliranku, fantasi seks apa yang ingin kau coba?"


"Kenapa bertanya seperti itu?" Acha mengerutkan dahinya tak suka.


"Jawab saja yang jujur. Tidak usah malu. Bukankah itu esensi dari permainan ini. Atau kau mau melakukan dare?" tatapan mesum Karel membuat Acha tidak punya pilihan lain untuk menjawab.


"Entahlah.. aku sendiri tidak tahu. Tapi aku ingin melakukan hal yang lebih menantang. Yang tadi di pesawat, sewaktu aku berada di atasmu, itu cukup menyenangkan. Aku penasaran sejauh apa tubuhku bisa lebih menikmati. Sekarang giliranku. Pernah melakukan **** dengan Rena?" Acha tak sabar menanti jawaban dari Karel. Namun laki-laki itu hanya membeku.


"Aku pilih dare," ucapnya.

__ADS_1


"Baiklah." Acha menyetujui. Satu siniran tercetak jelas diujung bibirnya. Inilah saat untuk membalas Karel. "Try not to cum, then!" perintah Acha diikuti gerakan tangannya yang semakin cepat mengurut Karel.


"Ahh.. Acha!"


__ADS_2