Erstwhile

Erstwhile
34. Kakek dan Nenek


__ADS_3

Jika ada serpihan surga di dunia, maka pulau ini adalah salah satunya. Entahlah di bagian bumi sebelah mana, Acha sudah tak kenal arah mata angin. Hamparan pasir putih dan nyayian nyiur kelapa begitu menghipnotisnya. Sepanjang pendaratan, Acha tak kuasa menutup mata dari kerlingan cahaya matahari yang berkelap-kelip terpantul di atas luasnya samudra biru cerah. Seperti kumpulan aqumarine yang jernih dan indah. Batuan karang beraneka ukuran dengan lumut-lumut hijau yang tertiup angin dan burung-burung camar berlomba bersama ikan-ikan kecil di pemukaan samudra membuat senyum Acha makin merekah. Kawanan lumba-lumba yang lucu pun seakan menyambutnya, saling bekejar-kejaran, bergelung bersama buih-buih ombak berwarna putih. Jauh dari polusi menjadikan air pantainya begitu jernih. Bahkan koral dan berbagai macam biota laut dapat dilihat dengan mata telanjang. Acha berdecak kagum. 


"Cantik?" tanya Karel tak mengalihkan perhatiannya dari wajah Acha.


Gadis yang ditanya itu mengangguk. Dia bahkan tak mau repot-repot menatap wajah Karel untuk menjawabnya.


Karel mendekat dan berbisik di telinga Acha, "Kau tau apa yang lebih cantik?"


"Memang apa yang berani menandingi kecantikan pulau ini?"


"Kamu," ucapan singkat Karel membuat pipi Acha memanas seketika. Pria ini, kenapa semakin lama semakin jago mengaduk-aduk perasaannya. Tidak Acha, jangan terlalu diambil hati. Bukankah memang begitu tabiat seorang Karel Ardhana? Batin wanita itu meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita akan mendarat. Kau bisa memelukku kalau takut guncangannya," Karel menawarkan diri.


"Hei, kau kira aku baru kali ini naik jet pribadi?"


"Aku memaksa!" Karel menarik bahu Acha agar tubuh gadis itu menempel ke tubuhnya. "Nah begini lebih baik."


"Dasar tuan pemaksa!" Acha mendecih kesal, padahal di dalam hati dia sedang berbunga-bunga.


"Aku akan mengajakmu bertemu kakek nenekku" Karel memberi informasi. Dia sedikit mendekat ke telinga Acha karena deru angin pantai menerbangkan suaranya.


"Kakek nenekmu?" Acha mengernyit.

__ADS_1


"Iya." Lelaki itu merapikan rambut Acha yang berantakan tertiup angin, "Kau akan cemburu melihat mereka nanti. Sudah tua pun masih tak terpisahkan satu sama lain. Setelah memutuskan menyerahkan perusahaan ke tangan Ayahku, Kakek membeli pulau ini agar bisa menghabiskan sisa waktunya bersama nenekku di tempat yang cantik. Bukankah sangat romantis?"


"Waw, belum apa-apa aku sudah iri," gadis itu mengerucutkan bibirnya.


Karel terkekeh gemas. "Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu. Bahkan mereka berencana memberikan pulau ini padamu nanti."


"Aku?" Acha menunjuk dirinya sendiri. "Kenapa?"


"Hei, kau akan menjadi istri cucu bungsu mereka. Sudah aku bilangkan seorang anak bungsu itu memiliki previlege khusus. Begitulah mereka memanjakanku," sombong lelaki itu.


Acha berdecih, "Sombong sekali," sindirnya.

__ADS_1


__ADS_2