Erstwhile

Erstwhile
18. Petak Umpet


__ADS_3

Acha sengaja menghindari Karel. Panggilan masuk lelaki itu selalu dia acuhkan. Bahkan, nomor Karel sudah diblok dari kontaknya. Alasannya sederhana, Acha malu bertemu Karel.


"Dek.." sapa Aldrich hati-hati takut membuat adiknya meledak-ledak lagi.


"Apa!" tuh kan benar. Adik perempuannya itu menjadi sangat sensitif sejak dipulangkan Karel pagi itu. Apalagi mendengar nama Karel atau segala hal yang berhubungan dengan putra bungsu keluarga Ardhana itu selalu membuat Acha salah tingkah dan marah-marah sendiri.


"Jangan galak-galak lah. Kan kakak cuma manggil" pria itu beringsut mendekat.


"Heran. Kakak kan punya rumah sendiri. Nongol di sini terus?" cibir sang gadis masih dengan ekspresi tidak menyenangkan.


"Ya kan kakak perlu diskusi kerjaan sama Papi. Papi masih harus istirahat di rumah nggak boleh masuk kantor dulu" dia menjelaskan.


"Udah tau Papi lagi sakit masih aja diajak diskusi soal kerjaan. Emang kakak nggak bisa handle sendiri?" kali ini malah Aldrich yang dimarahi. 


Pria itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Ya dari pada nanti nggak sesuai sama maunya Papi kan malah jadi masalah. Makanya kamu bantuin kakak dong, kakak lagi pusing ini nyiapin buat acara silver aniversary stasiun TV kita. Kamu kan nggak ada kesibukan, ya kecuali kalau lagi sibuk membesarkan calon keponakan kakak."


Acha geram, "Hiiiih... udah aku bilang berapa kali sih, aku tuh nggak hamil!"


"Udah nggak usah malu. Hamil juga nggak papa. Selama itu cucunya Ardhana Group, Papi sama Mami nggak masalah. Malah seneng."

__ADS_1


"Perlu aku jelasin gimana lagi sih? Aku tuh nggak hamil!" gadis itu makin naik darah.


"Iya.. iya... nggak usah marah-marah kayak gitu juga. Kasian dekbaynya."


Acha menghembuskan nafas kasar. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara menjelaskan bahwa tidak ada apa-apa di dalam perutnya. Dari pada berdebat tanpa akhir, lebih baik dia mengalihkan topik pembicaraan. "Jadi dibantuin enggak? Mumpung aku lagi baik nih" tawarnya masih dengan ekspresi jutek.


Kakak kandungnya itu tersenyum, "Jadi lah. Nih!" dia mengulurkan setumpuk dokumen dalam map berwarna kuning pada adiknya, "Itu konsepnya. Kamu pelajari dulu."


Acha membuka sekilas lembar demi lembar blue print itu. "Cuma ini?" tanyanya.


"Cuma? Itu aja udah bikin pusing dek!" kakaknya nggak terima.


Suara deru mesin mobil memasuki halaman perkarangan rumah mereka. Mesinnya begitu halus, pasti bukan mobil sembarangan. Aldrich menempelkan wajahnya pada kaca jendela Acha. Menyadari siapa yang datang, lelaki itu berbalik dengan girang, "Dek, ada Karel dek. Sana turun!"


"Hah? Karel?" Acha gelagapan. Buru-buru dia mendorong kakaknya keluar dari kamarnya dan berkata, "Bilang aku lagi tidur terus suruh Karel pulang" perintahnya pada sang kakak.


"Ta-tapi.."


"Udah sana!" Dengan sebuah dentuman keras, Acha menutup pintu kamar lalu memutar kuncinya. Huh, kenapa lelaki itu tidak bisa membiarkannya seorang diri? 

__ADS_1


Tubuh Acha jatuh telungkup ke atas ranjang. Ditariknya selimut tebal bermotif kupu-kupu itu hingga menenggelamkan kepalanya. Acha masih malu. Dia belum berani bertemu Karel secara langsung.


Tak hanya kala itu Acha berusaha menghindari Karel. Di setiap kesempatan dia mencoba sebisa mungkin tidak bertatap muka dengan lelaki itu. Namun dengan ajaibnya, lelaki itu selalu saja ada di sekitar Acha. Misalkan saja sewaktu Acha harus menghadiri briefing di kantor ayahnya untuk membicarakan persiapan silver anniversary stasiun TV miliknya itu. Bisa-bisanya anak bungsu Ardhana Group bersandar santai dengan bersedekap dada di depan lift kantor Mega Entertainmen. Atau saat lelaki itu membuat heboh satu kantor karena kehadirannya yang sedang berleha-leha di waiting room demi menunggu putri bungsu pemilik Mega Entertainment. Acha benar-benar dibuat jengah karena tingkah lelaki itu.


Acha bahkan rela menaiki tangga darurat demi menghindari Karel yang menantinya di depan lift. Bersembunyi di toilet karyawan menunggu lelaki itu pergi. Dan bahkan menunda jadwal briefing hanya karena bermain petak umpet dengan putra bungsu sang konglomerat itu. 


Yang paling menyebalkan adalah, ketika lelaki itu mengirim sebuah parcel besar berisi susu ibu hamil dan segala ***** bengek keperluan seorang ibu muda ke kantor. Rumor tentang dirinya hamil langsung menjadi buah bibir seantero kantor. 


Kali ini Acha naik pitam. Dia perlu berbicara empat mata dengan Karel. Dicarinya nomor lelaki yang sudah diblok dari ponselnya itu. Dalam hitungan detik, Karel mengangkat teleponnya.


"Halo?" suara dari seberang. "Kangen ya sama gue?" kekehan lelaki itu hanya membuat darah Acha semakin mendidih.


"Lo dimana? Ketemu sama gue sekarang!" tegas Acha tidak main-main.


"Utu utu utu... kangen banget ya? Kebetulan gue lagi ada di rumah lo. Buruan ke sini kalau kangen."


"Hah? Rumah gue? Ngapain?" Acha mengernyit.


"Lamaran lah. Ini gue bawa bokap nyokap gue juga. Buruan dateng. Jangan lupa dandan yang cantik. See you.." dengan sepihak, Karel memutuskan sambungan telepon mereka.

__ADS_1


Acha berkedip beberapa kali. Dia masih mematung, terlalu shock dengan apa yang baru saja di dengarnya.


__ADS_2