Erstwhile

Erstwhile
33. Pulau Pribadi


__ADS_3

"Sudah aku bilang kan kamu sangat seksi dilihat dari bawah," puji Karel sembari menaikkan kembali restleting celananya.


"Aku jadi mengotori karpetmu," desah Acha mengancingkan kembali kancing teratasnya.


Ternyata begini rasanya bermain di lantai pesawat. Untung ini pesawat mahal, goncangannya ketika menabrak awan tidak begitu kentara. Mereka bebas mengeksplorasi tubuh masing-masing. Tapi kali ini Karel membiarkan Acha yang memimpin.


Awalnya Acha tidak suka. Dia belum pernah mendominasi. Tapi begitu mencoba, gadis itu ketagihan. Sungguh, lain kali Acha pasti ingin mencobanya lagi.


"Aku bahkan bersedia membeli seratus karpet lagi untuk kita kotori bersama seperti itu," canda Karel membawa Acha kembali duduk di sofa.


"Hei! Berikan aku waktu untuk istirahat! Kau pikir mengotori seratus karpet tidak membutuhkan banyak energi?" Acha menanggapi candaan Karel.


Lelaki itu terkekeh. Dia lalu menuangkan segelas air putih dan memberikannya pada Acha. "Minumlah! Tenggorokanmu pasti kering setelah mendedahkan namaku dengan totalitas seperti tadi."


"Thanks," Acha menerima uluran gelas itu dan menegaknya sampai habis. "Ahh.. Segar sekali rasanya," Acha menyeka sisa air di bibirnya.


"Kau berkeringat," Karel mengambil sebuah tissue lalu mengelap bulir-bulir keringat di dahi Acha. Wajahnya sedikit mendekat, membuat Acha salah tingkah dibuatnya. Entah kenapa tingkah Karel saat ini terasa begitu manis. Padahal lelaki itu hanya sedang menyeka keringatnya.

__ADS_1


"Kamu tidak mau menyeka keringatku juga? Padahal aku hanya terbaring diam dan membiarkanmu melakukan semuanya. Tapi lihat bagaimana kamu membuatku mengeluarkan banyak keringat seperti ini?" Karel menunjuk butiran-butiran besar di dahinya.


Lelaki itu kemudian mengambil selembar tissu dan menyerahkannya kepada Acha. Dia sedikit mendekatkan wajahnya, menanti Acha menyeka keringat di dahinya. Ekspresi Karel yang menggemaskan membuat Acha tersenyum tanpa sadar.


"Ayolah.. Aku menunggu," rengek Karel bak anak kecil.


Acha tertawa, "Kau terlihat menggelikan dengan lipstikku belepotan dimana-mana," tangan Acha mulai menghapus warna lipstiknya yang tertinggal di wajah Karel.


"Itu bukti bahwa kau sangat brutalĀ  tadi," Karel menikmati usapan tangan lembut Acha di wajahnya. "Bahkan yang di dada juga banyak. Bersihkan sekalian!"


"Tidak mau! Bersihkan sendiri saat kau mandi nanti," gadis itu selesai menata kembali wajah Karel agar tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja berhubungan badan.


"Tidak! Terakhir kali kita mandi bersama kau membuatku terendam air berjam-jam. Aku bisa flu karenamu!" Acha menyenderkan punggungnya di sofa.


"Ya sudah. Sebagai gantinya aku akan membuatmu mengulumku nanti malam. Atau menikmatimu dari belakang boleh juga," Karel menggoda Acha dengan tatapan mesumnya.


"Dasar tuan pemaksa!"

__ADS_1


"Kau kan juga menikmatinya. Jangan berbohong!" Karel meminta kejujuran.


"Cih!" Wanita itu berdecih, tidak mau mengakui.


Karel melihat jam di tangannya, "Sebentar lagi kita akan sampai. Kemasi barang-barangmu."


"Sebenarnya kau mau membawaku kemana?"


"Memperbaiki apa yang telah aku perbuat."


Acha mengerutkan dahi, "Hah?"


"Waktu itu kita gagal prewed karena aku mengurungmu seharian di kamar. Jadi aku ajak kamu ke sini untuk mengambil foto. Bagaimana bisa aku membiarkan putri kesayangan keluarga Abimana melakukan photoshoot di dalam studio biasa?"


Acha mengigit bibir agar rona merah dipipinya tidak terlihat. "Lalu kemana kita akan pergi?"


"Sebuah pulau pribadi milik kakekku."

__ADS_1


"Pulau pribadi?" Acha tak berkedip. Sekaya apa keluarga konglomerat satu ini hingga mampu membeli sebuah pulau pribadi?


__ADS_2