
Keluarga Ardhana memang punya level yang berbeda. Bahkan acara pasok tukon untuk seserahan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan pun harus sesensasional ini. Deretan mobil papan atas memadati jalanan menuju rumah Acha. Semua berisi barang-barang kualitas premium untuk meminang Acha.
"Dek, kamu udah pulang?" ibu sang gadis tergopoh-gopoh menghampiri putrinya yang masih berdiri ternganga di depan pintu. Dia tidak mempercayai mata kepalanya sendiri. Keluarga konglomerat itu kini sedang duduk di ruang tamu rumahnya, membiacarakan acara pernikahan Acha dan Karel.
"Sini.. sini.. duduk sini!" perempuan paruh baya itu mendudukan Acha di antara dirinya dan Papinya. "Kasih salam dulu sama calon mertua kamu" bisiknya lirih di telinga Acha.
Mematuhi perintah sang ibu, gadis itu tersenyum kecil lalu menyapa tamunya dengan hormat.
"Acha makin cantik ya" puji ibunda Karel, "Dulu waktu sekolah Nathan yang bawa pulang, eh sekarang malah adiknya yang minya diboyongin pulang."
"Namanya aja jodoh jeng. Nggak ada yang tau" ibu Acha menimpali.
"Jadi gimana ini untuk urusan tanggal? Keburu cucu kita nanti lahir" kalimat yang terlontar dari ibu Karel itu otomatis membuat Acha melebarkan matanya.
Cucu? Apa-apaan ini? Bahkan calon mertuanya, maksudnya orang tua Karel, mengira Acha hamil? Mau ditaruh mana muka Acha?
"Hal itu biar jadi pembicaraan orang tua saja jeng. Lebih baik anak-anak diberi waktu untuk berdua. Udah lama ini Acha nggak ketemu Karel"
Eh, apa? Siapa juga yang mau berduaan dengan Karel. Batin Acha memprotes kalimat ibunya. Tapi dalam situasi seperti ini lebih baik memang dia tidak ikut campur membicarakan hal yang hanya akan membuat kepalanya tambah pusing.
"Dek, sana ajak Karel ke atas dulu" bisik sang ibu yang langsung dituruti putrinya.
***
Karel menjatuhkan tubuh di atas kasur empuk kamar Acha. Dari sekian banyak ruangan di lantai atas, Karel malah masuk begitu saja ke tempat privasi Acha itu.
"Lo ngapain tiduran di situ. Keluar sana!" usir Acha mencoba menggulingkan tubuh Karel. Tapi percuma, kekuatannya tidak sebanding dengan tubuh kokoh lelaki itu.
__ADS_1
"Ngusir-ngusir calon suami. Kualat!" hanya itu yang Acha dapat.
Gadis itu mengalah. Dia memilih duduk di bangku belajarnya.
"Jadi kayak gini kamar kamu" Karel melihat sekeliling. Ruangan seluas lima kali enam meter itu didominasi warna krem. Dengan ranjang putih dan sebuah walking closet yang Karel yakin isinya adalah brand-brand fashion tingkat dewa. Beberapa lampu kristal menghias langit-langitnya. Memandarkan cahaya yang bisa diatur hanya dengan tepukan tangan. Sungguh teknologi yang maju, batinnya.
Dia menengok ke samping. Foto gadis itu beserta keluarga kecilnya terpampang rapi di meja belajar. Begitu sempurna. Bagaimana ada sebuah keluarga mapan yang kehidupannya harmonis seperti itu? Karel tidak bisa membandingkannya dengan keluarganya sendiri.
"Kok nggak ada foto gue?" Karel tiba-tiba saja bertanya.
"Ngapain gue pajang-pajang foto lo?" Acha tak habis pikir.
"Ya udah, nggak papa. Nanti gue pesenin foto yang gedhe banget buat di tempel di situ" jarinya menunjuk bagian dinding kamar Acha yang masih kosong.
"Nggak sudi" wanita yang menjadi lawan bicaranya itu membuang muka.
"Pasang aja kalau berani! Ntar gue corat coret terus gue kirim santet!"
Karel menoleh ke arah Acha, "Oh gitu?" Dia kemudian bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati Acha, "Silahkan aja kalau lo berani nanggung resikonya" ancamnya.
Satu alis Acha terangkat, "Siapa takut?" dia menantang.
"Beneran?" satu cengiran menghias sudut bibir Karel. Kedua tangan pria itu diletakkan di sisi kanan dan kiri Acha, memenjarakan gadis itu dengan tubuhnya. Wajahnya semakin mendekat dan kini hanya menyisakan jarak satu centi meter dari wajah Acha.
"E-emang lo mau ngapain gue?" suara Acha agak tersendat.
"Hamilin elo" tatapan serius Karel langsung membuat Acha salah tingkah. Namun tiba-tiba saja kata hamil membuat dia teringat rumor yang tersebar di kantornya setelah Karel mengirim parcel berisi susu ibu hamil itu.
__ADS_1
Dengan menggunakan lutut, di tendangnya Karel tepat di antara selangkangannya.
"Awh..!" Karel mengaduh. Tubuhnya terpental ke belakang.
"Rasain lo!" Acha merasa sangat puas.
Lelaki mana yang tidak akan ngilu jika kejantanan mereka dibully seperti itu? Tubuh Karel sempoyongan ke belakang. Dia menggapai-gapai mencoba mencari pegangan. Yang di dapat hanyalah ranjang Acha, dia lalu terduduk di atasnya.
Gadis itu mendekat. Seolah-olah menantang lelaki itu jika masih berani berkata seperti tadi. "Sekarang ngaku.." wajah Acha tepat berada di depan wajah Karel, "..lo kan yang bikin rumor gue hamil? Nggak di kantor nggak di depan keluarga, kenapa mereka mikir gue hamil?" teriaknya membuat telinga Karel memanas.
"Kenapa emang? Toh cepet atau lambat lo bakalan hamil juga kan?" tentu saja jawaban Karel membuat Acha naik pitam.
"Enak aja lo bilang gitu! Coba kalau gue sebarin rumor kalau lo impoten. Mau apa enggak?" tanya gadis itu balik.
"Orang udah berhasil ngehamilin elo. Nggak ada yang bakal percaya kalau gue impoten" kekeh sang lelaki.
Acha makin geram. Dia menegaskan sekali lagi, "Gue enggak hamil! Jadi stop nyebarin rumor kalau gue hamil!"
"Kalau lo nggak hamil, ya udah sini gue hamilin!" Karel malah makin menantang.
Hilang sudah kesabaran Acha. Dia naik ke tempat tidur hendak menjambak rambut Karel sekuat tenaga. Tetapi lelaki itu malah menarik tubuhnya hingga Acha jatuh di atas tubuh Karel yang kini terbaring di atas ranjang. Mata Acha membelalak. Pasalnya, dia tidak hanya menindih tubuh Karel tapi bibir mereka juga saling bertemu.
Dalam posisi yang ambigu seperti itu, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka.
"Dek, turun dulu yu- Oh My God!" ibu Acha kaget melihat apa yang sedang dilakukan putrinya di atas ranjang dengan Karel tertindih di bawahnya.
Bahkan alam pun tidak berpihak pada gadis itu. Screw you, Acha.
__ADS_1