Erstwhile

Erstwhile
35. Roosterfish


__ADS_3

"Tidak usah grogi. Mereka pasti menyukaimu," hibur Karel sebelum mengajak Acha turun dari mobil.


"Siapa yang grogi?" Acha mengelak.


"Hati-hati. Berpeganglah padaku," Karel membimbing Acha turun dari mobil. Dia memakai heels, pasti sangat sulit untuk berjalan di atas pasir. "Pegang tanganku dan jangan lepaskan," bisiknya mengambil langkah untuk menemui sang kakek dan nenek yang sudah menunggu mereka di depan meja payung. 


"Jangan! Ini memalukan. Kakek nenekmu melihat ke arah kita," Acha berusaha melepaskan tangan Karel namun tidak berhasil. "Sudahlah, menurut saja. Lagi pula sulit bagi sepatumu untuk berjalan di medan pasir seperti ini. Aku akan membantumu."

__ADS_1


Percuma berdebat dengan Karel. Pria itu pasti menang. Akhirnya Acha mengalah dan mebiarkan Karel menggandeng tangannya. 


"Acha.. ya ampun.. kamu cantik sekali sayang. Bahkan lebih cantik dari yang di foto," nenek Karel mecium pipi Acha bergantian. Sikap welcome dari kedua pasangan tua itu sungguh membuat Acha merasa nyaman. Dia benar-benar diperlakukan seperti cucu sendiri.


"Pantas Karel minta buru-buru nikah. Nanti keburu calonnya diembat orang," wanita tua itu menggoda cucunya. 


"Nenek paling bisa deh! Karel kangen nenek." Mata Acha membesar mendapati Karel bertingkah seperti bocah umur lima tahun di depan kakek neneknya. Dia bergelayutan manja di lengan neneknya sambil memeluk wanita tua itu bak bayi koala. 

__ADS_1


"Bodo. Aku kangen nenek. Sini sun dulu. Muaah" Karel mencium pipi neneknya membuat wanita tua itu tersenyum cerah. "Kakek juga sini!" Karel gantian bermanja-manja dengan kakeknya.


"Sudah sana duduk di dekat calon istrimu!" tegur sang kakek. "Kalian pasti lapar. Ayo kita makan."


Setelah Karel mendudukan pantatnya di sebelah Acha, beberapa chef berseragam putih pun datang dengan hidangan khas seafood daerah tropis. Bahkan berbagai macam buah-buahan aneka warna juga digunakan sebagai garnishnya. Tidak lupa gelas-gelas kristal yang bersisi minuman beranek warna. Benar-benar menghasilkan suasana pantai yang mahal.


"Semoga Acha suka ya. Ini namanya Roosterfish." Wanita tua itu menunjuk daging ayam betutu dengan bumbu rempah khas Asianya yang tersaji di atas piring, "Rooster..," lalu beralih ke ikan kakap yang dipanggang dengan berbalut daun pisang, "..dan fish. Makanya namanya Roosterfish. Ayamnya melambangkan daratan dan ikannya melambangkan lautan. Ibaratnya pertemuan antara daratan dengan lautan. Dulu waktu nenek bertemu kakek pertama kali kita memesan hidangan ini. Coba lihat, bahkan sampai saat ini kami masih langgeng dan bisa terus bersama-sama. Nenek harap, kamu sama Karel nanti juga bisa seperti kakek dan nenek. Tetap bersama sampai tua," ucap tulus nenek Karel sembari menggenggam tangan Acha.

__ADS_1


Doa wanita tua itu tentu saja membuat hati Acha berdesir. Pernikahan yang baginya hanya sebuah permainan ternyata punya arti mendalam untuk kedua orang tua itu. Mereka sungguh berharap dengan setulus hati Acha bisa mendampingi Karel hingga nanti. Acha tidak ingin melukai hati kedua pasangan itu dengan mengatakan yang sebenarnya. Pun dia juga tidak bisa menarik diri dari kebohongan ini. Acha sudah terlanjur melangkah ke depan. Apapun konsekuansinya, itu adalah harga yang harus dia bayar. 


Acha pikir menikah tanpa Cinta tidak perlu banyak drama. Tapi dia salah. Karena pernikahan bukan hanya mengikat dua orang, tapi dua keluarga besar.


__ADS_2