
"Gue butuh bantuan lo" ucap lelaki itu ketika Acha masih mencerna kenyataan bahwa laki-laki yang telah merengut keperawanannya waktu itu kini hadir kembali ke dalam hidupnya. Bukan sebagai Mr. One Night Stand, tapi sebagai putra kedua keluarga Ardhana, adik dari mempelai pria yang tak lain merupakan mantan kekasihnya yang pertama. Pantas saja wajah lelaki itu seperti tidak asing. Sangat mirip dengan sang kakak.
"Kalau gue nggak mau?" ancam wanita itu.
"Gue sebarin foto lo abis tidur sama gue" jawan Karel santai.
Acha membelalakan matanya, "Lo nyuri foto gue?" dia tidak terima.
Tentu saja Karel tidak pernah bertindak sejauh itu. Hanya saja dia butuh sesuatu untuk membujuk Acha agar mau membantunya keluar dari sebuah permasalahan.
"Udah sini. Nanti kalau acaranya udah mulai lo jalan sampingan sama gue. Bawa ini cincin. Gue nanti yang jadi bestmannya, tapi masalahnya yang harusnya bawa cincin nggak dateng" Karel meyodorkan kotak cincin berwarna dark ruby itu.
__ADS_1
"Tapi.. tapi.. kenapa harus gue?" dengan sedikit dipaksa kotak cincin itu kini berpindah ke tangan Acha.
"Udah nggak usah banyak protes. Gue punya sedikit masalah, jadi cuma lo yang bisa bantu gue." ujar Karel.
Sebuah pemikiran terbesit di kepala Acha. Sedari tadi Fariz terus mencuri pandang ke arahnya. Mungkin dengan menempel pada Karel selama acara pernikahan ini, ia dapat menyelamatkan harga dirinya di depan mantannya. Apa pun yang terjadi Acha harus memperlihatkan pada Fariz bahwa dia telah move on.
"Oke, deal." jawab gadis itu mantap.
Tetapi masalah yang lebih besar terjadi. Acha lupa jika yang menjadi gandengannya kali ini adalah anak bungsu pemilik pesta. Ribuan wartawan dan seluruh tamu undangan langsung sibuk berbisik-bisik siapa gerangan yang mendampingi Karel di acara pernikahan kakak sulungnya. Akankah gadis itu yang akan menjadi Nyonya Ardhana berikutnya? Benarkah gadis itu kekasih putra bungsu keluarga Ardhana? Kenapa Karel Ardhana menggandeng gadis itu dalam upacara pernikahan kakaknya?Berbagai pertanyaan mulai bergumul di sana-sini.
"Acara selanjutnya adalah sambutan dari bestman kepada kedua mempelai. Untuk Tuan Karel Ardhana, waktu dan tempat kami persilahkan."
__ADS_1
Karel bangkit dari tempat duduknya di samping Acha. Dia berjalan dengan langkah tegap ke atas mimbar, memeriksa dulu microphonenya, menyesuaikan dengan tinggi tubuhnya, baru membuka suara. "Selamat malam para hadirin sekalian. Terimakasih saya ucapkan atas kedatangannya dalam acara pernikahan kakak saya malam ini." Setelah berbasa-basi sebentar, Karel menyondongkan tubuhnya ke arah kedua mempelai, "Congratulations bro, you gonna step out from the house soon" candanya pada sang kakak diiringi gelak tawa dari seluruh tamu yang datang.
Tentu saja, setelah menikah Nathan pasti akan meninggalkan kediaman orang tuanya untuk membangun rumah tangganya sendiri. "Sepertinya tidak hanya Pak Nathan yang akan keluar dari rumah untuk membangun rumah tangga sendiri, tapi Pak Karel juga akan segera menyusul" goda sang MC membuat seluruh mata jatuh ke Acha.
Karel menahan senyum tipisnya, "Karena sudah seperti ini, sepertinya saya harus berbuat sesuatu." Mata laki-laki itu kemudian menggeledah seisi ruangan, mencari seseorang yang ingin dia sebut namanya. "Yang terhormat Bapak Harimurti Abimana.."
Mendengar nama ayahnya disebut, jantung Acha berhenti berdetak. Aldrich yang sedang menyesap wine-nya di sudut ruangan tersedak, dan istri dari orang yang disebut namanya itu hampir terjungkal dari heels tujuh centimeternya.
"Dengan tidak mengurangi rasa hormat.." Karel melanjutkan ucapannya di atas mimbar, matanya lurus memandang lawan bicaraya, ".. di hari pernikahan kakak saya ini, izinkan saya, di hadapan semua orang yang hadir, meminang putri bapak, Achalista Quileena."
Semua mata terkesiap tidak percaya. Tak terkecuali gadis yang menjadi topik pembicaraan, Acha.
__ADS_1