
Acha memandangi dirinya di depan cermin. Di ponselnya tertera jelas foto Rena, gadis yang sempat dibicarakan keluarganya tadi. Entah mengapa Acha jadi penasaran, perempuan macam apa yang dirumorkan dekat dengan calon suaminya itu.
"Hmm.. Matanya jelas banget hasil operasi. Payudaranya juga." Acha berbangga karena miliknya cantik alami, tidak seperti perempuan itu.
"Apanya yang hasil operasi?" suara Aldrich yang datang tiba-tiba membuat Acha terjingkat ke belakang lalu menjatuhkan ponselnya.
"Kakak! Ngaget-ngagetin tau nggak!" semburnya.
"Wohoo" lelaki yang usianya jauh lebih tua itu memungut ponsel Acha. Dia melihat wajah wanita yang sangat familiar di sana. "Kamu ngepoin mantannya Karel?" goda sang kakak.
"Balikin nggak!" Acha merebut paksa benda itu dari tangan Aldrich.
"Ciyeee.. Ada yang cemburu!"
Acha berusaha bersikap biasa saja, "Siapa juga yang cemburu!" bantahnya.
"Nggak papa. Kamu jauh lebih cantik dan lebih muda kok. Tenang aja."
"Acha kan nggak cemburu!" gadis itu masih keras kepala.
"Iya iya. Calon ibu ngerasa insecure itu wajar" Aldrich kembali menimpali.
"Siapa juga yang bakalan jadi ibu? Acha tuh nggak hamil. NGGAK HAMIL!" sang adik ngambek sambil monyong-monyongin bibirnya.
"Ati-ati ntar ponakan kakak bibirnya ikut monyong-monyong kayak gitu!"
Hilang kesabaran, tulang kering pun menjadi sasaran tendangan Acha.
__ADS_1
"Awh.. Sakit tauk!" lelaki yang ditendang itu mengaduh.
"Rasain! Udah sana keluar, kakak bikin pengap aja di sini!" tubuh Aldrich di dorong paksa agar keluar dari kamar Acha.
"Ciee.. Yang bentar lagi mau berbagi kamar dengan lelaki. Kakaknya nggak boleh masuk-masuk lagi!"
"Berisik!" Acha pun menutup pintu kamarnya kasar.
"Dek, jangan lupa besok kamu ada meeting buat bahas rancangan acara sama art director ya. Awas kalau telat!" ultimatum sang kakak dari balik pintu sebelum meninggalkan Acha yang masih menekuk wajah.
***
Riwayat penjelajahan internet di ponsel Acha dua belas jam terakhir ini berkaitan dengan Rena. Sekumpulan informasi dia dapatkan mengenai gadis itu. Gaya fashion semi-formal ala office girl yang mendukung kiprahnya di dunia politik berbanding terbalik degan simple-casual look yang sering Acha kenakan di aktivitas kesehariannya. Rambut wanita itu dipotong pendek sebahu mengusung tema elegan dan classy, berbeda dengan Acha yang terlihat fresh dengan gaya rambut lurus panjangnya. Kesukaan mereka pun bertolak belakang. Rena suka kiwi, Acha suka strawberry. Rena suka musik klasik, Acha suka R&B. Rena suka latte, Acha suka Americano. Rena dan Acha adalah dua kutub bumi yang saling bertolak belakang.
Tin.. Tin.. Suara klakson mobil membuat lamunan Acha membuyar.
Tanpa menunggu lama, Acha segera menerobos hujan dan mendudukan pantatnya di kursi mobil mahal itu.
"Tumben lo minta gue sopirin?" ledek Karel sembari melajukan mobil barunya itu.
"Sengaja. Mau bikin lo susah" jawab Acha enteng sambil mengeratkan sabuk pengamannya.
"Bikin susah banget. Lagi enak-enak molor disuruh jadi sopir. Mana ujan deres banget lagi. Enaknya selimutan di kamar hotel ini. Sambil olahraga ranjang lebih asoy lagi. Yuk?" ajak lelaki itu bersendau gurau.
"Olahraga sendiri sana sama guling!" ketus Acha.
"Guling nggak punya lubang. Mau dimasukin dimana?" protes lelaki yang sedang mengemudi itu.
__ADS_1
"Lubang aja yang dicari. Dasar mesum!"
"Emang. Nggak mesum nggak lakik!" Karel membela diri.
"Ekhem.." Acha berdehem. Tampaknya dia ingin membuka suatu topik pembicaraan. "Kiwi apa strawberry? Pilih salah satu!" tanyanya sedikit canggung.
"Hah?" dahi Karel mengernyit tak paham.
"Udah pilih aja satu. Kiwi apa strawberry?" tegas wanita itu.
Karel mengernyit, "Asem semua gitu. Nanya tuh suruh milih melon apa pisang. Tentu aja gue milih melon. Kan udah punya pisang" jawaban ambigu Karel membuat Acha berdecak kesal.
"Latte apa Americano?" tanya gadis itu lagi.
"Mau nraktir gue? Nggak makasih. Nggak ada dalam sejarah kamus hidup gua pake uang cewek" sombongnya.
Acha tak menyerah dan terus bertanya, "Politik apa entertainment?"
Karel menaikkan satu alisnya, "Gue sukanya nonton porno" celutuk lelaki itu membuat Acha memutar bola matanya.
"Rambut panjang apa rambut pendek?" sekali lagi gadis itu bertanya.
"Rambut yang mana dulu nih? Rambut atas apa rambut bawah?" Karel terkekeh geli oleh pikiran mesumnya sendiri.
"Rambut ketek!" kesal Acha sebelum minta diturunkan di depan sebuah caffee. "Nggak usah jemput gue. Gue ogah semobil sama orang mesum!" ucapnya sebelum melangkah keluar dan membanting pintu.
"Cha!" panggil Karel menurunkan jendela mobilnya. "Gue lebih suka strawberry dari pada kiwi, lebih suka entertainmen dari pada politik, lebih suka cewek rambut panjang dari pada rambut pendek, tapi gue nggak suka latte maupun Americano. Gue doyannya susu. Apalagi susu kamu. Ngangenin" kalimatnya ditutup dengan satu kerlingan mata sebelum akhirnya Karel menaikkan kembali jendela mobil dan berjalan pergi.
__ADS_1
Aish! Kenapa muka Acha langsung memerah. Semoga saja tidak ada yang mendengar perkataan Karel barusan. Sangat memalukan, apalagi kalimat terakhirnya.