
"Aku nggak ngejauhin kamu. Kita tetep temen. Kan kamu sendiri yang selalu bilang, sampai kapan pun kita cuma temen."
Seperti di lempar kenyataan, Rena membulatkan mata. Itu memang kalimat yang selalu terlontar dari mulutnya. Sekian lama menaruh perasaan pada Nathan, dia hanya menganggap adik dari cinta sepihaknya itu seorang teman baik. Karel selalu ada di sampingnya. Dia tidak pernah pergi maupun berpaling dari gadis itu. Karena itulah Rena menganggap bahwa Karel akan selalu ada untuknya kapan pun dan dimana pun. Tapi tiba-tiba saja lelaki itu harus menomorduakan dirinya karena satu alasan, Acha.
"Jangan nangis cuma demi cowok yang bahkan nggak ngehargain kamu. Kalau kamu mau curhat, kamu bisa telepon aku. Tapi aku nggak selalu bisa ada buat kamu lagi. Hangout sama temen-temen kamu, have fun, dan cari cowok yang lebih baik dari Nathan. Udah saatnya kamu menjalani kehidupan yang baru." Karel melepas Rena dari pelukannya, "Sekarang kamu istirahat. Jangan sedih lagi. Aku pergi dulu," pamit Karel dengan senyum manis di wajahnya. Dia mengusap sebentar rambut Rena sebelum membalikkan badan dan menghilang di balik pintu.
Rena hanya berdiri di sana, menatap pintu kosong yang kini tertutup rapat. Detik demi detik berlalu. Pintu itu tidak terbuka kembali. Karel benar-benar pergi. Dia bahkan tidak beruah pikiran dan berhambur lari melewati pintu itu. Lutut Rena melemas. Dia jatuh terduduk dengan air mata tanpa suara.
***
Karel tidak sabar untuk berjalan. Dia berlari turun dari jet pribadinya ke arah villa. Matahari sudah terbit. Bagaimana kalau Acha terbangun tanpa menemukannya di rumah besar itu?
Benar saja. Gadis itu sedang bersedekap galak di sofa ruang tengah. Bahkan kopernya pun sudah dikemasi dengan rapi.
"Eh, Cha. Udah bangun?" Karel tersenyum garing, dia menggaruk tenguknya yang tidak gatal.
Acha membalas senyum Karel dengan sama kakunya, "Kamu juga udah bangun? Biasanya sampai bedug aja masih ngorok?" sindirnya sinis.
"Itu anu.. aku anu.." Karel gelagapan sendiri. Dia salah tingkah seperti seorang kekasih yang baru saja ketahuan selingkuh.
"Anu-anu apaan?" teriak Acha galak membuat telinga Karel berdenging. "Bodo. Bentar lagi helikopter Papi dateng. Aku mau pulang!"
__ADS_1
"Lah? Kok gitu?"
"Suka-suka. Kamu pergi juga suka-suka," Acha menyalak.
"Ya kan anu.." Karel tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Nggak usah anu-anu lagi!"
Karel mencegah Acha yang hendak menyeret kopernya, "Jangan dong?"
"Ngapain nglarang-ngalarang?" Acha masih meninggikan volume suaranya.
"Bodo!" Acha berusaha membebaskan diri dari tangan Karel yang menahannya.
"Cha, jangan pulang dulu dong!" kali ini Karel merengek.
"Kenapa nggak boleh?"
"Kita kan belum selesai syuting fifty shades of Karel," di saat seperti ini masih bisa-bisanya lelaki itu bercanda.
"Syuting aja sendiri!" Acha tak habis pikir dengan kemesuman otak Karel.
__ADS_1
"Mana bisa?"
"Kenapa nggak bisa? Pergi sendiri aja bisa. Ngapain coba menyelinap kayak tadi malem? Mau ketemu siapa? Rena?" nama itu meluncur keluar dengan sendirinya dari mulut Acha.
Karel terdiam tidak berani menjawab.
"Kok diem? Berarti bener kamu ketemu Rena?" Acha makin jengah dibuatnya.
Lelaki itu menatap takut-takut ke bola mata Acha, "Cemburu ya?"
Langsung saja Acha menapiknya, "Enak aja bilang cemburu. Siapa yang cemburu? Aku? Hah, nggak bakal! Ngapain juga cemburu!" Acha mengipasi dirinya yang entah kenapa tiba-tiba merasa gerah.
"Ya udah kalau nggak cemburu ngapain marah-marah?"
"Siapa juga yang marah-marah! Tauk ah, aku mau pulang!"
Karel meremas rambutnya frustasi. Bilangnya nggak marah-marah tapi udah mencak-mencak seperti itu.
"Aduh Cha, jangan dong!" Karel mengekor Acha dari belakang. Dia mencoba menahan lengan gadis itu tetapi selalu saja ditepisnya. Perseteruan mereka berhenti ketika Acha membuka pintu depan.
"Kakek? Nenek?" mata mereka membulat menemukan dua pasangan tua itu berdiri di depan pintu.
__ADS_1