Erstwhile

Erstwhile
47. Public Affection


__ADS_3

Selesai menuangkan air kelapa ke dalam gelas, Karel menghidangkannya satu per satu di atas meja. "Segelas air kelapa untuk bidadariku, segelas lagi untuk nenek yang cantik, dan gelas yang terakhir untuk kakek yang galak," ucap Karel dengan semangat.


"Karel!" geram kakeknya.


Mendengar hal itu, Karel buru-buru bersembunyi di belakang neneknya, "Tuh kan Nek, Kakek galak!" dia mengadu.


"Kamu sih, bandel!" Nenek menegur. "Loh kok cuma ada tiga gelas? Nanti Karel minumnya gimana?"


Karel medudukkan pantatnya di kursi samping Acha, "Ya barengan sama Acha lah Nek, biar romantis. Iya kan, cantik!" Karel mencolek dagu Acha.


Pipi wanita itu memerah dengan tindakan tiba-tiba Karel.


"Biar tambah romantis kamu bukain kerangnya biar Acha bisa langsung makan dagingnya," wanita tua itu meletakkan satu piring penuh dengan tumpukan kerang di depan Karel.


Tidak punya pilihan lain, Karel menggulung lengan bajunya dan membukakan satu per satu cangkang kerang untuk diambil dagingnya. "Nih sayang, aaaa.." Karel hendak menyuapi Acha.


"Karel!" lirih Acha merasa malu karena menjadi pusat perhatian.


"Udah nggak usah malu! Nenek sama Kakek jangan ngintip dong, nanti Acha malu. Awh..." Karel mengusap perutnya yang tiba-tiba dicubit Acha. "Tuh kan Acha malu beneran cubit-cubit Karel. Udah Nenek sama Kakek hadap sana. Nggak usah liatin anak muda!"


Kedua pasangan tua itu hanya bisa terkekeh dengan kelakuan cucu bungsu mereka. Sementara itu, muka Acha sudah berubah menjadi kepiting rebus saking malunya.


"Aaa.. buka mulutnya, aku suapin!" Karel mengulurkan satu sendok ke depan mulut Acha. Tidak ingin masalah menjadi semakin berlarut-larut, Acha menerima suapan itu dengan malu-malu.

__ADS_1


"Sekarang gantian, aaa.." Karel membuka mulutnya lebar-lebar menanti suapan Acha. "Suapin!" rengeknya manja meminta Acha segera membalas suapannya. Merasa tidak enak hati dengan kakek nenek Karel, tangan Acha pun bergerak maju menyuapi Karel, "Hmm.. enyak!" gumam lelaki itu dengan mulut penuh makanan.


***


"Hatchu..!" Etah sudah berapa kali Karel bersin. Menghabiskan waktu dua jam terendam di air pantai tentu membuat tubuhnya sedikit meriang.


"Ditutupin kalau bersin itu! Jorok!" Acha sebal dengan Karel yang dengan seenak hati menyebarkan virus.


Lelaki itu menyedot kembali lendir di hidungnya, "Cha, kerokin!" gumamnya seraya mengucek hidungnya yang gatal karena pilek.


"Aku nggak bisa ngerokin!" bantah gadis itu.


"Please!" Karet mengerucutkan bibirnya memohon dengan tatapan memohon.


Membuang nafas kasar, akhirnya Acha mengambil minyak di nakas dan koin dari dompet Karel.


"Jangan kasar-kasar ya. Pelan-pelan aja ngerokinnya. Item-item gini kalau digesek rasanya kek perawan baru buka segel," pinta Karel.


"Iya ah bawel!" Acha pun mulai membalurkan miyak di punggung lebar Karel.


Setelah melewati drama teriak-teriak karena Acha terlalu kasar menggesek punggung Karel, akhirnya penderitaan Karel pun berakhir meninggalkan lukisan merah di punggunnya.


"Udah selesai. Sana bobok!" Acha memberi aba-aba Karel agar memakai kembali bajunya.

__ADS_1


"Mik cu!" bak bayi yang merengek, Karel mengerucutkan bibir manja. Bajunya sudah kembali dipakai dan tubunya terbungkus selimut hingga ke leher.


"Bayi banget sih kamu! Ya udah aku bikinin dulu!" Acha bersiap pergi ke dapur.


Akan tetapi Karel menggelengkan kepalanya, "Mik cu!"


"Iya ini baru mau aku bikinin!" tegas gadis itu.


Sekali lagi Karel menggeleng, "Mik cu!" Karel semakin bawel dengan telunjuk mengancung ke payudara Acha.


"Yang benar saja, Karel!" Acha memutar bola mata paham apa yang Karel maksud.


"Mik cu!" Karel semakin sewot.


Acha menghela nafas panjang sebelum menyibak selimut Karel dan bergabung dengannya di atas ranjang. "Ya udah mik cu. Abis itu bobok. Awas kalau enggak!"


Mendengar hal itu, Karel mengangguk-angguk senang. Dia tidak sabar menanti Acha membuka kancing baju teratasnya.


"Dah nih, mik cu!" Acha menyodorkan payudaranya.


Dengan semangat lelaki itu menyambut payudara Acha untuk dimasukkan ke dalam mulutnya. Seperti bayi besar Karel mulai menyusu.


"Aish! Pelan-pelan Karel!" hardik Acha merasakan sedotan kuat mulut Karel.

__ADS_1


"Emph.." dengus Karel tidak mau diganggu. Malahan, tangan satunya mulai beraksi meremas payudara Acha yang lain.


Acha mengigit bibir, berusaha tidak terangsang malam ini.


__ADS_2