
Lift yang dinaiki Acha berhenti di lantai enam. Dua orang di depannya melangkah keluar, meninggalkan Acha seorang diri di mesin kotak berjalan itu. Dari balik pintu yang dengan perlahan bergerak menutup, sudut mata Acha menangkap bayangan seorang lelaki yang sangat tidak asing berjalan memasuki sebuah pintu tepat di depan lift. Fariz? Apakah yang tadi itu Fariz?
Batin Acha terus bergolak. Tak bisa disangkal, masih ada setitik rasa yang tertinggal di dalam hatinya untuk lelaki itu. Lima tahun sudah mereka tidak bertemu, sebelum di pesta tadi tentunya. Rasa rindu ingin berjumpa begitu menggebu-gebu. Acha tidak sanggup menahan gejolak untuk menatap lelaki itu dari dekat.
Mungkin efek alkohol yang dia minum tadi, emosi Acha mengalahkan logika di kepalanya. Entah didorong kekuatan dari mana, jari Acha menekan tombol lantai enam, membuat lift itu kembali bergerak ke atas. Dengan jantung berdetak kencang, Acha menanti detik-detik pintu itu terbuka. Perlahan melangkahkan kakinya keluar dan berhenti di depan kamar 6071 itu. Seperti dihipnotis, tangan Acha terjulur ke depan, memencet tombol bel di depan pintunya.
Logikanya sudah terkikis habis. Acha hanya ingin melihat lelaki itu dari dekat. Sekali ini saja. Hatinya sudah tak kuasa menahan rindu. Meskipun Acha juga tidak tahu nanti harus beralasan apa, yang penting rindunya terbayar.
Pintu bergaya vintage dengan nuansa putih gading itu terbuka. Menghadirkan sosok lelaki bertubuh kekar dan menjulang tinggi. Tampaknya otot-otot lelaki itu menjadi lebih terlatih dibanding lima tahun yang lalu. Bulu-bulu tipis juga menghias sebagian wajahnya. Menimbulkan kesan seksi sekaligus matang. Oh, ingatkan Acha untuk bernafas.
__ADS_1
“Acha?” Fariz tertegun mendapati siapa yang berdiri di depan pintu kamat hotelnya.
“Siapa babe?” suara lembut wanita dari arah dalam membuyarkan lamunan Acha seketika. Hatinya jatuh dan jantungya serasa diremas melihat sosok tunangan Fariz hanya dibalut camisole tipis, menampakkan kulit mulusnya dan belahan dadanya, muncul dari balik badan besar Fariz. Acha tidak bisa berkata-kata. Tidak butuh penarikan logika untuk menyimpulkan apa yang tengah dilakukan dua sejoli itu di dalam kamar hotel. Laki-laki yang hanya bertelanjang dada, dan wanita dengan lingerie yang bahkan kancing atasnya telepas dua.
Sebelum Acha menjadi bahan tertawaan, sebuah suara berat menyelamatkannya, “Cha, bukan di situ. Ini kamarnya.” Karel yang entah dari mana sudah memegang kunci kamar di sebelah.
Bukan hal yang sulit bagi putra bungsu keluarga Ardhana untuk mendapatkan suite room dengan fasilitas terlengkap. Lihat saja, jejeran minuman konglomerat dapat dengan mudah mereka temukan di dalam kamar. Acha tidak bisa menjangkau selain Sauvignon 1992 yang berada di rak tengah. Dengan bantuan Karel tutup botol itu terbuka dan Acha langsung menegaknya langsung dari mulut botol. Apa pun itu, Acha butuh pengalihan dari pemandangan yang baru saja dia saksikan. Harusnya Acha sudah move on. Toh sekarang tak ada hubungan apa-apa lagi di antara mereka berdua. Fariz bebas melakukan apa pun bersama wanita mana pun di dunia ini. Tapi kenapa hatinya seakan teriris-iris? Dan kenapa matanya perih ingin menangis? Sekali lagi, Acha menegak minumannya.
“Ntar lo kobam.” Karel memperingatkan, berusaha mengambil botol itu namun ditepis oleh Acha.
__ADS_1
“Cha!” kalimat Karel terputus oleh suara botol yang berdecit dengan meja kayu di tengah ruangan.
Acha mengelap sudut bibirnya. Matanya nanar namun tekadnya sudah bulat. Dia tidak mau terus menerus seperti ini. Persaannya pada Fariz harus benar-benar di akhiri. Dia tidak mau menjadi perempuan menyedihkan yang terus terkurung dalam masa lalu sementara Fariz sudah menjalani kehidupan barunya.
Acha berjalan mendekat. Menghentikan langkahnya begitu dada Karel tepat di depan matanya. Bagaimana lelaki ini bisa begitu tinggi? Bahkan kepala Acha hanya sebatas pundaknya.
Acha menatap lekat-lekat manik mata lelaki itu. Alkohol mungkin membuatnya sedikit mabuk. Kepalanya benar-benar tidak bisa berpikir jernih hingga satu kalimat keluar dari mulutnya, “Oke. Kita menikah” ucapnya sebelum menarik leher Karel turun dan memangut bibir tebalnya.
Bagaimana bisa Karel menolak wanita secantik Acha yang melemparkan dirinya sendiri di bawah kungkungan Karel. Di luar hujan lebat, tapi bahkan AC di ruangan mahal itu tidak sanggup mendinginkan luapan gairah yang bergejolak malam itu. Untuk kedua kalinya, suara desahan dan geraman menemani penyatuan Karel dan Acha menuju titik puncak kenikmatan yang hakiki. Malam itu, Karel dengan jantan menyemburkan benihnya berulang kali di dalam rahim Acha.
__ADS_1