Erstwhile

Erstwhile
24. Kesepakatan


__ADS_3

"Lo lagi ngapain?" suara Karel membuat Acha terperanjat. Dia menyipitkan mata melihat Acha dengan sembarangan membuka-buka dokumen pribadinya. "Kebangetan sih lo buka-buka privasi gue tanpa ijin!" wajah Karel memerah karena amarah. Segera, lelaki itu merebut foto Rena yang masih berada di tangan Acha, merapikan mapnya, dan menaruh di atas almari. 


"Lo sama Rena ada hubungan apa?" Acha memberanikan diri bertanya.


"Bukan urusan lo!" suara Karel sangat serius kali ini. Bahkan ada setitik amarah di dalamnya.


"Gue nggak boleh tau ya? Kita kan mau menikah kenapa gue nggak boleh tau?" tanya Acha terus mendesak.


"Emang kenapa kalau kita mau nikah? Lo berhak gitu ngulik-ngulik privasi gue!" amarah Karel membuat Acha ikut terbawa emosi.


"Kan gue nanya baik-baik. Kenapa malah nyentak-nyentak!"


"Lo duluan kan yang mulai?" Karel tidak terima.


"Terserah! Gue muak sama lo!" Acha menabrak bahu Karel yang hanya tertutup sebuah bathrobe. Ada sedikit air mata yang tertahan di sudut matanya. Acha tidak mau menangis di depan lelaki itu. Dia memilih pergi meninggalkan Karel sendiria di sana.


Titik air mata itu ternyata tidak bisa ditahan. Acha bukanlah gadis cengeng, tetapi entah mengapa hatinya teriris ketika Karel membentaknya. Dia mengusap tetes air mata yang kini mulai membasahi pipinya sembari melangkah turun menuruni tangga. 


Belum sampai di anak tangga paling akhir, lengannya dicekal seseorang dari belakang. Siapa lagi kalau bukan Karel. Namun Acha berontak ingin dilepaskan. "Lepasin! Lepasin gue!"


"Sorry. Tadi gue emosi" Karel berusaha menahan Acha tetapi perempuan itu terus berontak ingin melepaskan diri.


"********! Lepasin gue enggak?" 


Karena Acha terus berontak, Karel tidak punya pilihan lain selain mendorong tubuh Acha ke tembok, menghimpit lalu mencium bibirnya dalam.


Acha terlonjak. Perlawanannya tiba-tiba berhenti. Dia membeku di dalam kungkungan Karel.


***


"Maaf soal yang tadi. Aku nggak bermaksud bentak kamu" ucap Karel sepenuh hati. Tanpa sempat memberi waktu untuk Acha bereaksi, milik Karel mengetuk-ngetuk pintu masuk Acha. Gadis itu mengigit bibir merasakan sensasi Karel terggelincir masuk dan membesar di dalamnya.

__ADS_1


"Eunghh.. Acha.." Karel mengeram dan mulai menggerakkan miliknya.


***


Acha menarik selimut ke atas menutupi tubuhnya dan tubuh Karel yang bermandikan peluh. Dada mereka masih naik turun menetralkan sensasi yang baru saja menerjang.


Setelah diam yang cukup lama, Karel menyilangkan satu tanggannya untuk bantalan kepala dan berkata, "Kami saling mengenal sejak kecil.."


Kalimat itu membuat Acha menoleh ke lelaki yang masih menatap awang-awang langit kamarnya.


"Aku dan Rena." lanjutnya.


"Tapi di matanya hanya ada Nathan. Dia menganggap ku sebatas seorang adik kecil. Tidak lebih" curhat pahit lelaki itu tiba-tiba membuat Acha menelan ludah.


"Ah.. Begitu" Acha menanggapi sekenanya. Setidaknya rasa penasarannya akan wanita itu sedikit terpuaskan.


"Setelah Nathan menikah, aku kira perasaannya akan berubah. Tapi aku bodoh telah berpikir seperti itu. Di matanya aku tetap hanya seorang adik."


"Bukannya kau menerima lamaranku dengan alasan yang sama?" Karel membalikkan pertanyaan.


Acha salah tingkah. Dia menghindari tatapan Karel.


"Kalau kamu mau mundur dari pernikahan ini, aku tidak akan memaksamu lagi" ucap Karel tiba-tiba. "Kita sama-sama tahu tidak ada rasa apa-apa di antara kita."


Ah, benar juga. Tidak ada rasa apa-apa di antara mereka. Tapi bagaimana mau mundur jika Acha sudah pamer akan mencetak foto pernikahan? Tidak bisa. Acha bisa malu dibuatnya.


"Karena kita sudah berada di topik itu, mari bicarakan kesepakatan pernikahan kita" usul Acha berikutnya.


"Kesepakatan?" Karel menoleh ke arah wanita itu.


"Iya. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan" jelas wanita itu lebih lanjut.

__ADS_1


"Misalnya?"


"Privasi, masalah percintaan dan..." Acha tampak ragu melanjutkan ucapannya. Dia berdehem terlebih dahulu sebelum berkata, "...kewajibanku sebagai istri" lirihnya.


"Karena tidak ada cinta di antara kita, aku tidak akan memaksamu terus bersamaku. Kalau nanti kamu menemukan seseorang yang tepat, aku akan melepaskanmu." jawaban Karel terdengar seperti seorang gentlemen.


"Jadi, kita tidak akan mencampuri urusan percintaan masing-masing?" Acha mecoba menarik kesimpulan.


"Yup." Karel mengangguk. "Tapi kalau soal ****, bagaimana aku bisa menikah tanpa ****?" lelaki itu tidak terima.


Acha memutar bola matanya. "Benar sekali. Bagaimana seorang Karel bisa bertahan hidup tanpa ****. Karena itu ****** di lacimu sudah mau habis?" dia menyindir.


"******? ****** yang mana? Oh sisa milikku waktu di Amerika? Mungkin itu masuk waktu aku mengepaki barang. Belum pernah aku gunakan juga sejak pulang ke sini. Kenapa?  Kau mencobanya? Banyak varian rasanya lho!" goda Karel menaik turunkan alisnya.


Membicarakan soal ****** membuat Acha terkesiap, "Kamu tadi nggak pakai ****** kan?  Keluar di dalam lagi. Dasar brengsek!" Acha bangkit menjambak rambut Karel menyebabkan sang laki-laki mengaduh kesakitan.


"Aww.. Awwh.. Mana sempat! Siapa tadi yang memelukku erat tidak mau ditinggal jauh?" Karel membela diri, berusaha lepas dari jambakan wanita itu. Merasa malu, Acha menyudahi keasyikan acara mari menjambak rambut Karel.


Tapi aku tidak mau berhubungan **** dengan lelaki yang gonta ganti pasangan." Acha menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Selimutnya dia tarik agar menutupi buah dadanya.


"Baiklah, aku tidak akan berhubungan **** dengan wanita lain selama pernikahan kita, kalau kau bersedia memenuhi kebutuhan biologisku" tawar lelaki itu. "Dan aku juga tidak akan memaksa kalau kamu sedang tidak mau. Bagaimana?"


"Biar aku perjelas. Kita tidak akan mencampuri urusan percintaan satu sama lain, jika salah satu dari kita sudah menemukan seseorang yang tepat maka pernikahan ini bisa dihentikan. Selama pernikahan aku akan memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri dengan catatan kau tidak boleh memaksaku jika aku tidak mau. Dan sebagai gantinya kau tidak boleh tidur dengan wanita lain sebelum kita bercerai. Begitu?" Acha menyimpulkan hasil perundingan mereka.


Karel mengangguk menyetujui.


"Ok, deal" Acha mengulurkan tangannya yang kemudian dijabat oleh Karel. "Deal" sahut lelaki itu mantap.


"Tapi ngomong-ngomong, kenapa pagi-pagi kau mencariku?"


Acha baru ingat bahwa dia hendak mengajak Karel ke studio foto, tapi batal gara-gara serangan mendadak Karel. "Ah, aku harus menghubungi studio foto dan mengatur ulang jadwal. Kau baru saja membatalkan prewed kita!"

__ADS_1


"Wow.. Kau sangat totalitas dengan pernikahan ini."


__ADS_2