
Acha merasa lebih baik setelah tidur tiga jam lamanya. Dia bangun dengan badan yang lebih enteng. Pileknya juga berangsur sembuh. Lemon tea madu dari Karel dan waktu tidur yang cukup membuat tubuhya kembali bugar.
Namun berbanding terbalik dengan Karel. Lelaki itu kini meringkuk dengan tangan yang memeluk Acha erat-erat. Keringat dingin memenuhi dahinya. Tanganya sedikit bergetar, dan ketika Acha meletakkan telapak tanganya di dahi Karel, suhu tubuh lelaki itu terasa lebih panas. Karel demam.
"Rel.." panggil Acha menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Engh..!" lenguh lelaki itu lirih.
"Kamu sakit?" Acha bertanya.
"Engh..!" Karel malas menjawab.
"Aku ambilin obat dulu ya?"
Baru saja Acha hendak beranjak, tapi tangan Karel menahannya. "Kamu sini aja, jangan pergi-pergi," ucapnya lirih hampir tak terdengar.
"Aku cuma mau ambil obat di situ," jari telunjuk Acha mengarah ke sebuah laci di sudut ruangan. Tapi Karel malah makin menenggelamkan wajahnya di perut Acha, "Kamu sini aja!" Karel memberikan tekanan pada nada bicaranya.
"Cuma ngambil obat sebentar di situ! Nggak kemana-mana. Nggak lama juga!" protes Acha.
"Engh..!" Karel tetap tidak suka.
"Hiiish.. Rewel banget sih kamu! Kalau nggak minum obat gimana mau sembuh?" Acha meninggikan suaranya.
"Aku lagi sakit. Jangan galak-galak," keluh Karel dengan suara berat.
Acha menarik nafas panjang untuk menenangkan diri, "Ya udah, karena Karel lagi sakit bobok aja di sini. Aku ambilin makan sama obat sebentar, ya?" Acha seperti mendikte anak kecil.
Lelaki berawakan besar itu tetap bersikukuh tidak mau ditinggal Acha. Dia malah makin mengeratkan pelukannya di perut Acha.
"Ya ampun Karel..! Kamu anak kecil banget sih!" perempuan itu merasa gemas sendiri. "Lagian salah sendiri, tadi udah sembuh malah nyosorin orang kena virus. Ya gini jadinya!" Acha memarahi.
Yang dimarahi malah semakin mewek, "Kan lagi sakit, masih juga kena marah," bibirnya mengerucut.
Acha menarik nafas sekali lagi, dia berusaha mengembangkan senyum kakunya, "Sekarang Karel maunya apa? Mau minum obat enggak?" tanya Acha pelan-pelan.
"Mau di puk-puk, kelonin juga," rengeknya.
"Kalau mau minum obat nanti di puk-puk," Acha menawarkan pilihan.
Karel mengantuk, "Ya udah mik obat." Lelaki itu mengalah.
__ADS_1
"Aku ambilin bentar, kamu nggak usah rewel!" Acha memperingatkan.
Setelah Karel mengangguk baru lah wanita itu beringsut dari atas ranjang menuju ke dapur.
"Cha! Buruan!" baru saja mau mengisi gelas dengan air putih, Karel sudah memanggil-manggil namanya dari arah kamar.
"Iya bentar!" teriak Acha menanggapi.
"Buruan!!" Karel memaksa.
Acha mendengus sebal. Dengan buru-buru dia mengambil nasi beserta lauk dan sayur kemudian ditaruh di dekat gelas dengan sebutir obat di atas nampan.
"Acha!!" Karel makin meninggikan suaranya.
"Iya iya ini baru jalan!" wanita itu memasuki kamar dengan tergopoh-gopoh. Air di dalam gelas yang dibawanya sampai hampir tumpah karenanya.
"Lama!" protes Karel begitu melihat wanita itu memasuki pintu.
"Ya sabar, semua juga butuh proses. Udah ini nasinya dimakan dulu!" Acha meletakkan nampan di atas kasur.
"Suapin.." masih saja Karel merengek manja.
Acha mengambilkan sesendok nasi dengan sayur dan lauk lalu menyodorkannya ke mulut Karel.
Berhubung Karel sedang membuka mulut, Acha segera memasukkan sendoknya ke dalam mulut lelaki itu. "Cha! Deketan!" mulut Karel penuh makanan tapi tetap saja dia protes karena jarak Acha terlalu jauh dari jangkauannya.
"Nggak ada deket-deket. Physical distancing! Kamu sembuh dulu, baru boleh deket-deket. Nanti aku ketularan!" cerca Acha panjang lebar.
Karel mengerucutkan bibir. Dia tidak suka Acha terlalu jauh dari jangkauannya.
"Habisin makannya. Habis itu minum obat. Terus tidur. Baru aku mau deket-deket!" ultimatum wanita itu.
"Tapi kamu jangan pergi-pergi," Karel merengek.
"Enggak. Aku cuma di sini!"
"Ya udah sini obatnya!" Karel meminta Acha melayaninya meminum obat.
"Udah ya, sekarang bobok. Nggak boleh rewel lagi," wanita bersurai cokelat itu merapikan selimut untuk menutup tubuh Karel.
"Kamu di sini aja!" Masih saja Karel tidak mengijinkan Acha menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Aku di sini. Nggak kemana-mana," Acha sedikit menepuk bahu Karel agar lelaki itu segera tertidur.
"Nina bobokin!" pinta Karel.
"Ish bawel!" Acha tidak mau.
"Ya udah kalau nggak mau nina bobokin, nari striptease aja!" Karel menyeringai mesum.
"Maunya! Buruan ah tidur. Jangan kebanyakan omong!" hardik Acha.
"Cuma tidur aja nggak asyik. Asyiknya ditidurin!"
Acha menarik nafas panjang, "Tidur apa aku tinggal pergi!" ancamnya nggak main-main.
"Iya ini merem!" buru-buru Karel menutup mata sebelum calon istrinya itu meledak.
"Cha!" panggil Karel lagi.
"Hm?" wanita itu menjawab seadanya.
"Nanti kalau aku bobok, kamu jangan curi cium-cium aku ya."
"Idih kepedhean. Siapa juga yang mau nyipok bibir kamu!" Acha mengingkari.
"Ya kali aja. Soalnya waktu kamu bobok aku curi-curi dikit," Karel mengaku. "Nggak kerasa ya?"
"Dasar mesum. Udah tau lagi sakit, masih aja curi-curi kesempatan. Untung aja bibir aku nggak bengkak kamu emutin terus!" Acha meraba bibir cherynya.
"Bukan bibir yang itu," Karel senyam senyum sendiri, "Tapi bibir yang bawah," ucapnya malu-malu sembari menunjuk arah ************.
Acha membulatkan matanya, "Karel..! Dasar otak mesum!" teriaknya memecahkan telinga.
Pantas saja celana dalamnya sedikit basah. Ternyata Karel biang onarnya.
-TO BE CONTINUED-
Hi... pengen tau kelanjutan kisah uwu Acha dan Karel? Cus ke google playbook ya terus cari dengan keyword cellestine. Kamu bisa beli ebook lengkapnya yang udah sampai tamat di situ. Sttt.. lagi diskon loh. Buruan sebelum harga naik.
Love,
__ADS_1
Cells