
“Hah? Ayah justru sangat senang! Kau berusaha melewati batas dan meningkatkan kemampuanmu. Itu adalah bukti kerja keras dan dedikasimu belum berubah sejak dulu!” sahut ayahnya
Ayahnya itu menyahut sembari menarik Li Chen ke dalam lengannya seolah sangat bangga.
“Aduh! A-ayah, jadi kau tidak marah padaku?” tanya Li Chen sedikit gugup
Ayahnya itu melepaskannya dan mulai menepuk kedua pundaknya. Raut wajahnya yang sebelumnya terlihat penuh gurauan, perlahan berubah menjadi tenang dan serius.
“Tentu saja ayah merasa khawatir. Tetapi, melihat kau yang berusaha keras itu adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi ayah sebagai orang tua”
“Jika alasanmu berniat baik demi melindungi Li Jia dan Yaoyao, maka ayah tidak akan menghentikanmu. Namun, kau juga harus memahami bahwa tidak ada satupun dari kita yang tidak akan mengkhawatirkanmu. Jadi kau harus menjaga dirimu baik-baik”
Mendengar penjelasan dari sang ayah membuat pikiran Li Chen menjadi terbuka. Dia yang terus mengejar tingkat lebih tinggi tidak memikirkan sekitarnya, terutama keluarganya yang sangat mengkhawatirkan kondisinya.
Dia hanya berpikir untuk meningkatkan tingkat kultivasi, tidak mempertimbangkan resiko yang akan di terima oleh tubuhnya. Walaupun Li Chen sudah siap terhadap konsekuensi itu, tetapi keluarga yang mengkhawatirkannya tidaklah siap.
Li Chen memahami kesalahannya yang telah bersikap egois dan tidak memikirkan perasaan satupun anggota keluarganya.
Setelah memahami maksud dari ucapan ayahnya, Li Chen mengangkat kepalanya dan menghadap ke Ibu, ayah, Li Jia dan juga Yaoyao. Dengan wajah yang serius, Li Chen menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada mereka semua.
“Ayah, ibu, Li Jia, Yaoyao. Aku minta maaf”
Permintaan maaf itu sontak mengejutkan mereka semua. Hanya ayahnya saja yang berekspresi berbeda seolah sudah memahami dan mengira akan terjadi seperti itu. Dia hanya tersenyum tipis melihat putranya yang menyadari kesalahannya.
Sedangkan Ibu, Li Jia dan Yaoyao….
“Ka-kakak?!” sahut Li Jia
“Kenapa kakak minta maaf? Ibu, apa kakak salah sesuatu?” tanya Yaoyao
“Li Chen, jangan meminta maaf. Kau memang sedang terluka, tidak ada yang perlu di minta maaf….” ucap ibu Li Chen
Namun, Li Chen masih bersikeras untuk membungkuk dan menjelaskan alasannya.
“Tidak, aku sudah sangat egois. Menggunakan segala alasan demi meningkatkan kemampuan, tetapi tidak berpikir sedikit pun tentang perasaan kalian. Maaf selalu membuat kalian khawatir. Aku berjanji tidak akan melakukan hal gegabah seperti ini lagi!”
Li Chen berkata sungguh-sungguh dari dalam hatinya. Perasaan itu sampai ke dalam hati Ibu dan kedua adik perempuannya. Namun, perasaan sang ibu yang begitu lembut tidak tega melihat anaknya membungkuk minta maaf seperti itu.
Dia berusaha untuk meraih Li Chen, tetapi terhenti ketika suaminya menepuk pundaknya.
Puk….
__ADS_1
Ibu Li Chen menoleh ke arah suaminya. Dia melihat raut wajah dan tatapan mata penuh dengan makna seolah menyiratkan pesan di dalamnya.
‘Biarkan dia meminta maaf, agar beban itu hilang dari dalam hatinya’
Ibu Li Chen memahami apa yang ingin di katakan oleh suaminya melalui pandangan itu. Dia mengganti arah pandangannya ke arah Li Chen dan berusaha bersikap sedikit tegas.
“Baiklah, Li Chen. Ibu harap kamu tidak mengulanginya lagi”
“Tidak akan bu. Aku berjanji!”
Sahutan dari Li Chen itu membuat penegasan ulang terhadap janji yang dia buat.
“Sudahlah, jangan menunduk seperti itu terus. Kau istirahatlah yang cukup. Kita akan kembali keluar” ucap ibunya sembari mengelus kepala Li Chen
Dan pada saat itu juga, ibu, ayah, Li Jia dan Yaoyao berbalik ke arah pintu keluar kamarnya.
“Semoga cepat sembuh kak!” sahut Yaoyao
Ketika semua orang telah keluar dari kamarnya, masih ada satu orang yang berdiri di antara pintu yang terbuka itu. Gadis itu adalah Li Jia. Dia terlihat terdiam dan ragu untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
Li Chen yang melihat adik perempuan berdiri diam di sana pun merasa heran dan memanggilnya secara refleks.
“Li Jia, ada apa?”
Di terlihat seperti sedang mencari sesuatu di dalam tubuhnya yang masih masa pertumbuhan. Li Chen yang melihat adiknya meraba ke dalam pakaiannya sendiri pun memalingkan pandangannya yang memerah malu.
“Li-Li Jia, apa yang kau lakukan?!”
Di saat Li Chen berkata seperti itu, Li Jia sontak menyadari perbuatannya sendiri yang terlihat seperti orang mesum karena meraba ke dalam bajunya sendiri. Wajah Li Jia berubah merah merona layaknya tomat dan dia menutupi tubuhnya dengan kedua lengan.
“Ti-tidak tidak! Bukan seperti itu kak, aku tidak berpikiran begitu!”
“Lihat-lihat kalau kau ingin memeriksa pakaian dalammu. Walaupun aku kakak kandungmu, tetapi tetap ada batasa-!”
BUAKK!
Hantaman keras mendarat di kepala Li Chen. LiJia melempar sebuah balok kayu kecil karena merasa malu terhadap ucapan kakaknya yang salah paham.
“Ackh!” erang Li Chen
‘Su-sudah kubilang bukan seperti itu! Dasar kakak bodoh!” teriak Li Jia
__ADS_1
Keduanya saling memalingkan pandangan satu sama lain. Kesalahpahaman itu membuat suasana menjadi sedikit canggung di antara mereka berdua.
Tak lama kemudian, Li Jia yang selesai meraba ke dalam bajunya pun memanggil nama kakaknya lagi.
“Kakak, ini”
Panggilan dari adik perempuannya membuat Li Chen menoleh perlahan ke arahnya karena masih sedikit ragu karena kejadian sebelumnya. Dan ketika Li Chen memandang lurus ke arah Li Jia di tengah pintu yang terbuka, di sana dia melihat adiknya menyodorkan sebuah bola bundar seperti kelereng bersinar hijau terang di telapak tangannya.
Li Chen yang melihat bola itu pun terkejut dan dapat merasakan sebuah energi Ki melimpah di dalam bola tersebut. Kedua matanya melebar seolah tak percaya dan mulutnya sedikit terbuka seakan kata-katanya sulit untuk keluar.
“I-itu-!”
Sebelum kata-katanya keluar, Li Jia yang melihat kakaknya begitu terkejut pun melempar bola bundar tersebut ke arahnya.
Li Chen secara refleks menangkapnya dan bola itu berpindah tangan dari Li Jia ke dirinya. Dia mengangkat pandangannya dengan tatapan penuh makna ke adik perempuannya itu.
“Li Jia… ini….” gumam Li Jia
Li Jia yang merasa malu pun mulai memalingkan pandangannya dan bersifat sok keras terhadap kakaknya.
“Ja-jangan salah paham. Aku bukannya tidak ingin memberitahu ayah dan ibu, hanya saja kakak sedang pingsan. Jadi aku tidak ingin membuat ayah dan ibu kebingungan dengan adanya pil kultivasi yang kakak racik!”
Dari penjelasan adik yang berusaha menutupi rasa malunya, Li Chen menangkap inti ceritanya. Bahwa dia tidak gagal dalam meracik pil kultvasi. Bola bundar bersinar hijau terang itu adalah pil kultivasi yang dia racik sebelumnya.
Li Chen mengangkat kepala pandangannya dan tersenyum senang kepada adiknya.
“Li Jia, terima kasih….”
Li Jia memalingkan pandangannya karena tak ingin memperlihatkan wajahnya yang memerah malu karena mendengar ucapan kakaknya.
“Su-sudahlah, aku ingin berlatih lagi!”
“Iya iya…”
Li Chen menyahut sembari tak menghilangkan senyumannya. Dan ketika Li Jia ingin keluar dan menutup pintunya, gerakannya terhenti dan meninggalkan pesan kecil kepada Li Chen.
“Semangat, kakak!”
Li Jia segera menutup pintu dan langkah kakinya terdengar bergerak begitu cepat seolah berlari sekuat tenaga karena malu.
Sedangkan Li Chen yang mendengar pesan kecil itu membuat kedua matanya melebar. Mendapatkan dukungan dari adik perempuannya yang sulit jujur dengan perasaannya sendiri itu, membuatnya menjadi semakin semangat untuk berlatih dan mengalahkan Lian Ping di bulan depan nanti.
__ADS_1
“Baiklah, demi Li Jia. Aku tidak akan mengecewakannya”