Eternal System

Eternal System
System 54 : Pertarungan di Pelatihan


__ADS_3

Empat orang yang muncul tepat dari semak-semak itu langsung melompat dan menerjang ke arah Li Chen dengan energi Ki yang bersiap untuk di keluarkan.


Namun, Li Chen yang sudah berkuda-kuda siap pun mengepal kedua tangannya dan di tempatkan di samping pinggul. Kedua mata yang terpejam di buka kuat-kuat tepat ke arah mereka bereempat.


[ Skill : Bloodlust - Aktif > MP - 100 ]


[ Target telah terkena efek skill ]


[ Pengurangan status sebanyak -50% ]


[ Pelumpuhan tubuh selama satu menit ]


Sesuai dengan notifikasi sistem, keempat orang itu terkena efek skill tanpa adanya daya tahan yang sanggup untuk melawan balik. Mereka yang di tengah melompat di udara terkena pelumpuhan dan tak bisa menggerakan tubuhnya.


“(Celaka! Tubuh kita….)”


“(Tidak bisa di gerakan!)”


Hawa membunuh yang begitu kuat terpancar melalui skill bloodlust Li Chen. Namun, tak terlepas dari skill saja. Li Chen menyeringai lebar dengan aura Ki nya yang terpancar ke sekitarnya ketika melihat mereka semua ketakutan.


[ Skill : Sprint - Di aktifkan ]


[ Status kecepatan dan kelincahan telah di tingkatkan menjadi +50 poin ]


Li Chen bergerak secepat kilat hingga keempat orang tersebut tidak dapat menangkap pergerakannya. Bahkan sebelum mereka terjatuh, Li Chen sudah berada tepat di sisi belakang mereka.


Waktu terasa melambat karena pergerakan Li Chen yang terlalu cepat. Namun, efek serangan yang dia berikan di tengah kecepatannya itu baru muncul dan membuat keempat orang itu terpukul secara terlambat dengan pukulan tak kasat matanya.


BUK BUAAKK…!!!


“AAGGHHH!!” erang keempat orang misterius itu


Bruk…!!


Mereka sontak terjatuh di tanah seperti orang yang tak berdaya. Tubuhnya yang babak belur dan mengalami pengurangan status akibat skill bloodlust membuat mereka semakin tak bertenaga. Serangan Li Chen menyerang fatal ke bagian titik tubuh yang melemaskan otot dan juga saraf.


Dia berbalik badan dan menatap mereka begitu dingin seperti seorang pembunuh yang tak berbelas kasih. Perasaan teror langsung di rasakan mereka berempat. Berawal dari harusnya menyergap Li Chen, namun menjadi berbalik mereka berempat yang di sergap olehnya.


“(A-apa-apaan ini?! Di-dia… dia tidak seperti yang di katakan. Dia terlalu cepat!)”


Li Chen mulai melangkah dan menghampiri mereka secara perlahan. Dia yang berdiri tepat di salah satu orang misterius itu langsung berpose jongkok dan berbicara empat mata.


“Tak kusangka aku cukup beruntung. Kalian berempat datang padaku dan langsung memberikanku empat liontin dengan mudah”


Li Chen mengangkat satu tangannya dan memperlihatkan keempat liontin yang dia ambil saat melancarkan serangan secepat kilat sebelumnya. Mata keempat orang itu langsung terbuka dan tertuju lebar ke arah liontin mereka yang telah di ambilnya.

__ADS_1


“I-itu… liontin kami!”


“Kau-! Cepat kembalikan liontin itu!”


“Hei hei, kalian sendiri yang menyerangku. Aku hanya melakukan hal untuk bertahan hidup di ujian ini”


Mereka tertegun diam dan hanya bisa menggertakan gigi ketika mendengar ucapan Li Chen. Sedangkan Li Chen sendiri tidaklah ingin membuang-buang waktunya lagi dengan berlama-lama di sana. Dia sontak bangkit berdiri lagi dan berjalan balik ke arah sebelumnya meninggalkan mereka berempat.


“Yah, terima kasih untuk liontin gratisnya ya. Lain kali, cobalah untuk latihan lagi sebelum memilih target”


“BOCAH SIALAN!!!!”


**


Tanpa peduli dengan mereka, Li Chen berjalan lebih dalam ke hutan Shenmi. Dengan kelima liontin yang telah dia ambil, Li Chen bisa sedikit tenang kalau dia tidak perlu mencari lawan dulu. Dan dirinya bisa memfokuskan diri untuk mencari hewan mistis di sekitar sana.


Namun, Li Chen sudah berjalan lebih dari 15 menit dan dia tak kunjung menemui apapun. Baik itupun peserta lainnya atau hewan mistis, tidak ada sama sekali yang dia lihat.


“Hmm… katanya hutan ini adalah hutan penuh dengan hewan mistis. Tetapi, kenapa aku tidak menemukan mereka sama sekali?”


Di kala dia mengeluh pada dirinya sendiri, Li Chen berjalan tanpa memperhatikan jalan yang dia lalui dan malah melewati sebuah semak-semak yang begitu gatal dan menyakitkan.


Srak…srak…!!


“Ackh, Aw!! Sialan, aku tidak fokus dengan arahnya jadi harus melewati hal ini”


Ketika Li Chen mulai tak tahan, dia mulai menggaruk-garuk tubuhnya yang merasa gatal. Langkah kakinya yang menuntunnya terus berjalan ke depan, tiba-tiba saja terhenti ketika mendengar berisiknya sebuah benturan bilah besi yang tajam.


Trang…trang…!!!


Kedua mata Li Chen terbuka lebar dan pandangan matanya langsung tertuju ke depan di mana suara itu berasal. Dia berusaha untuk melihat secara diam-diam lebih dahulu. Dan jauh di depan sana, Li Chen melihat adanya Gong Qiao yang sedang beradu pedang dengan tiga orang laki-laki yang mengepungnya.


“Itu… nona Gong Qiao?!”


Li Chen menggertakan giginya karena kesal ketika melihat seorang gadis di kepung melawan tiga orang laki-laki secara bersamaan. Walaupun Li Chen belum tahu seberapa kuatnya Gong Qiao, tetapi dari situasi yang dia lihat ternyata Gong Qiao tidak terlihat begitu baik.


Dia mengalami luka goresan di beberapa bagian tubuhnya, dan juga pakaiannya sudah mulai sobek dan hampir terbuka.


Trang…!!


Dorongan dari adu pedang antara Gong Qiao dengan salah satu laki-laki terlihat cukup imbang. Namun, jumlah dari lawan yang harus dia hadapi adalah kerugian terbesarnya. Gong Qiao terlambat menyadari ada salah satu laki-laki lain yang berusaha menyerangnya dari samping.


“Kena kau!”


“(Celaka!)”

__ADS_1


Trang…!!


Gong Qiao sempat menarik mundur pedangnya dan menahan ayunan pedang lawannya. Namun, posisi kuda-kudanya yang tidaklah sempurna membuatnya kehilangan keseimbangan dan terhempas mundur.


“Ahh!!”


Bruk… bruk…!!


Tubuh Gong Qiao gemetar penuh rasa sakit yang dia terima dari luka goresan itu. Terlebih lagi, tenaganya terkuras habis karena harus menghadapi tiga orang sekaligus. Dia yang berusaha untuk bangkit berdiri berulang kali di khianati oleh kedua kaki dan tangannya hingga kembali terjatuh.


“(Ugh… aku harus… bangkit berdiri. Jika aku kalah disini… bagaimana mungkin aku bisa… berada di sisi tuan Chen?!)”


Sring…!!


Pedang yang begitu tajam di sodorkan oleh salah satu orang laki-laki tersebut. Ujungnya berada tepat di bagian leher Gong Qiao dan di sentuh ke liontin miliknya yang di kalungi di bagian leher.


“Nona Gong Qiao, tolong serahkan liontinmu itu. Kami tidak ingin menyakitimu lebih dari ini” ucap laki-laki itu meminta dengan baik-baik


“Kalian bertiga… menyerang seorang gadis… memojokkanku, dan mencoba untuk memohon mengambil liontinku? Apa kalian tidak merasa malu pada diri kalian sendiri?” sahut Gong Qiao


Ucapan Gong Qiao membuat mereka merasa kesal dan terprovokasi. Gertakan gigi dan raut wajahnya yang mengerut kuat itu dapat menjelaskan segalanya.


“Kau…!”


“Kami sudah berusaha mencoba untuk memintanya baik-baik. Dan jika kau masih bersikeras, maka jangan salahkan kami!”


Laki-laki itu menarik mundur pedangnya ke atas seolah bersiap untuk mengayunkannya ke arah Gong Qiao.


“Mereka yang kuat adalah yang akan menang! Dan nona Qiao, kau hanya hebat dalam bersembunyi dalam nama keluargamu yang hebat!”


Ucapan dari laki-laki tersebut membuat kedua mata Gong Qiao melebar seolah terkejut mendengarnya. Gong Qiao memang merasa kesal mendengarnya, tetapi entah kenapa tubuhnya tak berani melawan karena merasa bahwa hal itu sedikit benar.


Dia yang tak terlihat ingin melawan pun membuat laki-laki itu mengayunkan pedangnya tanpa ragu. Dan ketika mereka beranggapan bahwa Gong Qiao akan menyerah begitu saja, tiba-tiba saja ayunan pedangnya itu terhenti seperti di paksa.


Tek…!


“E-eh?!”


Mereka membuka lebar kedua matanya, terutama Gong Qiao sendiri yang melihat sosok Li Chen datang dan menahan bilah pedang itu dengan satu tangan kosongnya.


“Tu… tuan Chen?!”


Li Chen menghadap ke depan dan hanya memperlihatkan punggungnya kepada Gong Qiao. Sedangkan ketiga orang yang mengepungnya, melihat langsung ke arah raut wajah Li Chen yang begitu mengerikan. Tubuh mereka terdiam membeku dan keringat dingin membanjiri seluruh wajah. Saliva yang di telan karena begitu takut bahkan hampir membuat mereka lupa untuk bernafas.


Tatapan mata penuh dengan hawa membunuh dan juga kening yang mengerut kuat menunjukan betapa kesalnya dia pada mereka.

__ADS_1


“Lawan kalian adalah aku!” ancam Li Chen


__ADS_2