
Mata memandang gelap gulita. Hembusan angin terasa menyejukkan tubuhnya di sertai kicauan burung yang merdu yang menenangkan.
Li Chen mulai mengedipkan dan membuka matanya secara perlahan. Sinar hari yang mencapai titik matahari tertinggi membuat matanya menyilaukan.
“Uuhh…”
Tentu saja Li Chen bingung dengan situasinya. Dan ketika dia membuka matanya, dia sudah di hadapkan oleh Gong Qiao yang berada tepat di atasnya.
“Chen!” panggil Gong Qiao
“Qiao’er…?” sahut Li Chen
Tubuh Li Chen masih terasa lemas dan pikirannya belum kembali jernih. Tetapi, dengan apa yang di lihatnya saja sudah terlihat bahwa raut wajah Gong Qiao terlihat sangat tidak baik.
Mata yang berkaca-kaca seolah ingin mengalirkan air mata yang begitu deras. Tubuh yang gemetar terasa dari genggaman tangannya dan juga paha yang sedang menopang kepala Li Chen.
“Syukurlah, akhirnya kau bangun juga!”
“Apa yang terjadi?”
Gong Qiao mengusap air matanya sebelum jatuh dari pelupuk mata. Dia menarik nafas dalam-dalam seolah ingin menenangkan dirinya. Tetapi, justru malah sebaliknya.
“Kenapa?” tanya Gong Qiao
“Eh?” sahut Li Chen yang kebingungan sembari beranjak bangun
“Apa yang kau pikirkan?! Melawan penguasa Xuan seorang diri dan membuat dirimu terluka parah. Kau pikir kau titisan dewa yang bisa melawan semua orang dan menang dengan mudah?!”
“Aku… sangat khawatir tahu! Ketika penguasa Xuan menjelaskan situasinya padaku. Kalau kau bertarung dengannya dan berusaha untuk melindungiku dari dampak serangan. Sampai-sampai membuat tanganmu hampir hancur….”
Tubuh Gong Qiao menjadi semakin gemetar tak karuan. Air mata yang sebelumnya di usap, kini tak lagi terbendung dan mulai menetes deras.
Tes…tes….
Dalam seumur hidup, Li Chen tak pernah melihat ada orang yang pernah menangis untuk dirinya. Hal ini membuatnya sangat tertegun dan tak bisa berkata-kata.
“Qi-Qiao’er… aku-!”
“Kenapa?!”
Gong Qiao membentak keras seolah benar-benar marah terhadapnya.
__ADS_1
“Kenapa kau melindungiku?! Kau bisa berlari dan melindungi dirimu sendiri. Kenapa kau harus menyelamatkanku lagi? Apa aku ini bagimu?!”
Gong Qiao merintih penuh putus asa bertanya pada Li Chen. Hubungannya yang tidak jelas itu membuat Gong Qiao semakin meragukan dirinya sendiri setiap saat. Terlebih lagi, Li Chen yang tidak pernah membuka mulut dan terus-menerus bertindak melindungi Gong Qiao membuat perasaannya semakin tercampur aduk.
Tetapi, Li Chen saat itu tersadar. Kalau dia tidak boleh melarikan diri lagi. Dia mendekati Gong Qiao dan memegang tangannya dengan lembut.
“Qiao’er, dengarkan aku…”
Gong Qiao terkejut dan membuka lebar kedua matanya yang berlinang air mata ke arah Li Chen.
“Selama ini… saat aku pertama kali datang dan menyembuhkanmu, aku hanya berpikir bahwa itu hanya kewajibanku saja. Dengan kemampuan yang kumiliki, aku berpikir kalau aku memang seharusnya untuk membantu orang lain”
“Tetapi, walau waktu baru berjalan singkat dan kita baru saja menghabiskan waktu bersama. Aku merasa bahwa ada sesuatu di dalam diriku yang tidak mau melihatmu terluka dari apapun. Jika aku melihatmu terluka, maka aku sendiri yang akan menyalahkan diri terus menerus. Meski itu harus di bayar dengan satu atau dua anggota tubuhku, aku rela jika itu demi melindungimu!”
Gong Qiao tertegun diam ketika mendengar ucapan Li Chen. Dia tak bisa membalas, dan justru semakin terpana dengan setiap kata-katanya itu.
Sedangkan Li Chen sendiri mulai mengangkat tangan dan mengusap air mata di wajahnya.
“Maafkan aku. Aku tidak tahu harus berkata bagaimana, tapi setidaknya itulah yang aku rasakan….” gumam Li Chen
Gong Qiao menarik nafas dan mencoba untuk menenangkan dirinya. Air matanya yang di hapuskan secara utuh, raut wajah yang muram di ganti penuh senyuman hangat sembari mengangkat kedua pipi Li Chen.
“Qiao’er….”
Keduanya saling menatap satu sama lain. Kulit seputih susu dan mata yang berkilap indah memandang penuh dengan makna. Mata, hidung, rambut, maupun bibir, semua di mata Li Chen saat itu terlihat sangat cantik. Sama juga dengan Gong Qiao.
Mereka berdua mulai mendekat secara perlahan. Wajah yang mulai bersentuhan semakin dekat dan bibir ingin menyentuh satu sama lain.
Tetapi…
“Maaf menganggu suasana bagus kalian, tetapi bukankah ini masih di tengah pelatihan?”
Suara tersebut jelas-jelas menganggu suasana tersebut. Mereka berdua sontak sadar dan segera menarik mundur wajah mereka yang memerah malu.
Di sisi lain, Li Chen menarik pandangannya dan melihat ke arah suara itu berasal. Di sana ada Xuan Wudan dengan tubuh raksasanya yang memandang mereka dengan tatapan mengesalkan.
“Ka-kau-!”
Perasaan waspada Li Chen saat menatap ke arah Xuan Wudan masih belum reda. Dia yang hanya tahu kalau Xuan Wudan menginginkannya mati, langsung berdiri dan mengeluarkan aura Kinya dengan kuat.
Wossh….!!
__ADS_1
Tetapi, Xuan Wudan tidak terlihat tertarik untuk kembali bertarung dengannya.
“Sudah cukup. Aku tidak tertarik dengan nyawamu lagi”
Kedua mata Li Chen melebar kuat ketika mendengar ucapan Xuan Wudan. Sedangkan Gong Qiao menarik sedikit pakaiannya hingga membuat Li Chen menoleh ke arahnya.
“Chen, percayalah”
Ucapan dari Gong Qiao membuat Li Chen berusaha untuk yakin bahwa apa yang di katakan Xuan Wudan itu benar. Seluruh aura Ki yang memancar keluar dari tubuhnya langsung lenyap seketika.
“Kenapa?” tanya Li Chen
“Anggap saja kalau kau tidak pantas untuk di bunuh” jawab Xuan Wudan
“Kedengarannya mencurigakan” sahut Li Chen dengan tatapan ragu
“Terserah kau. Tetapi, memang itulah keputusanku”
Xuan Wudan berbalik dan berjalan meninggalkan mereka berdua dengan jawaban tak jelas. Hal ini meninggalkan Li Chen merasa heran padanya.
“Hei!” teriak Li Chen
“Chen, sudahlah! Jangan membuat penguasa Xuan marah lagi!” sahut Gong Qiao
Li Chen pun langsung meredakan dirinya dan berusaha untuk tenang.
“Aku mengerti. Ayo!” ucap Li Chen
“Ya!” sahut Gong Qiao sembari mengangguk
Mereka berdua langsung berjalan ke dalam hutan untuk melewati sisi lain dan menyelesaikan pelatihan tersebut.
Sedangkan di sisi lain, Xuan Wudan menarik pandangannya lagi dan menatap ke arah mereka berdua.
“(Li Chen ya. Haishe benar, anak itu memang benar-benar unik. Sifat, keteguhan hati, kemampuan fisik dan energi Ki yang dia miliki terasa jauh berbeda di banding manusia lain. Seolah, dia berasal dari alam dewa)”
Sebuah kilasan memori terlintas di dalam kepala Xuan Wudan. Tempat yang begitu tenang dan suci, di penuhi oleh dirinya dan juga tiga dewa mata angin lainnya. Dan di antara mereka berempat ada satu makhluk yang berdiri di tengah.
Ketika Xuan Wudan mengingat akan hal tersebut, dia terlihat menatap tajam seolah yakin terhadap dirinya.
“(Jika ramalan itu memang benar, maka Li Chen. Jalan yang kau lewati akan di penuhi dengan darah dan tragedi mimpi buruk. Kuharap saat itu tiba, kau akan sanggup melewatinya. Dan aku akan menunggumu untuk kembali dan menjalin kontrak)”
__ADS_1