
Waktu berlalu dengan cepat hingga satu bulan telah terlewati. Hari dimana tantangan dari Lian Ping kepada Li Chen pun sudah di persiapkan di tengah kota. Pamflet yang tersebar dan tertempel di dinging, serta gosip seluruh orang-orang yang berada di kota Feng tak berhenti membicarakan tentang pertarungan itu.
Dan di kala kota sedang heboh dengan berita tersebut, Li Chen yang masih berada di kamarnya itu sedang tak mengenakan pakaiannya kecuali bagian bawah. Badannya yang penuh keringat masih bergerak untuk melakukan misi harian push upnya.
“98… 98… 100!”
Hitungan telah mencapai seratus, yang berarti misi harian push upnya sudah selesai. Tak lama kemudian, Li Chen berusaha untuk bangkit berdiri sembari menarik nafas untuk menenangkan tubuhnya.
Bersamaan dengan hal itu, tepat di depan matanya muncul sistem yang memberikan hasil laporan dari misi harian tersebut.
kepada Li Chen.
[ Pelatihan massa otot tubuh - Selesai ]
[ Misi harian telah di tuntaskan ]
[ Level up! ]
[ Nama : Li Chen ]
[ Level : 27 ]
[ HP : 7400/7400 ]
[ MP : 640/640 ]
[ Tingkat kultivasi : Petarung guru bintang empat ]
[ Kelas : Petarung ]
[ Kekuatan : 30 ]
[ Daya Tahan : 22 ]
[ Kelincahan :24 ]
[ Kecepatan : 24 ]
[ Skill :
- Penghakiman telapak bumi : MP - 100
Deksripsi : Pengumpulan energi Ki yang di pusatkan ke dalam telapak tangan. Di keluarkan menjadi serangan mematikan yang dapat menghancurkan tubuh lawannya ]
Misi harian terus menerus memberikan dirinya exp dan meningkatkan status tubuh serta level. Sudah satu bulan semenjak Li Chen datang ke dunia tersebut. Dia semakin terbiasa terhadap sistem yang membantu meningkatkan kemampuan dan juga lingkungan zaman kuno itu.
Li Chen menundukkan kepalanya dan melihat ke arah telapak tangannya. Perlahan-lahan, pandangan matanya mulai mundur ke lotot lengan, dan menjadi melihat perubahan tubuhnya yang menjadi semakin terbentuk dengan otot-otot perkasa.
“Perubahan tubuhku dalam sebulan ini benar-benar hebat. Tak hanya tingkat kultivasi, tetapi fisik yang di bantu misi harian sangatlah efektif. Aku juga sudah makin terbiasa terhadap misi harian ini”
Di kala Li Chen sedang bergumam sendiri, tiba-tiba saja dia mendengar suara ketukan di balik pintu kamarnya dan diikuti suara lembut seorang perempuan.
Tok tok tok
__ADS_1
“Tuan muda, ini Xiao Nian”
Li Chen yang menyadari dirinya belum memakai pakaian atasnya pun segera mengambil dan memakai pakaian yang sudah dia siapkan di atas ranjangnya. Sembari memakai pakaiannya, Li Chen mempersilahkan Xiao Nian untuk masuk.
“Iya, masuk saja”
Dari ucapannya itu, gagang pintu mulai terbuka secara perlahan dan Xiao Nian yang berdiri di baliknya terlihat sedang membungkuk memberi hormat kepada Li Chen.
“Permisi, tuan muda”
“Ada apa?”
Li Chen telah selesai mengenakan pakaiannya. Dan Xiao Nian yang sedang menunduk pun mengangkat kepalanya perlahan.
“Tuan muda, Xiao Nian datang atas perintah nyonya besar. Penduduk kota telah berbondong-bondong pergi ke tengah kota untuk menyaksikan pertarungan tuan muda bersama tuan muda dari keluarga Lian”
Li Chen yang mendengar hal tersebut tidak merasa bahwa itu adalah pesan yang ingin di sampaikan ibunya melalui Xiao Nian. Dia pun bertanya kembali pada Xiao Nian.
“Lalu, apa yang ingin di sampaikan ibuku?”
Pertanyaan Li Chen membuat Xiao Nian terdiam untuk sesaat. Dan perlahan, dia menunduk rendah sembari menjawab pertanyaan tersebut.
“Nyonya besar berkata bahwa tuan muda tidak perlu datang ke pertarungan itu”
Jawaban tersebut memanglah sedikit mengecewakan untuk di dengarnya. Li Chen memahami kekhawatiran ibunya, tetapi itu hampir seperti meragukan kemampuan anaknya.
Tanpa berpikir lama, Li Chen berjalan melewati Xiao Nian menuju pintu keluar.
“Jangan beritahu ibuku tentang kepergianku. Jika dia bertanya, maka kau boleh menjawab dan menuntunnya ke sana”
* * * * *
Di tengah kota Feng….
Sebuah arena yang sebelumnya di pakai sebagai tempat pameran kekuatan, sudah di penuhi oleh banyak orang di bangku penonton. Mereka terlihat seperti begitu antusias untuk menyaksikan pertarungan antara dua tuan muda dari keluarga besar.
Tepat di bagian utara arena itu, terdapat tuan dan nyonya besar dari keluarga Lian. Sedangkan tuan muda dari keluarga Lian, Lian Ping sendiri sedang berdiri di atas arena menunggu kedatangan Li Chen.
Wajahnya beraut sombong dengan pakaian khusus pendekar yang dia pakai. Kedua tangan di lipat di depan dada dan dahinya mengerut tajam.
Sudah satu jam dia menunggu kedatangan Li Chen, namun tidak ada tanda-tanda kedatangannya maupun satu dari anggota keluarganya.
Para penonton yang melihatnya mulai bergosip kanan kiri tentang Li Chen yang tak kunjung datang.
“Ada apa ini? Sudah sangat lama sejak tuan muda Lian menunggu Li Chen”
“Apa jangan-jangan dia takut dan tidak berani datang?”
Lian Ping yang mendengar gosip dari para penonton membuat bibirnya menyeringai lebar dan kesombongannya meroket tinggi.
“(Hahaha! Benar, Li Chen. Kau tidak akan mungkin bisa menang melawanku yang sudah menjadi seorang petarung guru bintang dua. Sekarang kau hanya punya pilihan untuk melarikan diri)”
Lian Ping menoleh ke belakang dan melihat ke arah ayah dan ibunya yang duduk jauh di singgasana mewah. Raut wajah ayahnya, Lian Haochun terlihat begitu menyeramkan dan menunjukan aura dominasi yang kuat ke sekitarnya.
__ADS_1
Walau dari jauh, Lian Ping memahami raut wajah ayahnya yang terlihat arogan. Ayahnya berbalik tersenyum seolah memahami ucapan tersirat dari tatapan putranya.
“(Bagus anakku. Kemampuanmu meningkat tinggi, dan telah membuat Li Chen ketakutan. Dengan menikahi putri kedua dari keluarga Li, aku bisa mengambil alih kekuasaan keluarga Li di dalam kota Feng secara perlahan. Dan begitu, keluarga Lian akan menjadi penguasa dan juga keluarga terkaya di kota Feng!)”
Kedua ayah dan anak itu saling memahami niat licik mereka masing-masing dari tatapan batin itu. Dan di kala hal itu terjadi, gosip dari para penonton menjadi semakin panas karena Li Chen tak kunjung hadir.
“Haah… membosankan. Tuan muda dari keluarga Li itu ternyata hanya omong besar”
“Benar. Ternyata dia takut dan tidak berani datang”
Hinaan bagi Li Chen kembali terulang seperti saat dia kehilangan seluruh kemampuan berkultivasinya. Dan hal itu adalah suatu hal yang persis diinginkan oleh Lian Ping.
“(Inilah akibatnya jika kau menantangku sebatas dengan sifat aroganmu. Kastamu dengan ku itu bagaikan langit dan bumi!)”
Tak lama kemudian, semua orang pun lelah untuk menunggu. Mereka mulai bangkit berdiri dari tempat duduk mereka dan meninggalkan arena itu. Begitu juga dengan Lian Ping yang berbalik badan dan berjalan menuju singgasana ayah dan ibunya.
“Huh… pengecut akan tetap menjadi pengecut!”
Di kala Lian Ping sedang berjalan kembali, tiba-tiba saja dia mendengar bisikan aneh dari para penonton.
Suara yang sebelumnya penuh helaan nafas dan nada kekecewaaan, kini menjadi meninggi seolah terjadi suatu hal yang berubah 180 derajat.
“Hei hei, lihat itu!”
“Jangan bilang-!”
“Itu dia, tuan muda Li. Dia benar-benar datang!”
Bisikan yang semakin keras itu membuat perhatian Lian Ping kembali menoleh ke belakang. Kedua matanya terbuka lebar seolah tak percaya bahwa dia melihat Li Chen yang berjalan ke arahnya. Dahi yang mengerut kuat, tangan yang di kepal erat dan senyuman penuh amarah itu tertuju langsung kepadanya.
Li Chen yang terus berjalan pun berdiri tepat di atas arena. Berjarak seberang dengan Lian Ping yang kembali berbalik berdiri di arena itu.
Lawan yang di tunggu telah datang. Para penonton yang penasaran berbondong-bondong untuk kembali masuk dan duduk sesuai tempat.
Di sisi lain, Lian Ping yang tak menduga bahwa Li Chen begitu keras kepala pun berusaha memprovokasinya.
“Tak kusangka kau benar-benar datang. Kukira kau hanya seorang pengecut yang hanya tau omong besar!” ucap Lian Ping sembari meninggikan dagunya
Pada ucapan pertama, Li Chen tidak bereaksi apapun. Lian Ping yang merasa kesal karena terabaikan mencari cara lain untuk memprovokasinya.
“Seharusnya kau pergi dan tak menunjukan wajahmu lagi. Lagipula, datang ataupun tidak. Adikmu itu akan tetap menjadi milikku. Dan setiap bagian tubuhnya….”
Lian Ping merubah raut wajahnya penuh dengan intimidasi dan menjilat lidahnya sendiri seperti orang mesum yang memikirkan tubuh Li Jia yang penuh pertumbuhan unggul.
“Akan ku cicipi dengan baik-baik!”
Setelah provokasi sebanyak itu, Li Chen tidak menunjukan reaksi sama sekali. Namun, tak lama kemudian dia mulai mengangkat pandangannya yang menatap tajam ke arah Lian Ping.
“Lian Ping….”
Lian Ping yang terpanggil mengangkat dagunya dengan sombong seolah masih memandang rendah Li Chen. Dan hal itu, berubah dalam sekejap mata ketika Li Chen mengangkat satu tangannya dan menantangnya maju melawannya.
“Apa kau tak lelah menggerakan mulut busukmu itu?”
__ADS_1
Ucapan dari Li Chen sontak membuat Lian Ping mengerutkan dahinya begitu kesal. Tangannya di kepal erat dan urat dari berbagai tubuhnya terlihat tegang menahan amarah.
“Brengsek!”