
Ketika masuk ke dalam rumahnya, Gong Qiao segera duduk di seberang meja ruang tamu. The yang telah di sediakan oleh Li Chen belum dia sentuh. Melainkan Gong Qiao sendiri masih begitu gugup dan kedua tangannya mengepal erat di atas pahanya itu karena terlalu gugup untuk melakukan apapun.
Dia melirik kiri dan kanannya, berusaha mencari-cari tahu tentang Li Chen yang tinggal di dalam rumah itu.
“(Ja…jadi ini… rumah yang tuan Chen tempati ya….)” batin Gong Qiao
Di kala Gong Qiao sedang hilang dalam pikirannya sendiri, Li Chen yang sejak tadi memanggilnya pun tak kunjung di respon olehnya. Dan pada akhirnya, Li Chen sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh Gong Qiao.
“Nona Gong Qiao?” panggil Li Chen
“A-ah, iya!” sahut Gong Qiao yang sontak kembali sadar
“Umm… apa yang ingin kau katakan?” tanya Li Chen
“Eh?”
Gong Qiao memiringkan kepalanya dan menatap bingung ke arah Li Chen. Pikirannya yang melayang entah kemana belum sanggup untuk menangkap maksud dari ucapan Li Chen.
“Kau datang jauh-jauh ke asrama laki-laki untuk bertemu denganku, sebenarnya ada apa? Apa kutukanmu itu kembali aktif lagi?” tanya Li Chen
“Bu-bukan itu… Sebenarnya… aku… datang kesini untuk….”
Gong Qiao melipat kedua tangannya tepat di antara pahanya dan di gesek seolah ragu dan malu untuk melanjutkan ucapannya.
Li Chen yang terus menatap ke arahnya mulai bingung karena Gong Qiao berhenti di tengah-tengah kalimatnya. Dia menunggu dan terus menunggu hingga dia ingin membuka mulutnya.
Dan ketika saat itu tiba, bukannya membuka mulut untuk melanjutkan ucapannya. Tetapi, Gong Qiao justru menyodorkan keranjang yang dia bawa tepat ke hadapan Li Chen.
Tak tahu harus bereaksi apa. Li Chen sempat tertegun diam dan menatap kebingungan ke arah keranjang dan juga sikap Gong Qiao yang begitu aneh.
“(Eh, apa ini?! Tradisi orang kaya di zaman kuno?! Aku tidak tahu. Aku datang di pergaulan orang kaya di dunia modern! Hei sistem, lakukan sesuatu!)”
Li Chen yang tak mengerti apa arti dari hal tersebut pun tak berani berbicara atau berbuat sembarangan. Sampai tak lama kemudian, Gong Qiao mulai kembali membuka mulutnya.
“A-anu-! Tu-tuan Chen, te-terima kasih!”
“Eh?!”
“Ibu telah memberitahuku. Kalau tuan Chen datang untuk membantu memulihkan kutukan iblis yang ada di dalam tubuhku. Dan ketika ibu tertular oleh kutukan itu, tuan Chen juga menyembuhkan ibu. Karena itu, aku datang kemari untuk… be-berterima kasih pada tuan Chen!”
Ternyata seperti itu, pikir Li Chen.
Dia sedikit menghela nafas lega karena dia sempat berpikir bahwa dia harus membalas pemberian Gong Qiao yang merupakan tradisi sapaan seseorang dari zaman kuno. Namun, Gong Qiao datang ke sana dengan niat untuk berterima kasih karena sudah menolongnya.
“Sama-sama. Tetapi, menolong seseorang itu sudah menjadi hal yang wajar. Jadi tidak perlu sungkan seperti itu, Nona Gong Qiao”
Gong Qiao mengangkat pandangannya ketika mendengar ucapan Li Chen. Dia tidak mengambil keranjang yang dia berikan, melainkan tetap tersenyum tipis dan berkata seakan menolong seseorang itu adalah hal yang wajar di lakukan.
Pada saat itu, Gong Qiao terpana dengan ketampanan Li Chen yang di bantu dengan sikapnya yang begitu ramah dan juga menghangatkan hatinya. Jantung Gong Qiao menjadi semakin berdegup kencang seperti gendang yang ingin pecah, sedangkan wajahnya semakin memerah seperti tomat dan memandang kosong ke arah Li Chen seolah kehilangan konsentrasi.
__ADS_1
Lebih dari 1 menit sudah Gong Qiao tidak memberikan respon. Li Chen yang membuka matanya dan menatap ke arahnya pun kebingungan ketika melihatnya yang tak kunjung bergerak dan masih menatap kosong ke arahnya.
“U-um… nona Gong Qiao?”
Li Chen memanggil Gong Qiao lebih dari tiga kali. Tetapi dia tidak kunjung merespon, seolah kesadarannya sedang pergi entah kemana. Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya karena bingung pada Gong Qiao yang sejak awal bertemu sering kali kehilangan fokus.
“(Ada apa dengannya? Apa ini efek samping dari kutukan iblis itu?)”
“Hei, nona Gong Qiao?”
Li Chen mendekatkan jarinya ke depan wajah Gong Qiao. Dan dia langsung menjentikan jari untuk memunculkan bunyi yang mengejutkan.
Ctak…!
“Ah-!” teriak Gong Qiao yang sontak bangun
“Kau tidak apa?” tanya Li Chen
Saat menatap ke arah Li Chen, wajah Gong Qiao menjadi semakin merah dan degup jantungnya berdetak kencang. Dia yang tak kuat menatapnya langsung memalingkan pandangannya ke samping.
“Ti-tidak apa-apa!”
“Eh?!”
Sedangkan Li Chen yang melihat sikap Gong Qiao langsung berubah dan memalingkan wajahnya terlihat seakan sedang kesal atau terganggu dengannya.
“(EHH?!! Ke-kenapa dia membuang buka dariku?!)” batin Li Chen
Di kalanya keduanya sedang salah paham di pikiran masing-masing, Li Chen merasa bahwa dirinya telah melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan pada Gong Qiao. Dia langsung beranjak berdiri dan meminta maaf padanya.
“A-anu, ma-maaf nona Gong Qiao! A-aku telah membuatmu merasa tidak nyaman!”
“E-eh?! Ti-tidak. Justru aku yang seharusnya minta maaf, karena membuatmu menjadi merasa aneh!”
Gong Qiao berbalik minta maaf sembari menyodorkan keranjang yang dia bawa sebelumnya.
“To-tolong tuan Chen terima ini sebagai permintaan maaf dan terima kasihku!”
“Ti-tidak usah repot-repot nona Gong Qiao. A-aku-!”
“Sudahlah, te-terima saj-!”
Saat Gong Qiao mendengar Li Chen ingin menolak, dia sontak menjadi berusaha agresif dan memaksa Li Chen untuk menerima keranjangnya itu. Namun, pergerakan ceroboh dari Gong Qiao membuatnya tak menyadari sekitarnya dan menjadi tersandung meja di depannya.
Duk…!!
“AAAH!!”
“Awas!”
__ADS_1
Li Chen sontak menangkap Gong Qiao yang akan terjatuh, namun dia berusaha menangkapnya pun menjadi ikut terbawa jatuh ke lantai.
Bruk…!!
Keduanya saling mengerang pelan dengan menahan rasa sakit itu. Li Chen yang menggunakan punggungnya untuk jatuh dan menjadi alas pun mulai membuka matanya secara perlahan.
“Uuhh… nona Gong Qiao, kau baik-baik saja?”
Li Chen bertanya akan kondisi Gong Qiao yang hampir terjatuh itu. Namun, saat dia melihatnya terbaring tepat dia tas dada, Li Chen merasakan sebuah perasaan empuk yang menggesek di tubuhnya.
Di sisi lain, Gong Qiao mengusap kepalanya seolah terkena sedikit rasa pusing.
“Uuh… I-iya, aku tidak apa….”
Dan saat Gong Qiao mulai beranjak untuk bangun, di membuka kedua matanya secara perlahan. Dia menatap ke bawah dan melihat ke arah Li Chen yang sedang membuka lebar kedua matanya yang indah dan menatapnya dengan seksama.
Bagaimana tidak? Li Chen melihat seorang gadis yang begitu cantik sedang berada tepat di atasnya. Suara dan hembusan nafasnya dapat terasa langsung di wajah mereka yang begitu dekat. Belum juga dengan kecantikan dan juga tubuh Gong Qiao yang sangat ‘proporisonal’ itu bisa menjadi model papan atas di majalah.
Sedangkan Gong Qiao yang berada tepat di atas Li Chen juga ikut terpana. Melihat ketampanan dan kegagahan dari seorang laki-laki yang telah menyelamatkannya dari kutukan iblis. Serta kebaikan dan keramahan yang dia rasakan membuat hatinya tenang sekaligus berdegup kencang karena perasaan yang tak karuan ketika berada di dekatnya.
“Nona Gong….Qiao?”
“Tuan…Chen?”
Keduanya tenggelam di dalam suasana tersebut. Saling menatap satu sama lain, tak peduli apa yang ada di sekitarnya. Perlahan tapi pasti, nafsu di dalam tubuh manusia mereka, insting seorang pria dan wanita mulai mengambil alih. Li Chen dan Gong Qiao mulai mendekati bibir mereka dengan perlahan.
Ketika ujung bibir akan bertemu, suara pintu rumah yang terbuka sontak mengejutkan mereka.
Kreakk…!!!
“Hei, Chen! Apa kau sudah dapat kabar tentang pelatihan-!”
Orang yang berteriak dan langsung masuk ke dalam rumah adalah Lei Jingting. Teman serumah Li Chen di dalam asrama laki-laki. Dia yang pagi-pagi telah pergi lebih dulu, kini pulang di waktu yang tidak tepat.
Dia sontak menghentikan kalimatnya dan menatap dengan kedua mata yang melebar ketika melihat posisi Li Chen dan Gong Qiao yang terlihat begitu ‘mencurigakan’.
Sedangkan Li Chen dan Gong Qiao sendiri menjadi terhenti pergerakannya dan menatap balik ke arahnya dengan raut wajah panik.
“Hmm… Hm… aku pulang disaat yang tidak tepat ya….”
Lei Jingting yang melihat situasi tersebut pun langsung mengangguk dan melipat kedua tangannya tepat di depan dadanya. Dan tiba-tiba saja, dia membuka salah satu matanya dan tersenyum lebar sembari mengacungkan ibu jari ke arah Li Chen seakan sedang mendukungnya.
“Tidak apa. Aku akan keluar lagi, selesaikan urusan kalian! Masa muda itu singkat loh, jadi nikmati selagi bisa!”
Tiba-tiba saja, sebuah lemparan energi Ki berupa pukulan udara menghantam Lei Jingting tepat di wajahnya.
BUAAK…!!
“Uaagh!!” erang Lei Jingting
__ADS_1
Serangan itu berasal dari Li Chen yang kesal dan juga canggung terhadap situasi tersebut.
“Masa muda matamu, dasar orang gila!”