Eternal System

Eternal System
System 22 : Babak Kedua


__ADS_3

Di tengah ramainya para penduduk kota yang terkagum oleh kemampuan Li Chen, tiba-tiba saja Li Jia datang di pintu masuk arena tersebut bersama dengan adiknya, Yaoyao dan juga pelayannya, Xiao Nian.


Mereka terlihat berlari tergesa-gesa seolah tertinggal suatu hal yang penting. Dan hal itu terlihat jelas dari raut wajah mereka yang panik dan khawatir. Mata memandang ke depan sembari berusaha mencari-cari sesuatu.


“Kakak. Dimana kakak?!” teriak Li Jia


Sedangkan Xiao Nian yang hanya seorang pelayan berusaha untuk tetap mengikuti kecepatan kedua nona mudanya yang berlari begitu cepat.


“Nona Jia, nona Yao. Kumohon pelan-pelan, jangan sampai anda terluka dan terjatuh!”


Xiao Nian sebagai seorang pelayan tentu saja mengkhawatirkan kedua nonanya. Namun, saat dia berusaha menyusul mereka, Li Jia dan Yaoyao sudah terlihat tertegun diam melihat ke depan.


Mereka bertiga melihat ke arah yang sama dimana arena itu berada. Dan di tengahnya, terdapat punggung laki-laki gagah yang langsung di kenali dengan mudah. Punggung itu adalah kakaknya, Li Chen.


Berdiri di atas arena dengan gagah dan memandang lawannya yang telah terhempas jauh ke belakang tanpa mengeluarkan sedikitpun keringat.


“Kakak….”


Li Jia bergumam memanggil kakaknya seolah takjub terhadap kemampuan kakaknya yang begitu hebat. Dia melihat Lian Ping yang babak belur begitu jauh di bangku penonton bersama dengan kedua orang tuanya.


“Kakak menang….” gumam Yaoyao


Dari bergumam itu, Yaoyao menjadi melompat senang sembari menarik lengan Li Jia karena melihat Li Chen yang masih berdiri kokoh seorang diri di dalam arena.


“Kak Jia, kak Chen menang! Dia menang melawan Lian Ping!”


“Ya… kakak menang!”


Li Jia dan Yaoyao pun menghela nafas lega melihat kakaknya dapat menang melawan Lian Ping. Mereka berdua berlari dan menghampiri kakaknya yang berdiri di tengah arena. Sedangkan Xiao Nian ikut berbahagia dengan senyuman tipis melihat tuan mudanya yang telah kembali.


“Syukurlah, tuan muda!”


Di sisi lain, Li Jia dan Yaoyao berteriak dari belakang memanggil Li Chen.


“Kakak!”


Teriakan dari kedua adiknya itu sangatlah familiar. Li Chen segera menoleh ke belakang dan melihat kedua adik yang berlari menghampirinya.

__ADS_1


“Li Jia, Yaoyao. Kenapa kalian ada di sini?” tanya Li Chen yang terheran


“Seharusnya kita yang bilang seperti itu!” sahut Li Jia dengan pipinya yang mengembang cemberut dan diikuti oleh Yaoyao di sampingnya


“Kakak jahat sekali. Kenapa tidak memberitahu kita kalau kakak akan datang kesini?”


“Benar sekali, kita berdua dan ibu serta ayah sangat khawatir pada kakak!”


Pertanyaan beruntun dari kekhawatiran kedua adiknya itu membuat Li Chen di posisi terpojok dan tak bisa membalas apapun.


“Ma-maaf. Kakak hanya tidak bisa mundur dari kata-kata yang telah kakak ucapkan. Si bodoh Lian Ping itu berani mengusik keluarga kita, oleh karena itu aku tidak akan tinggal diam” ucap Li Chen sembari menarik pandangannya kembali ke depan


Di sana, dia melihat Lian Ping yang berusaha berjalan kembali ke dalam arena dengan tubuhnya yang babak belur. Walaupun hanya terkan dua serangan, tetapi dia berjalan sudah terlihat sempoyongan dan bisa jatuh kapan saja.


Li Chen bersama kedua adiknya yang melihat Lian Ping masih berusaha untuk kembali ke arena pun mengetahui seberapa keras kepalanya dia untuk menerima kekalahan.


“Dia masih bisa bangkit lagi!” ucap Yaoyao


Li Chen yang melihat Lian Ping tiba-tiba saja merasakan sebuah firasat buruk yang mengganjal. Dia sontak berdiri di depan kedua adiknya dan memasang lengannya ke depan mereka seolah menyuruh mereka untuk tetap di belakang.


“Kalian berdua mundurlah!”


Tak lama kemudian….


“Xiao Nian, bawa mereka berdua kembali”


Xiao Nian yang mendengar perintah dari tuan mudanya pun segera berjalan menghampiri Li Jia dan Yaoyao.


“Baik tuan muda. Nona Jia, nona Yao!” ucap Xiao Nian sembari menarik pelan lengan kedua nona mudanya itu


Li Jia yang kembali terpaksa untuk mundur dan meninggalkan kakaknya pun berteriak memanggilnya.


“Kakak!”


Teriakannya itu masuk ke dalam telinga dan membuat Li Chen menoleh ke arahnya.


“Kembalilah dengan selamat!”

__ADS_1


Permohonan dari adiknya itu seakan seperti dukungan baginya. Li Chen menarik kembali pandangannya ke depan sembari memberikan acungan jempol kepada Li Jia, seolah dia pasti akan menepati janjinya itu.


Ketika Li Jia dan Yaoyao telah di bawa mundur oleh Xiao Nian, Li Chen yang kembali menatap ke depan pun telah mendapatkan Lian Ping yang berdiri kembali di atas arena itu.


“Aahh…. Li Chen… Li Chen… Li Chen. Kau tahu, kedua adikmu itu sangat perhatian, terlebih lagi mereka juga sangat cantik. Pasti enak menjadi kakak mereka”


Li Chen merasa heran terhadap ucapan Lian Ping yang melantur aneh secara tiba-tiba.


“Apa yang ingin kau katakan?”


Lian Ping mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke arah Li Chen dengan bibir yang menyeringai lebar seolah menunjukan senyuman licik.


“Yang ingin ku katakan adalah bahwa aku belum menyerah untuk mengambil adikmu itu!”


Tiba-tiba saja, Lian Ping mengeluarkan sebuah pil berwarna hitam kemerahan dari dalam kantung pakaiannya. Pil itu terlihat sangat kelam seperti kegelapan dan membuat firasat buruk Li Chen sebelumnya menjadi meroket tinggi.


Kedua matanya melebar seolah terkejut dan tubuhnya sontak membeku diam ketika melihatnya.


“Pil hitam?!”


Dalam pikirannya, Li Chen terus kepikiran terhadap pil hitam itu. Setiap kali dia melihatnya, firasat buruk selalu terlintas di dalam dirinya, dan juga energi Ki yang di pancarkan dari dalam pil itu terasa begitu kelam dan menakutkan.


Tidak ada hal yang bisa terpikirkan olehnya. Dan tak lama kemudian, Lian Ping yang menyeringai lebar saat itu menjadi semakin bahagia melihat raut wajah Li Chen yang panik.


“Hah, benar sekali Li Chen! Panik dan takutlah selagi kau bisa. Dengan pil ini, kau akan mati di tanganku!”


Lian Ping melempar masukan pil itu ke dalam mulutnya. Tanpa selang waktu lebih dari dua detik, tubuhnya saat itu terlihat di aliri oleh ledakan energi Ki hitam yang begitu pekat.


Woshhh!


Membaranya aura hitam itu sanggup untuk membuat satu arena terkena dampak hempasan angin yang kuat. Para penonton mengangkat lengan mereka dan menutupi wajah mereka seolah berusaha untuk bertahan dari hempasan angin yang di keluarkan Lian Ping.


Secara perlahan, hempasan angin itu mulai mereda. Para penonton dan juga Li Chen kembali membuka mata mereka dan melihat ke depan di mana Lian Ping berada.


Dan tak di sangka, Li Chen melihat sesuatu yang mengerikan tepat di depan matanya. Lian Ping yang sebelumnya berdiri di depannnya, kini berubah drastis dan memancarkan sebuah energi Ki yang terasa begitu mencekam dan penuh dengan hasrat membunuh.


Energi Ki hitam kemerahan itu terpancar seperti aura di sekitar tubuhnya. Dan juga, tubuh milik Lian Ping menjadi terlihat lebih besar dengan otot dan uratnya yang terlihat begitu tegang dan penuh intimidasi.

__ADS_1


Dan yang paling mengerikan lagi, kedua bola mata Lian Ping yang berwarna hitam, kini berubah menjadi merah hitam seperti seorang iblis. Dia menyeringai lebar dengan taringnya yang memanjang keluar dan menatap ke arah Li Chen seperti menatap mangsa kerdil.


“Ayo kita mulai babak kedua!”


__ADS_2