First Love BadgirL

First Love BadgirL
Episode 44


__ADS_3

Kali ini Kimi melajukan mobilnya cukup kencang, karena permintaan wina agar ia bisa secepatnya bertemu Rey, terlihat wajahnya gelisah karena melihat jalanan yang mulai macet.


"Kim bisa agak cepat ?" pinta wina.


"Sabar Win, Rey juga gak akan kemana-mana, dia masih ada kelas juga, kan ?" jawab Kimi.


"Ia tapi--" belum selesai Wina dengan kata-katanya Kimi sudah memotong.


"Win,"


"Ok ia, gua diam, tapi bisa sedikit cepat gak ?" rajuknya lagi.


Tanpa menjawab Wina dengan kata-kata kimi hanya mengangguk kecil.


"Kim, makasih ya," ucapnya dengan suaranya yang hampir tidak terdengar.


"Ha ?


apa ?


lo ngomong apa barusan win, gua gak dengar,?" tanyanya.


"Makasih kimi," ucap wina mengulangi kata-katanya.


Kimi tersenyum kecil mendengar kata-kata wina.


"Kenapa senyum-senyum bukannya jawab, ada orang yang bilang makasih,"


"Gua harus jawab apa win, memang sudah seharusnya begitu, kan "


"Jadi maksud lo memang sudah seharusnya gua ngucap makasih sama lo, ih lo manusia yang haus akan ucapan terimakasih ternyata, gak nyangka," ucap wina, yang kali ini membuat kimi tertawa.


"Ok maaf maaf.


Win sebenarnya lo gak harus bilang makasih sama gua, karena jujur gua melakukan semuanya memang bertujuan untuk membuat lo sadar akan ketidak mungkinan yang lo harapkan, gua gak mau melihat lo semakin sakit dengan harapan lo itu nantinya," jelas Kimi.


"Ia kim, dan berkat lo yang gak pernah menyerah berusaha membuat gua sadar, sekarang akhirnya usaha lo membuahkan hasil, kan ?"


"Ia gua bersyukur lo masih bisa kembali seperti wina yang dulu," ucap kimi.


"Memangnya gua yang dulu seperti apa ?" tanya wina.


"Wina yang gua kenal dulu dia itu wanita cantik yang selalu sabar, dia kuat menyimpan perasaannya bertahun-tahun, dan yang paling penting wina yang dulu itu sangat mementingkan kebahagiaan orang disekitarnya dibandingkan dengan perasaannya sendiri, itu yang membuat gua gak punya alasan untuk--" ucap kimi, namun kata-katanya terhenti, ia tidak berusaha lagi untuk melanjutkannya.


"Untuk apa ?

__ADS_1


kenapa lo berhenti bicara ?" tanya wina.


"Nggak apa-apa win, gak usah difikirkan gak penting.


Karena yang paling penting sekarang adalah memperbaiki hubungan persahabatan lo dan Rey, " ucap kimi mengalihkan pembicaraan.


Wina yang merasa kata-kata kimi belum selesai terus memaksa kimi untuk bicara, namun kimi tetap pada pendiriannya untuk tidak membahasnya lagi.


Tidak beberapa lama kemudian mereka sudah sampai dan parkir dikampus tempat mereka belajar.


"Akhirnya sampai, turun sana cari Rey, dan selesaikan masalah diantara kalian.


Katakan apa yang seharusnya win, jangan coba untuk memendam apa-pun didalam hati sendirian," ucap kimi menasehati wina sebelum turun.


"Gua akan melakukan semua yang lo bilang kim, tapi gua juga punya permintaan sama lo," jawab wina.


"Apa ?" tanya kimi.


"Gua minta setelah gua menyelesaikan semuanya, lo harus janji sama gua untuk menyelesaikan kata-kata lo tadi yang belum selesai. Janji !" tegas wina.


"Hm," jawab kimi hanya mengangguk pelan.


"Ayo ikut, gua mau lo jadi saksi kalau gua dan Rey sudah baik-baik saja," pinta wina memaksa seraya menarik tangan kimi.


"Ia ayo win, ayo turun," ajak kimi.


"Rey, kamu sudah fikirkan tentang apa yang aku tanya kemarin ?" tanya Ezha.


"Hm Zha, belajar dulu saja, masalah itu bisa kita bahas nanti," jawab rey mengulur waktu.


Ezha menghela nafas panjang, terlihat jelas wajah kecewa terpancar dari raut wajah Ezha.


Tidak lama dari itu ada seseorang yang memanggil nama Rey, dan memeluknya dari belakang.


"Rey," sapanya.


Rey mengenal dengan jelas suara itu, tanpa mencoba melihat siapa yang memeluknya ia hanya menjawabnya.


"Win, ada apa ?" tanya Rey, wina melepaskan pelukannya dan duduk disamping Rey, kimi menjalankan tugasnya membawa Ezha keluar meninggalkan Wina dan Rey.


"Rey, maafin gua," ucap wina.


"Gua sudah memaafkan lo dari sebelum lo minta maaf win, karena semuanya gak sepenuhnya salah lo, gua juga salah karena menyakiti lo win,"


"Gak Rey, lo gak salah.

__ADS_1


Gua yang gak tau diri, gua yang terus-terusan memaksakan kehendak gua sama lo, padahal gua tau dengan jelas kalau lo sudah mencintai orang lain, gua sahabat lo yang gak pernah membiarkan lo mengejar cinta pertama lo, sebaliknya gua malah mempengaruhi lo untuk membenci Ezha, dan mendukung pekerjaan lo memberi pelajaran sama cowo-cowo yang jahat, yang resikonya malah membuat lo dalam bahaya.


Lo pantas benci sama gua rey, dan gua gak pantas jadi sahabat lo," ucap wina lirih.


"Win, gua gak pernah berfikir untuk membenci lo, masalah pekerjaan itu gua yang mau, karena gua memang gak suka sama cowo yang seenaknya.


Win sampai kapanpun lo tetap wina sahabat baik gua yang sangat gua sayangi,


maafin gua yang gak bisa membalas perasaan lo, karena gua ingin lo kembali ke jati diri lo yang seharusnya, tapi kalaupun lo belum bisa kembali sebagai sahabat gua hanya bisa mendukung apa yang menurut lo terbaik," Jawab Rey.


"Gak apa-apa Rey, sekarang gua ngerti, kenapa orang bilang cinta itu tidak bisa dipaksakan, dan tidak harus memiliki,


terimakasih lo masih menganggap gua sahabat Rey, dan menerima jalan hidup gua yang sekarang," ucap wina.


"Sama-sama win."


Masalah diantara mereka selesai dengan kebaikan hati Rey, yang mampu melupakan segala kesalahan yang wina lakukan padanya dan Ezha, mereka berpelukan sebagai sahabat kembali.


"Oh ia Rey, lo sama Ezha sudah resmi pacaran belum ?" tanya wina menggoda Rey, namun Rey hanya tersenyum malu tanpa menjawab pertanyaan Wina.


"Cie senyum-senyum, Sudah pacaran belum ?" tanyanya lagi.


"Apaan si win, kita belum pacaran," jawab Rey masih terus tersenyum malu.


"Kenapa belum ?


bukannya Ezha sudah meminta lo jadi pacarnya, bahkan lebih, kan ?"


"Hm, sebenarnya alasannya karena lo yang gak bisa menerima win," jelas Rey.


"Maaf ya Rey bahkan kebahagiaan lo, lo gak bisa memutuskannya sendiri," ucap wina sedih.


"Gak apa-apa win, gua hanya gak mau semakin menyakiti lo, itu saja,"


"Ya sudah sekarang gua tanya, lo sayang Ezha ?" tanya wina serius, alih-alih menjawab dengan kata-katanya, Rey hanya mengangguk malu.


"Haha gak usah dijawab Rey, gua faham dan tau jawabannya.


Sebaiknya lo cepat bilang sama Ezha kalau lo juga mencintai dia, nanti keburu diambil intan lagi," ucap wina memperingatkan Rey.


"Hm jangan dong," protes Rey.


"Yasudah kalau begitu cepat bilang,"


"Hm ia nanti gua pasti kasih jawaban untuk Ezha win," ucapnya masih terus tersenyum.

__ADS_1


"Nah gitu dong, itu baru namanya sahabat gua,"


Hubungan diantara Rey dan wina akhirnya menemui titik temu, mereka masih berbincang dan tertawa bersama, mengabaikan kimi dan Ezha yang masih menunggu mereka dengan sabar.


__ADS_2