
"Kamu baik-baik saja, kan ?" tanya Wina mencoba mengajaknya berbincang.
"Hm," jawabnya singkat tanpa membuka mulutnya.
"Lalu kenapa kamu terus diam, apa ada yang mengganggu fikiran mu saat ini ?"
"Gak ada apa-apa,"
"Kamu yakin gak ada apa-apa, tapi wajah dan sikap mu tidak menunjukan bahwa kamu baik-baik saja ?"
"Hm," jawabnya lebih singkat dari sebelumnya.
"Kamu benar-benar tidak akan memberitahu aku, apa yang membuat kamu jadi pendiam seperti ini ?" Wina terus berusaha memancing Fandy dengan pertanyaan yang sama secara terus menerus, sampai akhirnya Fandy menyerah dan menjawabnya.
"Aku itu kesal Win ini sudah yang kedua kalinya kita gagal, mengerti !" jawabnya.
"Gagal ?
apa yang gagal ?" tanya Wina berpura-pura tidak mengetahui maksud Fandy.
"Iya seharusnya tadi kita bisa--
hm, sudahlah lupakan saja, anggap saja aku tidak pernah mencoba bicara," jawabnya.
"Tidak baik menghentikan pembicaraan sebelum menyelesaikannya,"
"Ok, kalau begitu aku akan melanjutkan kata-kataku.
Seharusnya tadi aku bisa menciummu walaupun hanya sebentar !
tapi itu terus saja gagal, dan ada saja alasannya," jawab Fandy menekankan suaranya.
Cukup lama ia menunggu jawaban Wina tapi tidak juga ia membuka suaranya, seketika Fandy langsung menyadari apa yang baru saja ia ucapkan terlalu berlebihan, lalu Fandy menepikan mobilnya dipinggir jalan.
"Win, Win jangan berfikir macam-macam ya, aku hanya asal bicara saja, aku sudah bilang untuk melupakan kata-kataku tapi kamu terus memaksaku untuk bicara, jadi aku tidak bisa mengontrolnya," ucap Fandy merasa bersalah dengan kata-katanya yang terlalu asal dan berlebihan.
Wina tidak menjawab apa-pun ia hanya terus diam dan melihat kearah depan.
"Win, Win jangan marah lagi ya ?
tolong kita baru saja baikan,"
"Aduh Fandy Fandy, mulut lo ini benar-benar gak bisa dijaga !
sekarang lo membuat Wina marah lagi sama lo !
bodoh !" serunya pada dirinya sendiri seraya memukul-mukul mulutnya sendiri.
Wina mencoba menghentikan perbuatan Fandy dengan menarik tangan Fandy yang ia gunakan untuk menyakiti dirinya sendiri, setelah sebelumnya ia sudah melepaskan sabuk pengaman yang menempel didirinya terlebih dahulu, Wina dengan cepat mendekat kearah Fandy dan mengecup lembut dibibirnya, Fandy yang awalnya terkejut pun tidak tinggal diam begitu saja ia merangkulkan tangannnya dileher dan dipinggul Wina, kemudian membalas kecupan yang Wina mulai.
Namun apa yang mereka lakukan tidak berlangsung lama ketika Wina merasa apa yang mereka lakukan sudah mulai memanas, sehingga ia bisa mendengar dengan sangat jelas suara nafas Fandy yang terdengar seperti orang yang tengah berlari,
suara nafas itu membuat jantung Wina berdegup begitu kencangnya, takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, ia pun mulai menjauh untuk menghentikan apa yang mereka lakukan dan ia kembali duduk seperti biasa dikursinya, dengan cepat pula tangannya memasang kembali sabuk pengamannya.
Sementara Fandy dibuat kebingungan dengan sikap Wina, ia menatap Wina yang wajahnya mulai memerah.
"Ada apa Win ?" tanya Fandy.
__ADS_1
"Maaf Fan, seharusnya aku tidak melakukan itu," jawab Wina menghindari tatapan Fandy.
"Apa yang salah dengan yang kita lakukan Win ?"
"Jelas salah Fandy !" seru Wina mulai meninggikan suaranya.
"Hm, kalau begitu aku minta maaf," ucap Fandy, ia kembali menyalakan mesin mobil itu dan mulai melajukannya, sepanjang perjalanan mereka terus diam satu sama lain.
Setelah cukup lama akhirnya mereka sampai didepan rumah Wina.
"Terimakasih," ucap Wina.
Wina terlihat sangat terburu-buru ingin cepat keluar dari dalam mobil Fandy.
"Tunggu !"
"Ada apa ?" tanya Wina yang kembali membenarkan posisi duduknya.
"Apa yang sedang kamu fikirkan sebenarnya ?
selesaikan sekarang juga !
aku tidak akan membiarkan kamu pergi dengan membawa kemarahan seperti sekarang ini !"
"Aku gak apa-apa Fandy,"
"Kamu harap aku percaya dengan melihat sikap yang kamu tunjukan sekarang ?
orang bodoh juga tidak akan percaya Win, jelaskan ada apa ?"
"Baiklah !
sementara yang aku tau antara kamu dan aku tidak ada ikatan apa-pun !
aku berharap kamu tidak berfikir untuk menyamakan aku dengan para gadis yang dengan mudah kamu permainkan itu, atau kamu memang menganggap aku mudah ?" Wina menjelaskan apa yang mengganggu fikirannya.
"Ya ampun haha," Fandy tertawa mendengar penjelasan Wina, yang membuatnya semakin tidak faham dengan apa yang ada difikiran Fandy tentangnya.
"Apa yang lucu ?" tanya Wina kesal.
"Yang lucu pertanyaan kamu Win.
Dengar aku baik-baik, semua gadis yang dekat denganku bukan aku yang mengejar mereka, mereka lah yang menginginkan aku, berbeda dengan kamu, untuk dekat seperti ini aku butuh waktu yang sangat panjang, sampai merencanakan segala hal hanya untuk bisa bicara santai dengan kamu seperti sekarang ini.
Lalu dengan perjuanganku yang sampai seperti itu apa menurut kamu aku hanya ingin bermain ?
Nggak Wina !
sekarang apa yang membuat kamu berfikir aku menganggap kamu mudah ?" tanya Fandy.
"Hm, karena kita tidak ada ikatan apa-apa sementara aku berani memulai mencium kamu," jawab Wina dengan wajahnya yang mulai memerah.
"Hanya kamu yang mengatakan bahwa kita tidak ada ikatan.
Dari awal kita bertemu kamu itu adalah kekasihku," jawab Fandy.
"Terlalu percaya diri tidak baik, memangnya siapa yang ingin jadi kekasih kamu ?"
__ADS_1
"Hm, yakin tidak ingin ?" tanya Fandy menggoda Wina.
"Sudahlah aku mau masuk kerumah,"
"Hey, tunggu jawab dulu pertanyaan aku,"
"Pertanyaan yang mana yang belum aku jawab, apa pertanyaan omong kosong tadi !"
"Bukan.
Karena aku baru saja akan mulai bertanya,"
"Apa ?"
"Mau menemani aku melihat matahari sampai dia tenggelam lagi esok hari ?"
"Hanya itu ?
baiklah !"
"Tunggu belum selesai,"
"Apa lagi ?"
"Aku ingin kamu menemani aku melihatnya untuk esok, esoknya lagi dan selamanya,
Bisa ?"
Wina tersenyum mendengar kata-kata Fandy, walau penuh teka-teki tapi ia mengerti maksudnya, tapi Wina hanya ingin semuanya jelas.
"Tidak mau !"
"Kenapa ?"
"Melihat matahari dipantai itu terlalu jauh, kalau sesekali tidak jadi masalah,"
"Hm, ok kalau begitu aku ganti pertanyaanku," ucap Fandy yang membuat Wina tersenyum tipis.
"Jadi kekasihku ya," ucapnya dengan memandang lekat pada Wina.
Sudah diberi pertanyaan yang sangat jelas tapi Wina malah bersikap seperti orang bingung.
"Kenapa tidak jawab, apa pertanyaanku terlalu sulit ?" tanya Fandy yang tidak sabar menunggu jawaban Wina.
"Hm," jawab Wina singkat seraya mengangguk pelan.
"Apa artinya itu ?" tanya Fandy lagi
"Iya,"
"Iya apa ?"
"Iya aku mau menjadi kekasih kamu, dan bersama melihat matahari sampai tenggelam.
Puas, ternyata kamu menyebalkan," jawab Wina.
Fandy tersenyum diikuti Wina yang juga tersenyum.
__ADS_1
Akhirnya setelah hubungan mereka jelas Fandy memperbolehkan Wina untuk masuk kedalam rumahnya, setelah ia meninggalkan kecupan manis dikening Wina sebelum ia benar-benar pergi.