
Keesokan paginya saat mereka bertemu dikampus entah itu Rey ataupun Ezha mereka hanya bisa saling menatap tanpa mencoba menyapa satu sama lainnya, Ezha juga membiarkan Intan tetap dekat dengannya walaupun hanya saat didepan Rey saja.
Melihat kedekatan Ezha dan Intan, Rey hanya berusaha tersenyum sinis dan kemudian pergi menjauh dari mereka.
"Rey, ada apa dengan kalian berdua ?
kenapa lo diam saja saat Intan menggandeng tangan Ezha ?" tanya Wina merasa heran dengan sikap keduanya yang tampak seperti orang asing saat mereka bertemu.
"Gua sama Ezha sudah tidak ada hubungan apa-apa Win, jadi gua sudah gak punya hak untuk marah atau melarang dia dekat dengan siapapun termasuk dengan mantannya," jawab Rey menjelaskan.
"Lalu ?"
"Ya, gua fikir dari pada mereka bermain dibelakang gua, akan lebih baik jika gua biarkan mereka bersatu seperti ini, betulkan ?"
"Maksud gua, apa lo baik-baik saja dengan semua ini ?
apa mungkin ini ada hubungannya dengan malam itu ?" tanyanya.
"Gua baik-baik saja Win, tapi gua gak tahan kalau hanya diam, tanpa membalas perbuatan Ezha sama gua !" seru Rey menggeram kesal.
"Membalas perbuatannya gimana maksud lo Rey ?" tanya Wina yang semakin bingung.
"Tunggu dan lihat saja apa yang akan gua lakukan Win !" gumamnya seraya melihat kearah Ezha yang baru saja memasuki kelas.
#
Saat semua jam pelajaran selesai semua orang berhamburan keluar dari dalam kelas.
"Sekarang ini waktunya !" gumam Rey tersenyum sinis.
"Waktunya untuk apa Rey ?" tanya Wina yang tidak tau apa yang sedang Rey rencanakan.
Namun Rey tidak mencoba untuk menjawab pertanyaan Wina, ia hanya melangkah keluar dari dalam kelas dan langsung menuju parkiran, sesuai dengan dugaan Rey disana sudah ada Fandy yang tengah menunggu untuk menjemputnya.
"Waktunya ketemu Fandy maksud lo ?" tanya Wina lagi, alih-alih menjawab pertanyaan Wina, Rey hanya memilih menatap Wina lalu tersenyum lebar kearahnya, ia juga berusaha melangkahkan kakinya menuju ke Fandy sebelum Wina menarik kembali tangannya.
"Rey, cukup satu kali saja lo terjebak sama target lo, tolong jangan lagi lo pakai hati saat menjalankan tugas lo, karena gua gak mau melihat lo kecewa lagi apa lagi kalau sampai melakukan tindakan bodoh," ucap Wina mengingatkan Rey.
"Lo tenang saja Win, gua tau apa yang gua lakukan, gua pergi menemui Fandy dulu," jawab Rey, kali ini Wina melepaskan tangannya dan membiarkan Rey melangkah mendekati Fandy yang dari kejauhan sudah tersenyum saat melihat mereka.
"Hai Fan, gua kira lo lupa tentang apa yang kita sepakati kemarin ?" tanya Rey yang saat ini sudah berada dihadapan Fandy.
__ADS_1
"Rey, dengar apa-pun itu kalau demi untuk mendapatkan Wina, gua akan lakukan dengan senang hati !" jawabnya dengan tegas.
"Ok ia apa kata lo saja Fan," ucap Rey menanggapi jawaban Fandy, seraya matanya menelusuri setiap sudut parkiran itu, sampai akhirnya matanya menangkap seseorang yang memang ia tunggu tengah berjalan menuju kearah parkiran, tanpa menunggu waktu lagi Rey menjalankan rencananya, dengan segera ia memeluk Fandy saat Ezha mulai memperhatikan mereka.
"Rey, lo apa-apaan ?
Wina masih disana melihat kita !" gumam Fandy berusaha melepaskan pelukan Rey.
"Lo sudah janji mau bantu gua Fan, masalah Wina nanti gua bantu bicara, sekarang lo ikuti alur saja !
karena saat ini Ezha tengah memperhatikan kita Fan !" jawab Rey menjelaskan.
Akhirnya Fandy mengalah dan memulai apa yang sudah mereka rencanakan waktu itu, namun saat Fandy hendak mencium Rey, Rey membelalak dan dengan cepat menjauhkan wajahnya.
"Kenapa ?" tanya Fandy.
"Itu berlebihan Fandy !" jawab Rey geram.
"Sebaiknya lakukan ditempat yang hanya ada kalian berdua didalamnya, jangan disini, karena semua orang punya mata untuk melihat dan mulut untuk bergosip, kalau kalian tidak berniat menjadi terkenal sebaiknya cari tempat untuk memuaskan nafsu kalian !" ucap Ezha seraya berjalan melewati keduanya.
"Maksud lo apa !" seru Rey yang menghampiri Ezha dan menghentikan langkahnya.
"Saya tidak ada maksud apa-apa, hanya memberi saran, kalau kalian tidak suka dengan saran saya tinggal abaikan saja !
Detak jantung Rey terasa memburu, nafasnya sudah tidak bisa ia atur lagi saat mendengar dan melihat sikap Ezha yang sudah sangat berubah padanya.
Saat Ezha pergi Fandy kembali mendekati tempat Rey berdiri, begitu juga Wina yang dari tadi terus memperhatikan mereka pun ikut berlari menghampiri Rey, untuk memastikan keadaannya, karena sudah cukup lama dari kepergian Ezha, Rey masih tetap berdiri mematung ditempatnya.
"Rey, lo gak apa-apa ?" tanya Fandy.
"Rey, lo gak apa-apa ?" tanya Wina yang baru saja berdiri didepan mereka.
"Win, dia benar-benar berubah sekarang !
dia benar-benar lupa sama gua !
padahal baru dua hari kita putus !" ucapnya menjawab hanya pada Wina yang langsung memeluknya dan mengabaikan keberadaan Fandy.
"Tenang ya, ayo sekarang kita pulang dulu," ajak Wina memapah tubuh Rey.
"Hm, Wina tunggu !" teriak Fandy.
__ADS_1
Wina berbalik tanpa bertanya.
"Gimana kalau gua antar kalian pulang ?" tanya Fandy.
"Gak usah Fan, Rey bawa kendaraan sendiri," jawab Wina.
"Win, gua gak mau nyetir sendiri, sudah biarkan Fandy membawa kita pulang kali ini," ucap Rey ikut angkat bicara.
Akhirnya mereka pulang diantarkan oleh Fandy sampai kerumah Rey.
Setelah membiarkan Rey untuk istirahat Wina dan Fandy pun berpamitan untuk kembali pulang.
"Win, lo pulang sama siapa ?
hm, maksud gua lo pulang naik apa ?" tanya Fandy salah tingkah.
"Taxi," jawabnya singkat.
"Hm, gimana kalau gua antar, mau ?" tanya Fandy ragu.
Wina sempat terdiam sebelum akhirnya mengiyakan ajakan Fandy untuk mengantarnya pulang.
Diperjalanan Fandy terus memulai pembicaraan, dari mulai menceritakan tentang hidupnya atau sekedar melawak, namun tidak ada sedikitpun Wina merespon ceritanya.
"Win, lo kenapa ?
lo benci sama gua ?" tanya Fandy yang mulai merasa Wina benar-benar tidak ingin mengenalnya.
"Gua gak membenci orang tanpa alasan, tapi bisa jadi gua akan membenci lo kalau sampai lo berani mempermainkan sahabat gua !" jawab Wina.
"Maksud lo ?"
"Gua tau siapa lo Fandy, jadi jangan harap lo bisa membodohi Rey dengan rayuan ataupun dengan wajah lo itu !"
"Lo salah faham Win, gua sama sekali gak pernah berniat untuk merayu ataupun menggoda Rey, karena gua tau Rey itu hanya mempunyai satu nama dihatinya, yaitu laki-laki yang tadi siang kita temui, dan untuk itu gua ada dikampus lo hari ini," jelas Fandy.
"Maksud lo Ezha ?
kenapa lo bisa tau tentang Ezha ?
apa saja yang lo tau sebenarnya ?" tanya Wina.
__ADS_1
"Gua akan jawab semua pertanyaan lo itu, kalau lo janji akan memberi gua nomor telphone lo, dan bersikap lebih manis sama gua, gimana ?"
Wina kembali terdiam mendengar Fandy memberikan syarat yang ia rasa sangat tidak masuk akal, tapi demi mengetahui apa yang tidak ia ketahui, ia pun menyetujui syarat yang Fandy ajukan.