First Love BadgirL

First Love BadgirL
Episode 72


__ADS_3

"Fan,"


"Ya ?


kenapa ?


lo sudah mau pulang, kalau begitu ayo kita pulang," ucap Fandy seraya berdiri sejajar dengan Wina, tidak hanya itu Fandy juga terlihat berusaha menyembunyikan matanya yang mulai basah.


Fandy berbalik dan berusaha melangkahkan kakinya kearah mobil.


Namun Wina berhasil menarik tangannya untuk membuat Fandy berhenti.


"Disini sebentar lagi ya, setidaknya sampai matahari itu benar-benar tenggelam," ucap Wina yang terlihat bicara dengan punggung Fandy.


Fandy menganggukkan kepalanya cukup cepat menyetujui permintaan Wina, namun sebelum berbalik kearah Wina Fandy sudah terlebih dahulu menghapus air matanya yang sudah terlanjur jatuh.


"Ayo duduk," ajak Wina menarik lengan Fandy untuk mengikutinya.


"Hm," jawab Fandy singkat.


Mereka berdua pun akhirnya duduk dipinggir pantai dengan jarak yang tidak terlalu jauh satu sama lain.


"Apa luka kamu sakit ?" tanya Wina.


"Nggak sesakit luka yang tidak terlihat," jawabnya.


"Maaf," ucap Wina.


Fandy tidak menjawab permintaan maaf Wina, ia hanya terus fokus melihat kearah matahari, mereka sama-sama terdiam dan memandang kagum, sampai akhirnya matahari itu benar-benar tenggelam.


"Ayo pulang," ajak Fandy seraya berdiri.


Wina kembali menarik tangan Fandy agar ia kembali duduk ditempatnya.


"Kenapa lagi ?


bukannya lo bilang hanya sampai matahari itu tenggelam, sekarang mataharinya sudah tenggelam, dan sebentar lagi bulan akan muncul untuk menggantikannya," ucap Fandy.


"Matahari tidak akan pernah terganti Fan, hangatnya, terang sinarnya, dan juga cerianya," jawab Wina.


"Maksud lo ?"


"Duduk dulu, kita perlu bicara," ucap Wina, tanpa banyak memprotes lagi Fandy pun kembali duduk ditempatnya semula.


"Fan, aku minta maaf untuk apa yang aku lakukan sama kamu hari ini," Wina kembali membuka pembicaraan dengan gaya bicara yang sopan, membuat Fandy merasa bingung dengan kepribadian wanita itu yang terkadang sulit ditebak.


"Santai saja gak usah terlalu banyak mengumbar kata maaf, memang ini salah gua, gua sadar dengan sikap gua selama ini wajar saja kalau lo bersikap seperti itu," jawab Fandy mencoba tetap seperti biasanya.


Wina melihat Fandy yang tidak pernah lagi menatap kearahnya, kemudian ia menyandarkan kepalanya dibahu Fandy, yang membuat Fandy sedikit terkejut.

__ADS_1


"Fan, apa kamu masih ingin melupakan matahari setelah ia terbenam ?" tanya Wina.


"Maksudnya ?"


"Apa matahari menurut kamu bisa dengan gampang digantikan ?" tanya Wina lagi tanpa berusaha menjawab kebingungan Fandy.


"Semuanya ada ditangan sang matahari, kalau ia meminta semua orang untuk melupakannya, maka ia akan dengan mudah terlupakan saat malam mulai datang,


tapi kalau yang lo maksud itu adalah diri lo, gua akan menjawab, semuanya ada ditangan lo Win, kalau lo meminta gua pergi dan melupakan lo, maka gua akan pergi dan gak akan pernah berada disekitar lo lagi," jawab Fandy.


"Lalu bagaimana kalau seandainya aku meminta kamu untuk tetap berada disekitar aku, apa kamu masih bisa menyanggupinya ?" tanya Wina masih bersandar dibahu Fandy.


"Lo ngomong apa Win ?"


"Aku yakin kamu mendengar aku dengan sangat jelas Fan, dan apa yang kamu dengar itu semua benar," jawab Wina.


"Gua hanya ingin memastikan kalau gua gak salah dengar saja Win,"


"Hm, dan aku berharap, aku bisa mendengar lagi kamu berbicara manis seperti waktu itu, bisa ?" tanya Wina.


Fandy mengangkat kepala Wina dari bahunya dan menggenggam erat dikedua bahu Wina, lalu ia mengangguk seraya mengembangkan senyum bahagia diwajahnya.


"Tentu saja a- a- aku bisa," jawabnya.


"Terimakasih," jawab Wina membalas senyuman Fandy.


Kemudian Wina kembali bersandar dibahu Fandy.


"Karena saat ini bahu ini adalah tempat paling nyaman.


Hm, Fan--" entah apa yang ada difikiran Wina tapi ia tiba-tiba saja menghentikan kata-katanya.


"Ya, kamu mau bicara apa Win ?


kenapa gak dilanjutkan ?" tanya Fandy yang sudah penasaran dibuatnya.


"Gak apa-apa Fan,"


"Oh begitu, baiklah" jawab Fandy lagi.


Sepertinya Wina tidak puas dengan jawaban Fandy, dan membuatnya menarik kembali kepalanya dari bahu Fandy.


"Kamu kenapa Win ?" tanya Fandy.


"Aku kesal, kenapa kamu gak bertanya lagi tentang apa yang akan aku bicarakan tadi !" seru Wina sedikit merajuk.


"Tadi bukannya kamu bilang gak ada apa-apa, aku fikir kamu memang gak akan jadi bicara," jawab Fandy polos.


"Bukannya kamu itu pemain ya, harusnya kamu ngerti dong kalau cewe bilang gak ada apa-apa itu artinya ada apa-apa !" seru Wina lagi.

__ADS_1


"Aku memang terkenal sebagai pemain Win, tapi karena aku tidak berniat untuk serius dengan mereka jadi aku tidak terlalu perduli dengan kode-kode seperti itu,"


"Oh itu artinya kamu juga tidak perduli sama aku ?" tanya Wina seraya duduk membelakangi Fandy.


"Hm, kalau sama kamu beda kasus Win, aku hanya gak mau memaksa kamu untuk bicara, bukan karena aku gak perduli tapi karena aku takut kamu marah, dan menganggap aku terlalu mau tau tentang hidup kamu,"


jawab Fandy, ia kembali memegang kedua bahu Wina dari belakang dan berusaha membujuknya untuk kembali menghadap kearahnya.


"Jangan marah ya.


Ok baiklah aku minta maaf, sekarang aku tanya lagi, tadi kamu mau bicara apa ?" tanya Fandy lagi.


Wina menghadap Fandy dan mencubit pipi Fandy seraya menertawakannya.


"Aku gak benar-benar marah Fandy,"


"Oh ternyata kamu sudah pandai bercanda sekarang, Lepasin sakit Wina,"


"Nggak,"


"Ok, kalau kamu gak mau lepasin, kalau begitu jangan salahin aku ya," ucap Fandy seraya menggelitiki perut Wina, sampai membuat Wina meminta ampun pada Fandy agar ia menghentikan apa yang ia lakukan.


"Terimakasih," ucap Fandy.


"Untuk ?"


"Karena sudah mau tertawa bersama aku hari ini,"


"Hm," jawab Wina mengangguk pelan.


Angin pantai yang sepoy-sepoy malam itu menerpa wajah keduanya, seakan larut dalam keheningan malam, Wina terhipnotis dengan pandangan mata Fandy yang memancarkan ketulusan, Fandy mencoba kembali apa yang waktu itu gagal mereka lakukan.


Fandy merangkul pinggang Wina dan menariknya agar bisa lebih mendekat dengannya, namun saat mereka sudah benar-benar dekat dan keduanya sudah memejamkan mata, tiba-tiba dering dari ponsel Fandy kembali membuat keduanya terkejut.


"Aakkh ganggu !" gumam Fandy yang ditertawakan oleh Wina.


Fandy meraih ponsel disakunya, melihat siapa yang menghubunginya, dan menerima telphone itu seraya berdiri, setelah selesai Fandy kembali duduk disamping Wina.


"Hm, maaf ya adik aku ganggu," ucapnya malu-malu.


"Gak apa-apa.


Ayo pulang, sudah terlalu malam, tempat ini juga lumayan jauh," ajak Wina seraya berdiri.


"Ha ?


sekarang ?" tanya Fandy yang memasang wajah kecewa.


"Ia ayo pulang sekarang, kalau gak semua orang akan mengkhawatirkan kita," jawab Wina.

__ADS_1


Dengan langkah berat akhirnya Fandy menyetujui untuk mereka segera kembali.


Didalam mobil Fandy kembali terdiam, tapi Wina tetap tersenyum melihat sikap Fandy, sepertinya Wina sangat faham apa yang membuat Fandy tiba-tiba diam.


__ADS_2