
Setelah Ezha pergi, Rey dengan cepat hendak melangkah mengikuti Ezha, namun langkahnya berhasil dihentikan oleh Intan yang langsung menahan dan menarik lengan Rey.
"Mau kemana Rey ?
mengejar Ezha ?" tanya Intan dengan senyum sinis menyungging dari bibir kirinya.
"Bukan urusan lo Tan !" jawab Rey sinis seraya melepaskan genggaman tangan Intan padanya.
"Santai saja Rey, lo tidak perlu semarah ini.
Kenapa lo sepertinya takut gua akan merebut Ezha kembali dari lo, bukan begitu Rey ?
atau lo memang sedang takut karena memikirkan karma lo yang pernah merebut dia dari gua ?" tanya Intan.
"Gua gak pernah takut dengan apa yang lo katakan tadi Tan !
karena gua tau dengan sangat jelas Ezha tidak bodoh dan tidak akan pernah ingin kembali lagi dengan perempuan berhati lebih dari satu seperti lo !
jangan terlalu banyak berharap !" jawab Rey kembali membentak Intan.
"Oh ya ?
lo yakin kalau dia tidak bodoh ?
bagaimana kalau seandainya gua bilang malam itu Ezha datang dan bercumbu sama gua, sampai membuat dia lupa memberi lo kabar, bahkan mengabaikan ponselnya yang terus menerus berdering !
apa lo percaya kalau gua bilang begitu ?
dan kira-kira apa yang akan lo lakukan jika semua itu benar terjadi ?" tanya Intan kembali memanaskan hati dan fikiran Rey, mendengar pengandaian yang Intan sampaikan membuat Lidah Rey kaku dan tidak mampu lagi untuk menjawab pertanyaan Intan, Rey hanya bisa diam, pandangannya lekat menatap Intan dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Melihat sahabatnya tidak mampu lagi berkutik membuat Wina tergerak untuk membela Rey.
"Cukup Intan, kali ini lo sudah berlebihan !" bentak Wina yang ikut angkat bicara.
__ADS_1
"Sst, gua gak ada urusan sama lo pesuruh !
sebaiknya lo diam saja, dan tunggu perintah dari bos lo yang sedang dibakar rasa cemburu saat ini," ucap Intan kembali menyindir.
"Maksud lo apa !" teriak Wina yang sudah siap hendak mendaratkan telapak tangannya diwajah Intan, namun sempat dihentikan oleh Rey.
"Wina berhenti !
gua sudah bilang untuk jangan ikut campur masalah ini !" teriak Rey.
"Dan lo Intan, gua gak percaya dengan omong kosong yang baru saja keluar dari mulut lo !
karena gua yakin Ezha bukan laki-laki yang mudah dirayu, apa lagi kalau dirayu untuk bercumbu dengan lo yang berbadan kurus, depan dan belakang sama ratanya, tidak akan ada yang bernafsu melihat postur tubuh lo yang tidak menarik ini !
jadi gua minta lo jangan banyak berkhayal, cepat bangun dan hadapi kenyataan bahwa Ezha sekarang adalah milik gua dan bukan lagi jadi budak lo !" ucap Rey membalas hinaan yang Intan ucapkan untuknya.
"Terserah lo mau menghina gua seperti apa-pun juga, tapi intinya kalau memang lo tidak percaya dengan apa yang gua katakan tadi, kalau begitu lo silahkan bertanya langsung saja sama Ezha !
dan lo pastinya faham dan bisa membedakan ketika seorang laki-laki tengah jujur atau berbohong, karena gua tau lo berpengalaman dengan para laki-laki pemain !
tapi kalau dia mengatakan hal yang sama seperti apa yang gua sampaikan tadi, sebaiknya lo cepat pergi dan kembalikan lagi dia sama gua !
bagaimana apa lo setuju ?" tanya Intan seraya mengulurkan tangannya dan mengajak Rey untuk bersalaman.
"Ok gua setuju," jawab Rey menyambut uluran tangan Intan.
Wina yang melihat Rey bisa sangat mudah menyetujui perjanjian yang Intan berikan pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa berani mencela atau ikut campur lagi setelah tadi sempat dibentak oleh Rey.
Saat kesepakatan sudah mereka setujui, mereka pun segera pergi tanpa berpamitan satu sama lainnya.
"Rey, lo mau kemana sekarang ?" tanya Wina.
"Gua mau kerumah Ezha dan menanyakan apa yang baru saja gua dengar dari Intan !" ucap Rey dengan suara kesal.
__ADS_1
"Tapi Rey, hari ini kita sudah ada janji dengan Fanya orang yang memberi kita tugas dia sudah menunggu kita sejak tadi Rey, dan hari ini kita juga akan segera menemui target," ucap Wina mengingatkan.
"Tapi Win, gua harus tau dulu apa jawaban Ezha tentang ini, gua gak akan bisa tenang sebelum gua tau kebenarannya Wina !"
"Sabar Rey, lo tadi juga melihat sendiri saat ini Ezha sama emosinya dengan lo, kalau lo kesana sekarang itu akan sia-sia saja, karena kalau kalian sama-sama emosi sampai kapan pun tidak akan ada titik temunya Rey, yang ada hanya akan memperburuk keadaan, faham !" ucap Wina memberi nasehat.
Mendengar nasehat dari Wina setidaknya membuat Rey sedikit berfikir ada benarnya jika dia tetap bersabar dan mengatur emosinya agar tidak semakin memperburuk keadaan diantara mereka.
Akhirnya Rey dan Wina kembali pada tujuan pertama mereka yaitu menemui Fanya orang yang memberinya tugas, dan Fandy target yang sudah ditugaskan untuk Rey.
"Hai Fan," sapa Wina pada seorang wanita yang tengah duduk sendiri.
"Hai Win, Rey, dari mana saja kalian ?
lama sekali si Fandy sudah mulai kesal menunggu," jawab Fanya.
"Maaf Fan, tadi ada sedikit masalah yang harus kita selesaikan terlebih dahulu.
Hm, lalu mana Abang lo ?" tanya Rey seraya mengarahkan pandangannya keseluruh penjuru cafe.
"Fandy lagi ditoilet.
Oh ia Rey gua minta lo jangan tersinggung kalau bahasa atau cara bicara abang gua kasar, karena jujur gua juga ingin lo merubah itu," ucap Fanya.
"Ok Fan, semoga gua bisa merubah sikap dan kebiasaan abang lo yang buruk itu, lo tenang saja gua sangat jarang gagal dalam setiap tugas yang gua lakukan Fan," jelas Rey.
"Ia gua percaya sama lo Rey, karena sudah banyak sekali bukti keberhasilan lo dalam menjalankan tugas," ucap Fanya.
"Lo percayakan saja semuanya pada Rey Fan," kata Wina menambahkan.
"Sudah jangan dibahas lagi, abang gua sudah datang !" serunya seraya berbisik.
"Hai bang lo sudah kembali, lama sekali ditoiletnya.
__ADS_1
Kemari bang kenalkan ini teman-teman gua," teriak Fanya yang sudah melihat kedatangan Fandy dari kejauhan.
Sebelum berjabat tangan dan duduk ditempatnya Fandy terlebih dahulu melihat kearah Rey dan Wina secara bergantian, kemudian wajah kesalnya karena sudah menunggu lama berubah menjadi senyum yang sangat ramah untuk keduanya, sebelum akhirnya pandangan Fandy tertuju hanya pada Wina yang mulai terlihat tidak nyaman dan terus mencoba menghindari tatapan mata Fandy, Rey yang memperhatikan mereka pun ikut tersenyum kecil saat Fandy terus menatap Wina sebelum mengulurkan tangannya untuk berkenalan pada mereka berdua.