First Love BadgirL

First Love BadgirL
Episode 71


__ADS_3

"Kenapa diam ?


pastinya karena semua yang gua katakan itu benar, kan ?"


"Kalau memang benar lalu kenapa ?


tidak ada urusannya sama lo, kan ?"


"Lalu untuk apa lo masih bertanya sama gua !" Wina mulai menggunakan nada tinggi.


"Gua hanya tidak mengerti kenapa lo bersikap seperti sekarang ini Win ?"


"Sama seperti jawaban lo tadi, bukan urusan lo !"


"Ikut gua, kita harus bicara !"


Fandy menarik Wina untuk mengikutinya meskipun Wina terus memberontak tapi dia tetap mengikuti langkah kaki Fandy.


(Kenapa lo terlihat sangat marah Fan,) gumam Wina dalam hati.


"Masuk !" seru Fandy yang meminta Wina untuk masuk kedalam mobilnya.


"Gak !"


"Lo gak mau gua melakukan hal yang tidak lo inginkan disini, kan Win ?" tanya Fandy dengan nada mengancam.


"Maksudnya lo ngancam gua ?"


"Masuk Wina," Fandy mencoba melembutkan suaranya, namun Wina tetap keras kepala dan tidak menuruti keinginan Fandy.


"GUA BILANG MASUK !!!" teriak Fandy, yang mengundang mata orang yang ada disekeliling mereka saat itu, Wina yang terkejut dengan suara tinggi Fandy pun akhirnya menuruti perintah Fandy dan masuk kedalam mobilnya.


Setelah Wina masuk, Fandy juga masuk dan duduk dikursi pengemudi, ia menutup pintu mobil dengan sangat kuat, membuat Wina sedikit takut berada didekatnya.


"Lo mau bawa gua kemana Fan ?" tanya Wina, cukup lama ia menunggu namun tidak ada tanda-tanda Fandy akan menjawab pertanyaannya.


"Fan gua serius, lo mau bawa gua kemana ?


gua masih ada kelas siang ini !"


Fandy masih tetap bertahan dengan diamnya.

__ADS_1


"Fandy lo dengar gua gak !!!" Wina berteriak tepat didekat telinga Fandy yang membuat kaki Fandy secara spontan menginjak Rem sampai tubuh keduanya terhempas cukup kuat.


"Lo gila Fan !" seru Wina seraya memegang bagian dadanya untuk merasakan detak jantungnya yang berdetak sangat cepat.


Fandy terlihat tidak begitu memperdulikan apa yang dikatakan oleh Wina, ia hanya melihat kearah Wina sebentar dan kemudian kembali melajukan mobilnya, semakin cepat bahkan lebih cepat dari sebelumnya.


Sementara Wina sudah terlihat pasrah dan ia juga berhenti bertanya.


(Seharusnya gua merasa takut dengan sikap yang ia tunjukan hari ini, tapi entah kenapa gua merasa yakin kalau dia tidak akan pernah berbuat hal yang bisa membuat gua celaka, keyakinan macam apa ini sebenarnya Fan ?) tanya Wina dalam hatinya, saat ia melihat wajah Fandy yang terlihat tengah menahan amarah.


Cukup lama diperjalanan membuat Fandy kehabisan air minum, ia memutuskan untuk berhenti sebentar untuk mampir membeli air minum, ia melihat kearah Wina yang tertidur dengan kening mengerut.


Fandy yang melihatnya pun berinisiatif untuk memijat pelan keningnya agar kerutan itu menghilang, namun apa yang Fandy lakukan ternyata malah membangunkan Wina dan membuatnya marah.


Wina yang terkejut dengan tangan Fandy didahinya itu pun secara spontan menepiskan tangan Fandy dengan sangat kasar, membuat Fandy menarik nafas panjang menerima perlakuan Wina.


"Apa yang sedang coba lo lakukan ?


jangan macam-macam, gua bisa teriak dan mengumpulkan masa untuk memukuli lo !" ancam Wina.


"Lakukan, jangan hanya sekedar mengancam !" jawab Fandy.


Merasa tertantang dengan ucapan Fandy, akhirnya Wina keluar dari mobil, dan benar saja ia berteriak sangat kencang sampai membuat beberapa orang berkumpul mengelilingi mobil Fandy.


"Orang yang ada didalam sana berusaha menyakiti saya pak, saya takut, tolong bantu saya pak," ucapnya mencari perlindungan.


Sementara warga yang lain mengetuk-ngetuk kaca mobil Fandy dengan kasar untuk membuat Fandy keluar dari dalam mobilnya.


Seolah mempunyai nyawa lebih dari satu Fandy pun keluar dengan sikapnya yang cukup tenang, sampai akhirnya salah satu warga sudah mulai mendaratkan tinjunya diwajah Fandy, yang kemudian dilerai oleh warga yang lain, namun diluar dugaan sikap Fandy masih terlihat sangat tenang.


"Mas apa anda benar-benar berencana untuk menyakiti wanita ini ?" tanya warga yang tadi melerai.


"Saya tidak pernah mempunyai niat untuk menyakiti dia pak, saya hanya berusaha membuat dia sadar kalau saya sangat perduli dengan dia," jawab Fandy seraya mengarahkan pandangannya pada Wina diseberang mobil.


"Lalu kenapa wanita itu berteriak seolah anda ini akan menyakitinya ?


dan dia seolah meminta kami untuk memukuli anda," tanyanya lagi.


"Mungkin karena dia memang tidak perduli dengan saya.


Maka lakukan saja apa yang dia minta," ucap Fandy pasrah.

__ADS_1


"Ahh banyak omong !" teriak salah satu warga.


"Langsung hajar saja pak, tidak mungkin dia akan mengakui perbuatannya !" teriak warga lain.


Merasa terprovokasi warga yang lainnya pun akhirnya memukuli Fandy sampai ia tersungkur ditanah.


"Cukup !


jangan main hakim sendiri !" teriak warga yang diawal melerai.


"Mbak, kami tidak mengerti ada apa diantara kalian, tapi yang saya nilai ini adalah masalah pribadi, maka silahkan selesaikan sendiri," ucap warga itu kepada Wina.


"Yang lain bubar, kalau kalian tidak ingin berurusan sama yang berhak !" teriaknya lagi.


Para warga pun meninggalkan Fandy yang kini sudah bangun dan duduk disamping ban depan mobilnya, sementara Wina masih berdiri disisi lain mobil.


Wina tidak berusaha mendekati Fandy, ia hanya tetap diam dan mulai merasa takut dengan nasibnya setelah ini.


(Apa yang akan dia lakukan sama gua kali ini ? Wina apa yang sebenarnya lo fikirkan ?


kenapa lo membuat masalah semakin rumit !) gumam Wina.


"Masuk," pinta Fandy dengan suara lirih menahan sakit dibagian-bagian tubuhnya,Fandy juga sudah berdiri menatap Wina dari sisi lain mobil, mendengar Fandy bicara padanya membuat Wina cukup terkejut, tapi tetap menuruti untuk masuk kedalam mobil.


Didalam mobil Fandy meraih beberapa tissu dan mengelap luka-lukanya yang bisa ia gapai saja, setelah itu ia kembali melajukan mobilnya.


Sikap diam Fandy membuat Wina semakin merasa bersalah.


(Gua lebih suka lo marahin gua Fan, dari pada lo terus diam seperti ini,) gumam Wina lagi.


Tidak terlalu lama kemudian Fandy kembali menghentikan mobilnya, saat itu waktu menunjukan jam 17.20 sore, Wina menatap kagum dengan pemandangan matahari yang akan tenggelam diujung matanya dari balik kaca mobil.


"Ayo turun," ajak Fandy dengan suara sangat pelan.


Fandy berjalan terlebih dahulu mendekati bibir pantai, ia duduk dengan lutut yang ditekuk sampai dadanya, matanya terpaku pada matahari dihadapannya.


Wina mengikuti Fandy dan berdiri disamping Fandy duduk.


"Kenapa lo bawa gua kesini ?" tanya Wina.


Fandy menarik nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Wina.

__ADS_1


"Tidak ada maksud apa-apa, gua hanya penat dengan suasana kota, awalnya gua berencana kemari sendiri, namun saat gua melihat lo, tidak tau kenapa semua bagian dari fikiran gua meminta agar gua membawa lo untuk ikut.


Maaf karena membuat lo salah faham dengan semuanya, ini memang salah gua seharusnya gua meminta lo ikut dengan baik-baik bukan malah bertindak seperti seorang penculik," ucap Fandy seraya tertawa, seolah ia tengah menertawakan dirinya sendiri.


__ADS_2