
"WINA, FANDY !!!" teriak Rey dan Ezha yang terkejut melihat adegan yang saat ini tersaji dihadapan mereka.
Begitu juga dengan Wina dan Fandy yang tidak kalah terkejutnya saat mengetahui siapa yang baru saja datang, mereka saling tatap lagi lalu secara bersamaan menjauh satu sama lain dan menghindari tatapan dari Rey dan Ezha yang memandang mereka seolah mereka adalah pasangan yang baru saja ketahuan bercumbu.
"Apa yang sedang kalian lakukan ?" tanya Rey sambil tersenyum nyinyir.
"Sepertinya kita ketinggalan cerita Rey," tambah Ezha diiringi tawa dari keduanya.
"Ha-ha, lucu ya !
seharusnya gua yang tanya sama lo berdua, kenapa kalian berdua bisa sampai punya ide gila dan kepikiran untuk mengunci gua sama Fandy disini !
ini itu sudah malam Rey, lo tega banget melakukan hal ini sama gua !" ucap Wina kesal dengan apa yang dilakukan Rey dan Ezha.
Melihat Wina yang marah, Rey mendekati Wina dan merangkul tangannya.
"Hm, maafin gua ya Win, gua cuma mau bantu lo dan Fandy, dia ingin bisa lebih dekat sama lo, karena yang gua tau lo itu sangat menjaga jarak sama dia, jadi gua sama Ezha kasihan dan akhirnya melakukan hal ini, kita sama sekali gak ada niat buruk tentang ini," jawab Rey menjelaskan niatnya.
"Iya gua tau niat lo baik Rey, tapi apa lo gak fikirkan ibu gua yang pastinya khawatir nungguin gua dirumah, sementara gua gak bisa memberinya kabar karena ponsel gua lo tahan !"
"Masalah itu lo tenang saja Win, karena gua sudah memberinya kabar, dan gua bilang malam ini lo akan menginap dirumah gua.
Sudah ya jangan marah lagi, senyum dong," Rey mencoba merayu Wina, yang akhirnya Wina pun tersenyum dengan tingkah Rey.
"Jangan lakukan hal seperti ini lagi ya, ini terlalu bahaya," Wina kembali mengingatkan Rey untuk tidak lagi mengulangi apa yang ia lakukan malam itu.
"Siap, gua gak akan melakukan hal seperti ini lagi, karena buat apa juga, bukannya sekarang lo dan Fandy sudah lebih dekat bahkan lo berdua tadi hampir--" kata-kata Rey terhenti saat Wina dengan cepat menutup mulut Rey dengan tangannya.
"Ayo keluar dari sini !" seru Ezha.
Mereka semua mengangguk dan mengikuti Ezha untuk keluar dari tempat itu.
"Lo pulangnya kerumah gua ya Win, tapi diantar sama Fandy," ucap Rey yang saat itu mereka sudah ada didepan parkiran.
"Ya ampun Rey, bukannya lo pulang diantar Ezha, apa salahnya kalau gua juga ikut sama kalian," jawab Wina memprotes.
"Mohon pengertiannya ya Wina, aku sama Rey mau pacaran dulu sebelum benar-benar mengantarnya pulang, kamu gak mau kan kalau nanti kita mengabaikan kamu ?" tanya Ezha.
"Iya Win, mereka benar, kamu bisa pulang sama aku," tambah Fandy.
__ADS_1
Mendengar gaya bicara Fandy membuat Rey dan Ezha kembali saling tatap dan tertawa, melihat mereka tertawa Fandy tersipu malu sementara Wina ia terlihat kesal dan menatap tajam kearah Fandy.
"Gua gak nyangka perubahannya bisa sebesar ini," ucap Rey yang kembali menggoda keduanya.
"Diam Rey, sebaiknya lo berdua cepat pergi sana !
dan lo Fan bicaranya biasa saja, gua geli dengarnya !" gumam Wina antara dia menahan malu dan juga kesal.
Fandy terdiam sesaat karena mendengar Wina kembali kesifat awalnya.
Sementara Rey dan Ezha sudah terlebih dahulu pergi, dan Wina pun sudah siap untuk membuka pintu mobil, namun Fandy tetap berdiri mematung sedikit jauh dari mobilnya diparkir.
Melihat Fandy yang terus diam, membuat Wina kembali berteriak kearahnya.
"Mau berapa lama lagi lo tetap diam disana !
jadi mau mengantar gua pulang atau tidak !" teriak Wina.
Fandy hanya menatap Wina dari kejauhan dan menghela nafas panjang sebelum ia mulai melangkah, dengan wajah murung ia mendekati mobilnya.
"Ayo naik," ucap Fandy malas.
"Sepi banget, terlalu membosankan !" gumam Wina.
Tanpa berusaha menjawab Wina, Fandy hanya menyalakan musik dimobilnya agar Wina tidak lagi merasa sepi atau bosan, kemudian ia kembali fokus menyetir.
Keadaan ini membuat Wina semakin kesal.
"Berhenti !" teriak Wina.
Namun tetap tidak ada jawaban dari Fandy, ia hanya terus bertahan dengan diamnya dan mengabaikan permintaan Wina.
"Lo dengar gak !
gua bilang hentikan mobilnya !
gua mau turun !" ucap Wina kembali berteriak.
"Belum sampai tujuan Win, Rey akan marah sama gua kalau tau gua gak mengantarkan lo sampai depan rumahnya," jawab Fandy tetap melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Gua gak perduli !
gua bilang hentikan mobil lo !
gua bisa pulang sendiri naik kendaraan umum !
gua gak sudi semobil sama lo !" Wina terus berteriak pada Fandy, yang akhirnya Fandy mendadak menghentikan mobil itu, sampai membuat tubuh Wina terkejut.
Saat mobil itu berhenti Wina melepaskan sabuk pengaman yang melekat ditubuhnya, namun sebelum ia berhasil membuka pintu mobil, Fandy menarik kuat tangan Wina.
"Ada apa sama lo sebenarnya !
kenapa gua gak pernah bisa mengerti dengan sifat lo yang terus berubah-ubah dalam waktu singkat !
apa lagi salah gua, sampai membuat lo tidak sudi semobil sama gua !" seru Fandy yang mulai terpancing emosinya.
"Lepasin tangan gua !
gua mau turun !"
Wina terus memberontak, mencoba dengan sekuat tenaganya untuk melepaskan genggaman tangan Fandy.
"DIAM !!!" teriak Fandy yang membuat Wina tersentak dan akhirnya membuat dia berhenti memberontak.
"Bisa gak sekali saja lo berhenti berteriak sama gua !
gua itu bingung Win kenapa lo tiba-tiba marah sama gua, apa ini gara-gara gua bicara aku-kamu dan itu membuat harga diri lo jatuh didepan Rey dan Ezha, makanya lo semarah ini sama gua !
ha ?" tanya Fandy,
Wina mengunci mulutnya tidak berusaha menjawab Fandy.
"Kalau memang itu masalahnya, percaya sama gua Wina, lo gak akan pernah lagi mendengar kata-kata itu keluar dari mulut gua, gua cape ribut terus sama lo !
seperti yang sering gua bilang, gua hanya ingin dekat sama lo, tapi kalau kehadiran gua membuat emosi lo selalu terpancing maka gua akan menjauh, tapi gua mohon untuk yang terakhir kalinya biarkan gua mengantar lo pulang, setelah itu gua janji gak akan pernah mengganggu hidup lo lagi, sehingga lo bisa melanjutkan hidup lo seperti biasa," ucap Fandy seraya melonggarkan genggamannya, tanpa menunggu jawaban dari Wina, Fandy pun memasangkan sabuk pengaman Wina, dan kembali melajukan mobilnya, dengan suasana hening yang masih berlanjut.
Tidak terlalu lama kemudian mereka sampai didepan rumah Rey, Fandy tidak berbicara sepatah katapun ia hanya menunggu Wina melepaskan sendiri sabuk pengamannya dan keluar sendiri dari dalam mobilnya.
Sementara Wina juga tidak berusaha untuk turun karena ia masih bingung dengan apa yang harus ia katakan untuk mengakhiri pertemuannya malam itu dengan Fandy.
__ADS_1