First Love BadgirL

First Love BadgirL
Episode 53


__ADS_3

"Hai perkenalkan gua Fandy, abang Fanya," ucapnya seraya mengulurkan tangannya.


"Gua Rey, dan ini sahabat gua Wina," jawab Rey seraya menyambut tangan Fandy, sementara Wina hanya mengangguk dan tersenyum tanpa berjabat tangan.


Mereka berbincang untuk mencari informasi satu-satu diantara mereka agar lebih dekat.


"Rey gua permisi ketoilet sebentar," pamit Wina.


Pandangan Fandy tidak pernah lepas dari Wina dan membuat Wina semakin tidak nyaman saja dibuatnya, tidak lama kemudian Fandy mengikutinya ketoilet.


"Kalau begitu gua juga mau ketoilet," ucap Fandy setelah Wina cukup lama pergi, ia menunggu Wina tepat didepan pintu toilet wanita.


"Hai," sapanya ketika melihat Wina keluar dari toilet, yang membuat Wina terkejut olehnya.


"Eh hai Fan, kenapa lo ada disini ?


toilet laki-laki ada disebelah sana, kan ?" tanya Wina.


"Siapa bilang gua mau ketoilet, gua sengaja kali mengikuti lo, karena gua takut lo akan lama berada didalam," jawabnya.


"Ha ?


hm, yasudah Fan kalau begitu ayo kembali," ajak Wina sesaat sebelum Fandy menarik tangannya untuk menghentikan langkah Wina.


"Ada apa lagi Fan ?" tanya Wina mulai bingung.


"Tidak ada apa-apa, hanya saja gua penasaran kenapa lo terus diam dari pertama kita bertemu, kenapa ?


apa lo gak senang bertemu sama gua ?" tanya Fandy tanpa menghilangkan senyum diwajahnya.


"Siapa bilang gua gak senang ?" tanya Wina.


"Baru saja gua yang bilang,"


"Sudahlah ayo kembali Fan, tidak enak Rey dan Fanya pasti sudah menunggu kita," Wina menjawab hanya seperlunya saja.


"Ok ayo kembali, tapi sebelum itu jawab dulu pertanyaan gua tadi,"


"Hm, baiklah gua jawab, tapi lepaskan dulu tangan gua gak enak kalau dilihat orang," pinta Wina.


"Yasudah sekarang jawab," ucapnya seraya melepaskan tangan Wina.


"Sebenarnya bukan karena tidak senang, hanya saja gua kurang merasa nyaman karena lo terus melihat kearah gua," jawab Wina mulai ketus.


"Kenapa tidak nyaman ?

__ADS_1


apa alasannya ?" tanya Fandy lagi.


"Ya kalau gua bilang gua tidak nyaman, itu artinya tidak nyaman dan tidak ada alasan untuk itu, lo bawel banyak tanya !


sudahlah gua mau kembali kesana, terserah lo kalau gak mau ikut, itu urusan lo !" seru Wina.


Alih-alih marah mendengar jawaban Wina Fandy malah tersenyum kagum pada Wina yang akhirnya berjalan kembali untuk bergabung dengan Rey dan Fanya, ia meninggalkan Fandy yang masih berdiri menatapnya dengan senyum yang masih belum menghilang dari wajah tampannya.


"Win, kenapa lama sekali ?" tanya Rey.


"Tadi ditoiletnya lumayan antri Rey, maaf sudah buat kalian menunggu, ayo mulai makan," jawab Wina.


Tidak lama dari kedatangan Wina, Fandy juga kembali duduk dihadapan mereka.


Mereka pun kembali berbincang seraya memakan pesanan makanan yang sudah datang.


Hari sudah cukup sore, dan waktunya mereka untuk kembali ke aktivitas mereka masing-masing. Tapi sebelum pergi Fandy meminta Rey untuk memberikan nomor ponselnya, agar bisa bertemu lagi dilain waktu,


Fandy juga menatap Wina yang terus berusaha menghindarinya bahkan Wina terlihat tidak begitu memperdulikannya.


Diperjalanan setelah Rey mengantarkan Wina pulang, ia memutar arah jalannya menuju rumah Ezha untuk mencari tau kebenaran ucapan Intan, emosi dan rasa kesal yang sudah berjam-jam lamanya ia tahan kini mulai mendidih lagi dikepalanya.


Setelah cukup lama diperjalanan akhirnya ia sampai juga didepan rumah Ezha, Rey mengetuk pintu rumah itu tidak lama ada yang membukakannya pintu dan ternyata dia adalah kakak dari Ezha.


"Hai Rey," sapanya saat pintu terbuka.


hm apa Ezha ada dirumah kak ?" tanya Rey.


"Oh Ezha, dia ada dikamarnya Rey, dari sepulangnya tadi sampai sekarang dia belum keluar-keluar, mau aku panggilkan ?" tanyanya.


"Ia, tolong ya kak, maaf merepotkan," jawab Rey.


Rey masuk dan duduk diruang tamu rumah Ezha, sementara kakak nya memanggil Ezha untuk keluar dan menemui Rey, tidak terlalu lama Ezha pun datang menghampiri tempat Rey duduk.


"Rey, kamu datang ?


ada apa ?


apa kamu sudah bisa diajak untuk bicara baik-baik ?


dan mau mendengarkan penjelasanku ?" tanya Ezha yang masih berdiri menatap Rey, Rey pun ikut berdiri dengan kekesalan yang sudah tidak mampu lagi ia tahan saat melihat sikap Ezha yang seolah menganggap masalah yang mereka hadapi itu sepele.


Akhirnya Rey mendaratkan telapak tangannya diwajah Ezha dengan sisa-sisa tenaganya, sementara Ezha hanya diam dan berusaha sabar menerima tamparan diwajahnya dan kembali menatap Rey dengan tenang.


"Aku kesini bukan untuk basa-basi Zha,

__ADS_1


tujuan aku kesini untuk memperjelas hubungan antara aku kamu dan Intan !" tegas Rey.


"Maksud kamu ?" tanya Ezha yang seperti orang bingung.


"Langsung saja Zha jawab dengan jujur, apa yang kamu lakukan malam itu dirumah Intan sampai kamu lupa memberi aku kabar, bahkan mengabaikan pesan dari aku ?" tanya Rey lekat menatap mata Ezha yang tiba-tiba menunduk dan berusaha menghindari tatapan Rey.


"Rey, tenang dulu aku akan menceritakan semua yang terjadi malam itu," jawab Ezha.


"Jadi kamu mengakui kalau malam itu memang benar-benar ada yang terjadi diantara kalian ?


jawab langsung saja Ezha !" teriak Rey.


"Kenapa diam ?


kalau kamu tidak berusaha memulai pembicaraan, biar aku saja yang memulainya,


jadi apa benar kamu yang terlebih dahulu mencium Intan ?


bahkan kalian melakukan hal yang lebih dari sekedar hanya berciuman ?" tanya Rey dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


Mendengar apa yang Rey katakan membuat Ezha kembali terdiam dan tidak lagi berusaha mengelak atau menjawabnya.


"Kenapa kamu terus diam Ezha !


jawab pertanyaan aku !


apa sangat susah untuk kamu menjawab ia atau tidak ?


kalau kamu diam, aku akan anggap jawaban kamu adalah ia !" ucap Rey terus membentak.


"Rey, dengar dulu !


aku tidak akan menyangkal apa yang kamu ucapkan, karena memang benar adanya !


tapi kenyataannya yang sebenarnya bukan aku yang memulainya Rey !" jawab Ezha menegaskan.


"Ya, tapi pada intinya memang benarkan kalian melakukannya !"


"Iya tapi bukan aku Rey yang memulainya, dan gak ada hal lain lagi yang terjadi selain itu, kamu harus percaya sama aku Rey, aku bicara sesuai dengan apa yang aku lakukan malam itu," bujuk Ezha seraya meraih jemari tangan Rey dan menggenggamnya dengan erat.


"Kenapa aku harus percaya sama kamu Zha ?


kenapa !!!


aku mengizinkan kamu datang kerumahnya karena aku percaya kamu gak akan macam-macam, tapi kenyataannya sekarang apa !" seru Rey menghempaskan genggaman tangan Ezha.

__ADS_1


Kali ini emosi Rey semakin tidak bisa ditangani lagi oleh Ezha, Rey terus menangis, berteriak dan membentak Ezha tanpa henti, ia takut orang-orang dirumahnya akan mendengar pertengkaran diantara mereka, namun semakin Ezha berusaha meredam emosinya, Rey terus saja memancingnya.


__ADS_2